Kurva COVID-19 Melandai, Ganjar Pranowo: Tiada Mudik Bagimu

Hardani Triyoga
·Bacaan 2 menit

VIVA – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyampaikan kebijakan larangan mudik saat Lebaran Idul Fitri 2021 sebagai upaya untuk mencegah lonjakan kasus COVID-19. Dia mengingatkan, jangan sampai di Tanah Air terjadi lonjakan kasus seperti di India.

Menurut Ganjar, kasus aktif COVID-19 di Indonesia saat ini sudah melandai karena cenderung mengalami penurunan. Dia mengibaratkan, kasus COVID-19 di Tanah Air sudah mendekati garis finish.

"Garis finish sudah kelihatan di depan. Jika, kita lengah dan tidak disiplin, kita akan balik lagi, bukan ke arah finish melainkan ke arah penyesalan," ujar Ganjar dalam webinar yang diselengarakan Komite Pengendalian COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) dan Kominfo, di Semarang, Rabu.

Bagi Ganjar, kebijakan larangan mudik yang diberlakukan pemerintah harus dilihat secara positif. Momentum lebaran diharapkan bukan jadi lonjakan kasus. "Istilahnya, tiada mudik bagimu," ujar politikus PDIP tersebut.

Dia menekankan, tak ada masalah jika tak mudik saat hari raya Lebaran Idul Fitri selama dua tahun. Menurut dia, sowan dengan keluarga maupun orang tua bisa dilakukan bukan hanya saat mudik hari raya.

"Kalau konteksnya mudik hari raya maka beramai-ramai pulang ke kampung menjelang lebaran. Ada jutaan orang akan pulang. Ini masih pandemi, loh," tuturnya.

Pun, Kabag Ops Korlantas Polri Kombes Pol. Rudi Anariksawan menjelaskan pihaknya sudah mengantisipasi potensi aktivitas mudik meski dilarang. Ia bilang antisipasi itu seperti dengan pencegatan di jalur jalan tol, jalan arteri, dan jalan alternatif. "Kami juga melakukan pencegatan selama 24 jam di jalan-jalan tikus," tutur Rudi.

Namun, ia mengingatkan, pencegatan ini berlaku untuk kendaraan roda empat dan kendaraan roda dua. Dengan demikian, jika ada masyarakat yang kedapatan mudik maka akan disuruh putar balik untuk kembali ke asal.

“Kami belajar dari hari raya tahun lalu, jika pemudik lolos di pos pencegatan pertama, maka tidak akan lolos di pos pencegatan selanjutnya,” sebutnya.

Sementara, Ketua Bidang Data dan IT Satuan Gugus Tugas Penanganan COVID-19, Dewi Nur Aisyah menjelaskan ada korelasi kuat antara mobilitas dengan libur panjang yang berpotensi meningkatkan kasus aktif COVID-19. Dia menyampaikan, libur panjang sebelumnya mengakibatkan kenaikan kasus COVID-19 di Indonesia.

Dia menyebut efek libur panjang biasanya terlihat 10-14 hari setelah libur panjang yaitu peningkatan kasus COVID-19. "Dampak kenaikan kasus terlihat minimal selama 3 pekan, setelah libur panjang," jelas Dewi.

Dewi pun memberikan contoh adanya kenaikan kasus COVID-19 pada libur Idul Fitri 22-25 Mei tahun 2020. Aktivitas liburan panjang itu berdampak kenaikan kasus pada 6-28 Juni 2020.

Dari data diketahui, ada kenaikan rata-rata jumlah kasus harian setelah Idul Fitri 2020 sebanyak 68 persen-93 persen. "Perkembangan angka kematian cenderung mengikuti jumlah penambahan kasus, semakin tinggi penambahan jumlah kasus berisiko meningkatkan jumlah kematian," tuturnya. (Ant)