KWT Putri Manunggal Kulon Progo produksi "Superbram"

·Bacaan 3 menit

Kelompok Wanita Tani Putri Manunggal Desa Srikayangan, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, memproduksi bawang merah goreng dengan berbagai cita rasa dalam rangka meningkatkan nilai jual petani di wilayah ini.

Ketua Wanita Tani (KWT) Putri Manunggal Desa Srikayangan Dwi Nurani di Kulon Progo, Rabu, mengatakan usaha membuat bawang merah goreng dengan nama "Superbaram" berawal pada 2018 saat harga bawang merah di tingkat petani sangat rendah dan tidak laku di pasaran.

"Desa Srikayangan terkenal sebagai sentra bawang merah di Kulon Progo. Harga bawang merah ini sangat tergantung pada pasar. Pada saat harga murah, bawang merah sangat sulit dijual, sehingga berpotensi keropos dan petani akan merugi. Untuk itu, kami memanfaatkan potensi hasil panen bawang merah diolah menjadi bawang merah goreng," lata Dwi Nurani.

Ia mengatakan pada masa pandemi COVID-19 ini, permintaan bawang merah goreng sangat tinggi, sehingga kelompoknya mampu memproduksi 10 kilogram per hari. Kelompoknya menjualnya daring dan media sosial, serta dititipkan di toko modern, dan dijual di salah satu gerai UMKM di Bandara Internasional Yogyakarta.

"Permintaan banyak dari penjualan secara daring. Sehingga uang dapat diputar secara langsung untuk membeli bahan baku kembali," katanya.

Anggota KWT Putri Manunggal Srikayangan Nuryahayati mengatakan kemasan bawang merah goreng mulai dari 75 gram hingga 200 gram. Harganya murah tergantung dari kemasan, mulai dari Rp20 ribu hingga Rp45 ribu. Konsumen juga bisa membeli dalam kemasan curah dengan harga Rp150 ribu per kilogram.

KWT Putri Manunggal memproduksi bawang merah goreng tiga varian rasa Superbram, mulai dari original, crispy dan pedas.

Dari ketiga rasa ini, konsumen paling menyukai rasa original yang biasanya dipakai untuk bahan tambahan memasak atau menambah kenikmatan saat makan.

Ia mengakui pelaku usaha makanan olahan untuk bisa berkreasi dan berinovasi agar mampu menangkap peluang yang ada, sehingga produk buatannya mampu bersaing di pasaran.

"Bawang merah goreng produksi KWT Putri Manunggal berbeda dengan produk bawang merah dari daerah lain, baik dari rasa dan bentuknya," katanya.

Selama ini, ujar Nurhayati, kendala yang dihadapi dalam produksi Superbram secara umum tidak ada. Namun demikian saat harga bahan baku mahal, maka keuntungan yang diambil lebih sedikit.

Demi menjaga kualitas Superbram, KWT Putri Manunggal memakai alat spinner yang bertujuan untuk mengeringkan minyak dari bawang goreng. Sehingga saat dikemas ke dalam kemasan pouch dan toples, tidak ada minyak yang mengendap di bagian bawah kemasan.

"Itu yang kami jaga, untuk membedakan kualitasnya dengan bawang goreng lain," katanya.

Sementara itu, Seksi Pemasaran KWT Putri Manunggal, Agus Jiyono mengatakan saat ini Superbram sudah banyak dijual di berbagai toko swalayan di Kulon Progo, salah satunya di Tomira. Selain itu, Superbram juga sudah merambah di Bandara YIA, baik dalam Galeri Kotagede dan Tomira disana.

"Superbram juga dijual di beberapa Toko besar di DIY. Kami juga sudah beberapa kali mengirim Superbram ke warga perantauan Kulon Progo di Jabodetabek melalui Gayeng Regeng Blonjo Bareng," ungkap Agus.

Wakil Bupati Kulon Progo Fajar Gegana mendorong petani dan KWT berinovasi mengolah potensi lokal untuk meningkatkan nilai jual dan menambah penghasilan. Pemkab Kulon Progo melalui Dinas Koperasi dan UKM, dan Disperindag akan membantu dalam promosi. Dirinya juga sering mempromosikan produk lokal melalui media sosial pribadi, salah satunya Superbram.

"Kami juga turut mempromosikan Superbram melalui media sosial, dengan harapan kolega yang mengikuti media sosial memesan produk KWT Putri Manunggal," kata Fajar.

Baca juga: Mendag lepas ekspor 20 ton bawang merah goreng ke Malaysia

Baca juga: Pulihkan ekonomi pascabencana, ACT ajak warga Sigi usaha bawang goreng

Baca juga: Permintaan bawang goreng tinggi di Dubai-Hongkong

#GernasBBI