Kurniawan Dwi Yulianto Berkirpah Lagi di Eropa: Kembali Ke Italia Dengan Status Baru

·Bacaan 2 menit

Bola.com, Jakarta - Nama Kurniawan Dwi Yulianto kembali jadi sorotan usai membenarkan kabar dirinya menjadi asisten pelatih tim Serie B Liga Italia, Como 1907 di channel Youtube Akurasi TV.

Bagi pria kelahiran 13 Juli 1976 ini, berkiprah di Eropa, khususnya di Negeri Pizza merupakan kesempatan kedua dalam perjalanan panjang kariernya di sepak bola.

Menurut Kurniawan, ia sudah dihubungi pihak Como sejak masih menjadi pelatih tim Liga Malaysia, Sabah FA.

"Enggak kebayang, enggak punya mimpi juga. Tahun lalu saat mereka promosi ke Serie B, saya dihubungi Pak Mirwan dari Mola yang minta saya gabung karena mau pelatih dari Indonesia untuk jadi asisten," ungkap Kurniawan

Hanya saja Kurniawan menyebut dirinya tidak bisa langsung bergabung menjadi asisten pelatih di Como. Sampai sekarang ia masih menunggu izin kerja atau work permit.

"Work permit di Italia lagi enggak ngeluarin, jadi saya masih menunggu. Como ini satu program dengan Garuda Select. Jadi sekarang saya lagi tunggu Visa di Inggris untuk diperbantukan dulu di sana," kata Kurniawan.

Kurniawan pun merenda asa saat berkarier di Italia nanti. Ia berharap bisa mendapatkan lisensi kepelatihan UEFA Pro saat menjadi asisten pelatih Como.

"Jujur, saya mau belajar banyak. Bagi saya pengalaman adalah nilai plus dalam sepak bola," kata Kurniawan Dwi Yulianto.

Rekam Jejak Kurniawan di Eropa

Pertandingan pertama pun sangat memuaskan. Kurniawan Dwi Yulianto dan Miro Baldo Bento menjadi pilihan utama lini depan Timnas Indonesia dalam pertandingan tersebut. (Foto: AFP/Joseph Barrak)
Pertandingan pertama pun sangat memuaskan. Kurniawan Dwi Yulianto dan Miro Baldo Bento menjadi pilihan utama lini depan Timnas Indonesia dalam pertandingan tersebut. (Foto: AFP/Joseph Barrak)

Layaknya pelakuk pesepak bola lainnya, perjalanan karier Kurniawan Dwi Yulianto juga mengalami pasang surut.

Saat berguru di Italia bersama PSSI Primavera pada 1993, Kurniawan digadang-gadang jadi simbol kebangkitan sepak bola Indonesia. Penampilannya di kompetisi Primavera yang dijadikan tolak ukur pemain muda Italia terbilang lumayan.

Pada musim pertamanya, ia masuk dalam daftar top skorer kompetisi. Hasil yang membuatnya masuk dalam radar tim pelatih Sampdoria, klub elite di Italia ketika itu.

Pada 1995, berdasarkan rekomendasi Sampdoria, Kuniawan bergabung FC Luzern, klub yang berlaga di kompetisi kasta tertinggi Swiss. Ia dinilai butuh jam terbang untuk mematangkan kemampuannya.

Sampdoria

Staf pelatih Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto, saat sesi latihan di Stadion Wibawa Mukti, Jawa Barat, Jumat (02/11/2018). Latihan tersebut dalam rangka persiapan jelang laga Piala AFF 2018.  (Bola.com/M Iqbal Ichsan)
Staf pelatih Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto, saat sesi latihan di Stadion Wibawa Mukti, Jawa Barat, Jumat (02/11/2018). Latihan tersebut dalam rangka persiapan jelang laga Piala AFF 2018. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Apalagi lini depan sudah dihuni Roberto Mancini, Enrico Chiesa dan Filippo Maniero. Kprah Kurniawan dalam semusim bersama FC Luzern terbilang lumayan untuk usianya yang belum genap 19 tahun saat itu.

Ia tercatat tampil delapan kali di level senior. Ia pun kerap jadi pemain utama pada kompetisi U-19 Swiss. Pria yang biasa dipanggil Si Kurus ini disebut pernah tampil bersama FC Luzern di Piala Intertoto, ajang yang merupakan kualifikasi Piala UEFA.

Sayangnya di pengujung kompetisi, penampilan Kurniawan menurun karena akumulasi masalah yang menderanya, di antaranya cedera dan pergaulan yang salah.

Selepas dari FC Luzern, Kurniawan sempat mengikuti latihan pramusim Sampdoria pada 1996. Tapi, ia tiba-tiba memutuskan pulang ke Indonesia.

Intip Posisi Tim Favoritmu

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel