Laba Bersih Bank Mega 2020 Tumbuh 50 Persen Jadi Rp3,01 Triliun

Fikri Halim, Mohammad Yudha Prasetya
·Bacaan 2 menit

VIVA – PT Bank Mega Tbk melaporkan performa positif di tengah tantangan perekonomian sepanjang tahun 2020 lalu karena pandemi COVID-19 di dunia.

Direktur Utama Bank Mega, Kostaman Thayib menyatakan, dalam menyikapi kondisi makro ekonomi tahun 2020 yang penuh tantangan, pihaknya tetap optimis dan berhasil mengubah tantangan tersebut menjadi peluang.

Hasilnya, Bank Mega berhasil untuk tetap tumbuh secara signifikan dan berkesinambungan. Bahkan, lanjut dia, dengan indikator utama keuangan yang berada di atas rata-rata industri perbankan Tanah Air di tahun 2020.

"Laba setelah pajak tercatat sebesar Rp3,01 triliun atau tumbuh sebesar 50 persen jika dibandingkan dengan kinerja periode di tahun 2019 sebesar Rp2 triliun," kata Kostaman dalam telekonferensi, Rabu 17 Februari 2021.

Baca juga: Jalan Tol Cengkareng-Batuceper-Kunciran Segera Beroperasi

Kenaikan laba ini tercatat di atas rata-rata industri perbankan per November 2020 yang justru mengalami minus hingga 31 persen. Pertumbuhan laba tersebut diperoleh dari pendapatan bunga bersih (Net Interest Income) yang tercatat naik 9 persen menjadi Rp3,9 triliun dari posisi tahun 2019 yang hanya sebesar Rp3,58 triliun.

Selain itu, Kostaman menjelaskan bahwa 'fee based income' juga turut andil dalam menyumbang kenaikan laba, di mana terjadi kenaikan sebesar 26 persen menjadi Rp2,9 triliun dari posisi 2019 yang hanya mencapai sebesar Rp2,3 triliun. Sementara total aset mencapai Rp112,2 triliun, naik 11 persen dibanding 2019 yang hanya Rp100,8 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) pun tercatat naik 9 persen menjadi Rp79,19 triliun, dari posisi tahun 2019 sebesar Rp72,8 triliun.

Dari sisi komposisi, deposito masih mendominasi DPK yaitu sebesar 72 persen, disusul oleh tabungan sebesar 17 persen, dan giro sebesar 11 persen. Kelesuan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi mengakibatkan kredit kepada pihak ketiga Bank Mega mengalami pertumbuhan negatif sebesar minus 6 persen menjadi Rp48,5 triliun, dari Rp51,0 triliun pada tahun 2019.

"Secara komposisi, kredit korporasi masih tumbuh positif dibandingkan segmen lainnya yaitu sebesar 55 persen menjadi Rp26,2 triliun," ujar Kostaman.

Dia mengatakan, keberhasilan mengendalikan beban operasional mengakibatkan perbaikan Rasio Beban Operasional dibandingkan Pendapatan Operasional (BOPO) semakin membaik. Yaitu menjadi sebesar 65,9 persen, dibanding posisi 2019 yang sebesar 74,10 persen.

Hal ini diakui Kostaman merupakan dampak dari inovasi digital dan otomasi yang telah diberlakukan sejak dua tahun terakhir, baik untuk back office maupun front office. Permodalan Bank Mega pun menurutnya juga semakin kokoh, yang tercermin dari rasio permodalan (capital adequacy ratio (CAR) sebesar 31,04 persen atau meningkat dari 2019 yang hanya sebesar 23,68 persen.

"Rasio permodalan yang kuat merupakan hal penting untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan," ujarnya.