Kursi Kakek dan Steve Job, Alasan Aruma Ambil Kuliah Desain Produk di Tengah Aktifitas Bermusiknya

Fimela.com, Jakarta Di tengah kesibukannya meretas karier bernyanyi di industri hiburan, solois pendatang baru, Aruma ternyata masih menganggap penting jenjang pendidikan yang ditapaki. Maka dari itu, di samping mempersiapkan karya musik bersama label Sony Music Entertainment Indonesia, Aruma tetap memprioritaskan kegiatan belajarnya.

Saat ini, Aruma terdaftar sebagai mahasiswa Desain Produk di Institut Teknologi Bandung. Meski tidak mudah, namun sebisa mungkin ia tetap berusaha untuk membagi waktu antara kuliah dan bermusik tanpa mengesampingkan salah satunya.

"Sekolah itu penting banget, apalagi di negara berkembang seperti kita ini. Mencerdaskan diri itu seperti strategi bertahan hidup. Mumpung aku keterima di sini (ITB), aku manfaatkan sebaik mungkin dan aku harus benar-benar pandai mengatur waktu untuk kegiatan bermusikku," kata Aruma dalam keterangannya.

Terinspirasi

<p>Aruma [Foto/Istimewa]</p>

Aruma [Foto/Istimewa]

Bukan tanpa alasan, keputusan Aruma untuk tetap menjalani pendidikan di tengah karier bermusiknya yang sedang menanjak didasari oleh keluarga besarnya. Alasan mengambil jurusan Desain Produk pun tak terlepas dari kentalnya jiwa seni di tengah keluarga.

"Kenapa aku ambil Desain produk, karena aku mengidolakan designer industry modern Charles dan Ray Eames. Ceritanya waktu kecil ada kursi yang cantik banget dirumah kakek aku, aku selalu memandangi kursi tersebut sampai akhirnya diperbolehkan untuk dibawa pulang," paparnya.

"Satu lagi, aku sangat menyukai produk gadget dari Apple. Produknya cantik dilihat, menyenangkan ketika dipergunakan dan fungsional. Terutama era Steve Job,” lanjutnya.

Masih Asing

Aruma
Aruma

Lebih lanjut, alasan lain Aruma memutuskan mengambil jurusan Desain Produk karena melihat peluang yang ada. Menurutnya, saat ini di Indonesia masih sedikit orang yang menggeluti bidang tersebut dan dirinya berniat untuk menjadi salah satu diantara segelintir yang ada.

"Kita di sini cukup familiar dengan desainer mulai dari desainer grafis, designer fashion ataupun arsitek. Tapi Desainer produk itu sepertinya masih asing, mungkin itu pemicu utamanya. Pasti lebih susah sih, tapi kalau nggak dicoba nanti penasaran," pungkasnya.