Laba Bersih Alkindo Naratama Naik 63,6 Persen

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Laba bersih PT Alkindo Naratama Tbk (ALDO), emiten yang bergerak pada bisnis kertas dan bahan kimia yang terintegrasi meningkat 63,6 persen menjadi Rp 30,1 miliar pada semester I 2021. Sebelumnya pada periode yang sama 2020, laba perseroan tercatat Rp 18,4 miliar.

Kenaikan laba bersih ini merupakan kontribusi dari peningkatan 28,9 persen penjualan Alkindo menjadi Rp 669,8 miliar, dari sebelumnya Rp 519,6 miliar pada semester I 2020.

Pencapaian kinerja positif ini didukung oleh tren pemakaian kertas coklat oleh berbagai macam industri yang diproduksi oleh PT Eco Paper Indonesia (ECO) yang diakuisisi Alkindo pada 2019.

Presiden Direktur Alkindo H. Sutanto menyatakan, pencapaian ini tidak lepas dari peningkatan permintaan khususnya kertas coklat oleh corrugater untuk membuat dus atau packaging sebagai bahan baku dari industri packaging, yang mendukung sektor FMCG dan online business.

Selain itu, pencapaian ini juga didukung dari strategi pengembangan usaha Alkindo untuk masuk ke pasar tas berbahan baku kertas atau paper bag serta kemasan ke sektor FMCG, food and beverages (F&B), dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang tumbuh signifikan di masa pandemi.

Kontribusi terbesar penjualan Alkindo berasal dari segmen Paper yaitu mencapai Rp264,9 miliar, atau sebesar 40 persen dari total penjualan perseroan. Penjualan tersebut meningkat 44,2 persen dibandingkan periode sama pada 2020 (year on year/YoY) sebesar Rp183,7 miliar.

Kontribusi penjualan lainnya bersumber dari segmen Kertas Konversi, yang menyumbang Rp 181,8 miliar, atau 27 persen dari total penjualan perseroan. Penjualan tersebut tumbuh 31,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp138,1 miliar.

Selain itu, Alkindo juga memperoleh tambahan penjualan dari anak usaha PT Swisstex Naratama Indonesia (Swisstex) yang bergerak pada segmen kimia tekstil sebesar Rp111,2 miliar, sedangkan penjualan segmen Polimer dari anak usaha PT Alfa Polimer Indonesia (ALFA) tercatat mengalami peningkatan sebesar 46,3 persen YoY atau mencapai Rp111,9 miliar.

“Untuk menangkap peluang yang ada saat ini, kami tengah memasang mesin kedua untuk Brown Paper Manufacturer (ECO),” kata Sutanto.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Target Perseroan

Pabrik PT Alkindo Naratama Tbk (Dok: PT Alkindo Naratama Tbk)
Pabrik PT Alkindo Naratama Tbk (Dok: PT Alkindo Naratama Tbk)

Mesin tersebut, kata dia, ditargetkan masuk tahap commissioning pada kuartal III 2022. Setelah mesin terpasang, produksinya ditargetkan naik tiga kali lipat menjadi 225.000 ton/per tahun.

Prospek positif lainnya juga terdapat pada bisnis anak usaha ALFA yang bergerak pada bisnis water-based polymer, yang tumbuh 46 persen YoY. Pertumbuhan ini sejalan dengan meningkatnya permintaan produk-produk furnitur dan mabel di pasar dalam negeri dan luar negeri, terutama di Amerika Serikat.

Pertumbuhan bisnis Alkindo akan didominasi oleh segmen kertas karena meningkatnya tren belanja online dan food delivery yang mendorong penggunaan packaging yang lebih sustainable. Selain itu, dukungan Pemerintah melalui aturan larangan penggunaan tas plastik juga menguntungkan perseroan.

"Target kami penjualan di akhir 2021 ini bisa naik 30 persen, karena itu kami terus melanjutkan peningkatan produksi serta penambangan produk untuk mencapai target itu,” kata dia.

Bakal Gelar Rights Issue

Pekerja tengah melintas di bawah papan pergerakan IHSG usai penutupan perdagangan pasar modal 2017 di BEI, Jakarta, Jumat (29/12). Perdagangan bursa saham 2017 ditutup pada level 6.355,65 poin. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pekerja tengah melintas di bawah papan pergerakan IHSG usai penutupan perdagangan pasar modal 2017 di BEI, Jakarta, Jumat (29/12). Perdagangan bursa saham 2017 ditutup pada level 6.355,65 poin. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Alkindo juga berencana akan melakukan Penawaran Umum Terbatas (PUT) II untuk pembelian saham Swisstex dan ALFA masing-masing dari 51 persen menjadi 99 persen.

Pembelian saham ini akan dilakukan melalui mekanisme pertukaran saham (inbreng) dan tunai dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).

"Peningkatan kepemilikan saham pada Swisstex dan ALFA diharapkan dapat meningkatkan kinerja keuangan kami,” kata Sutanto.

Pada penutupan perdagangan Kamis, 2 September 2021, saham ALDO naik 6,85 persen menjadi Rp 780 per saham. Saham ALDO berada di level tertinggi Rp 780 dan terendah Rp 730 per saham. Total frekuensi perdagangan 1.607 kali dengan volume perdagangan 117.124. Nilai transaksi Rp 8,9 miliar.

Reporter: Elizabeth Brahmana

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel