Labfor Polri Ungkap Alasan Api Hanguskan Gedung Kejagung

Bayu Nugraha, Ahmad Farhan Faris
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kepala Pusat Laboratorium Forensik Polri, Brigjen Ahmad Haydar menjelaskan kenapa api dari atas bisa menghabiskan Gedung Utama Kejaksaan Agung pada Sabtu, 22 Agustus 2020. Ia memahami publik berpikir bahwa api biasanya dari bawah itu naik menjalar ke atas. Tapi, Gedung Kejaksaan Agung yang terbakar ini malah sebaliknya.

Menurut dia, tim penyidik sudah beberapa kali melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di Gedung Utama Kejaksaan Agung yang terbakar. Dari olah TKP, ditemukan ada beberapa abu arang, baik dari lantai dasar hingga lantai 6 Gedung Utama Kejaksaan Agung yang terbakar.

“Kita temukan ada titik kandungan abu arang yang mengandung abu nyawa hydrocarbon, kemudian ditemukan CCTV dalam keadaan hangus terbakar,” kata Haydar di Mabes Polri pada Jumat, 23 Oktober 2020.

Baca juga: Penyebab Kebakaran Kejagung, Polri: 5 Tukang Merokok di Lantai 6

Kemudian, Haydar mengatakan, ditemukan juga cairan botol-botol di setiap lantai dan botol tersebut ada lubang-lubangnya. Selain itu, ada ditemukan botol berisi kandungan senyawa solar dalam keadaan utuh di gudang saat penyelidikan.

“Setelah kita laboratoriumkan ternyata kandungan solar, bensin dan pewangi dalam keadaan utuh. Setelah digunakan, menguap tinggal hydrocarbon. Ini digunakan setiap hari dalam sekian lama, karena ada beberapa dari keramik di gedung ini isinya ornamen-ornamen kayu maupun kertas di dalamnya,” ujarnya.

Selanjutnya, Haydar menjelaskan kenapa api bisa turun ke bawah mengingat sumber api awalnya berasal dari lantai 6 Ruang Aula Biro Kepegawaian Kejaksaan Agung. Menurut dia, akseleran yang dipakai Kejaksaan Agung kebetulan menggunakan ACP-ACP, sehingga memudahkan api untuk menjalar ke seluruh lantai gedung.

“ACP-ACP ini merupakan akseleran api dari atas kemudian turun ke lantai 5, ke lantai 4. Itu pola-pola api tampak sekali penjalarannya, kemudian masuk ke setiap lorong. Pola api tampak sekali dan yang mengawali lantai 6,” tutur dia.

Di lantai 6, kata Haydar, ada lima orang tukang yang sedang bekerja melakukan perbaikan, sehingga banyak barang bekas seperti wallpaper, karpet, tinner, lem yang cukup banyak. Ditambah lagi, lanjut dia, mereka para tukang juga rata-rata merokok dan ditaruhlah rokoknya kemudian meninggalkan tempat tersebut.

“Oleh sebab itu, kami menyimpulkan bahwa di lokasi lantai 6 Biro Kepegawaian itu merupakan titik api pertama terbakar. Dan ini terbakar dari bara api yaitu open flame, api terbuka,” katanya.

Sementara Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Ferdy Sambo menjelaskan kenapa api bisa menjalar ke seluruh Gedung Utama Kejaksaan Agung pada Sabtu, 22 Agustus 2020. Dari hasil pemeriksaan Puslabfor, kata dia, gedung tersebut menggunakan alat pembersih yang tidak sesuai ketentuannya.

“Ada minyak yang biasa digunakan cleaning service di setiap gedung lantai untuk melakukan pembersihan. Setelah dicek, temuan-temuan adanya tinner di setiap lantai. Dari situ kita bisa simpulkan bahwa yang mempercepat akseleran terjadinya penjalaran api adalah adanya penggunaan minyak atau alat pembersih lantai bermerek top cleaner,” kata Ferdy.