Kurva Penyebaran Covid-19 Naik Tajam, Sri Mulyani Waspadai Dampak ke Pemulihan Ekonomi

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, tren pemulihan ekonomi yang ada saat ini harus dikendalikan. Penyebaran virus Covid-19 masih harus diwaspadai untuk menjaga pemulihan ekonomi.

"Jadi ini harus kita waspada di kuartal II ini saja sampai Juni, tren ini harus bisa dikendalikan karena kalau tidak akan menjadi kondisi seperti Maret lalu, dimana kita harus melakukan pengetatan lagi," kata Sri Mulyani rapat kerja dengan Komisi XI DPR mengenai RAPBN 2022 pada Rabu (2/6/2021).

"Ini akan memengaruhi kegiatan ekonomi dan proyeksi ekonomi yang kita buat, serta tren-tren indikator yang tadi telah saya bacakan, nanti akan sangat mudah dipengaruhi oleh sentimen ini," tambah dia.

Sri Mulyani mengungkapkan bahwa Covid-19 adalah hal yang harus diwaspadai. Kenaikan jumlah kasus harian, meskipun diantisipasi sesudah Lebaran dan pasti akan terjadi kenaikan. Saat ini, ada 5.797 kasus harian moving average.

Hal lain yang harus diwaspadai adalah tingkat keterisian di Wisma Atlet yang saat ini mengalami lonjakan dari 15 persen terendah pada Mei awal atau pertengahan, kini menjadi 33,6 persen.

Kasus Covid-19 di beberapa daerah di Sumatera dan Kalimantan juga mengalami kenaikan yang cukup pesat.

"kita lihat Riau kasus harian kurvanya tajam sekali, Aceh, Kepri, Sumbar dan Babel. Kalimantan Barat juga menunjukkan kenaikan. Di Jawa, kita lihat kenaikan di Jateng, Jabar walau relatif stabil tapi di 1.000. Tentu tadi indikator di Wisma Atlet harus kita waspadai," tutur Sri Mulyani.

Pemerintah saat ini terus meningkatkan vaksinasi Covid-19. Indonesia per 30 Mei 2021 tercatat berada di peringkat ke-11 untuk vaksinasi global dengan jumlah 26,89 juta.

Ekonom: Tanda Perbaikan Ekonomi Sudah Ada Sejak Vaksinasi Diumumkan

Pelaku usaha menerima vaksin Covid-19 dosis kedua di Mall Tamrin City, Jakarta, Rabu (2/6/2021). Vaksinasi tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah mematok target pertumbuhan ekonomi kembali positif sekitar 4,5 -5,3 persen di akhir 2021 ini. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Pelaku usaha menerima vaksin Covid-19 dosis kedua di Mall Tamrin City, Jakarta, Rabu (2/6/2021). Vaksinasi tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah mematok target pertumbuhan ekonomi kembali positif sekitar 4,5 -5,3 persen di akhir 2021 ini. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sebelumnya, Senior Ekonom INDEF, Aviliani menyebut tanda-tanda perbaikan ekonomi sudah dimulai sejak pemerintah mengumumkan rencana vaksinasi massal. Tercermin dari pertumbuhan sektor ritel dan peningkatan produksi di dunia usaha menjelang bulan Ramadan.

"Pertumbuhan ritel baik ketika vaksin baru diumumkan dan dan dunia usaha meningkatkan produksinya karena ada lebaran," kata Aviliani dalam Peluncuran Buku Kebijakan Makroprudensial di Indonesia, Jakarta, Jumat (28/5/2021).

Hal ini menunjukkan tingkat keprcayaan masyarakat sudah muncul. Dalam kondisi ini penting bagi pemerintah untuk tidak membuat kebijakan yang melahirkan sikap pesimis dari masyarakat. Meskipun jumlah tabungan di bawah Rp 100 juta dan di atas Rp 5 miliar masih tinggi.

"Aspek kepercayaan masyarakat sudah muncul maka pemerintah jangan buat kebijakan yang pesimis," kata dia.

Di sisi lain, dalam pembiayaan korporasi di perbankan masih belum menunjukkan peningkatan. Dalam hal ini dia mengingatkan sumber pembiayaan korporasi atau dunia usaha saat ini bukan hanya dari perbankan.

Melainkan bisa melalui pasar modal perusahaan fintech sebagai sumber pembiayaan baru. Apalagi tidak sedikit orang yang justru keluar dari perbankan untuk menanamkan modal di pasar obligasi.

"Sumber pembiayaan korporasi ini bukan hanya dari perbakan tapi juga bisa dari pasar modal, obligasi atau perusahaan fintech," kata dia.

Permintaan Produk

Selain itu, beberapa perusahaan, khususnya sektor komoditas memiliki sejumlah dana yang baik. Sehingga mereka tidak membutuhkan pembiayaan. Hal ini tidka terlepas dari permintaan produk yang masih pesimis.

"Mereka ini enggak butuh (pembiayaan) karena masih baik dan pesimis akan bisnisnya ke depan," kata dia.

Untuk itu Aviliani menyarankan kepada pemerintah untuk mulai merubah gaya komunikasi kepada masyarakat terkait pandemi. Masyarakat harus bisa memahami dan terbiasa dengan virus corona agar aktivitas ekonomi tidak selalu menunggu virusnya hilang.

"Harus ada sosiaslisai ke publik, ke depan kita harus hidup berdampingan dengan covid-19. Enggak bisa nunggu kapan baiknya, makanya harus selalu ada inisitif," kata dia mengakhiri.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel