Laboratorium Anti-Doping Pertama di Indonesia Dibangun di Solo

Zulfikar Husein, Fajar Sodiq (Solo)
·Bacaan 3 menit

VIVA – Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan mendirikan laboratorium anti-doping di Solo, Jawa Tengah. Laboratorium yang pertama kali di Indonesia itu akan dibangun di RS Orthopedi Prof Dr R Soeharso Solo.

Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan, Rita Rogayah mengatakan pendirian laboratorium anti-doping di RS Orthopedi Prof Dr R Soeharso Solo memang atas koordinasi antara Kemenpora dan Kemenkes.

Pembangunan laboratorium itu sangat dibutuhkan karena banyak ajang olahraga nasional maupun internasional yang akan digelar di Indonesia.

"Dengan adanya laboratorium ini, maka tidak perlu lagi kegiatan event olahraga itu mengirimkan sampel pemeriksaan doping itu ke luar negeri," kata Rita saat mendampingi Menpora Zainudin Amali meninjau lokasi pembangunan laboratorium antidoping di RS Orthopedi Prof Dr R Soeharso Solo, Jumat, 18 Desember 2020.

Terkait dipilihnya Solo, ia menjelaskan bahwa kota tersebut memiliki sejarah sebagai tuan rumah penyelenggaraan PON I di Indonesia. Selain itu, RS Orthopedi Prof Dr R Soeharso merupakan rumah sakit milik Kemenkes.

"Kenapa dipilih Solo, karena Pak Menteri Kesehatan menganggap sejarahnya PON I itu di Solo, maka tepatnya laboratorium doping itu ada di Solo. Dan di Solo ada rumah sakit di bawah kepemilikan Kemenkes, yakni RS Orthopedi," ucapnya.

Sementara itu, Menpora, Zainudin Amali menceritakan awal mulanya muncul keinginan untuk membangun laboratorium antidoping di Indonesia. Keinginan itu dilandasi karena selama ini setiap ada kegiatan olahraga yang mesti mengirim sampel doping ke luar negeri.

"Kita suatu negara besar, kenapa kita tidak buat sendiri. Itu pikiran awalnya," ujarnya.

Lantas, rencana dan keinginan untuk membuat laboratorium antidoping itu ternyata sampai kepada Menteri Kesehatan (Menkes), Terawan Agus Putranto. Kemudian, Menkes pun menghubungi dirinya dan menawarkan tempat untuk mendirikan laboratorium anti-doping di Solo.

"Jadi beliau bilang, sampeyan (kamu) kok susah-susah, saya ada tempat dan beliau langsung menunjuk Solo," kata dia menirukan ucapan Terawan.

Selanjutnya, Menpora juga mengungkapkan alasan ditunjuknya Solo sebagai lokasi pembangunan laboratorium antidoping pertama di Indonesia itu. Pasalnya di kota kelahiran Presiden Joko Widodo itu pernah menjadi lokasi perhelatan pesta olahraga tingkat nasional pertama di Indonesia.

"Solo itu ada sejarahnya PON I itu di Solo dan saya punya rumah sakit orthopedi di Solo. Nanti tengokin," ujar Zainudin.

Dengan pendirian laboratorium anti-doping di Solo itu, menurut Zainudin, bakal menjadi sejarah baru bagi bangsa Indonesia karena akan segera memiliki laboratorium penting. Tak hanya untuk kepentingan dalam negeri, namun juga diharapkan menjadi rujukan dari negara-negara lain untuk memeriksa sampel doping.

"Kita akan segera memiliki laboratorium anti-doping yang menjaidi rujukan-rujukan dari negara-negara lain, minimal Asia-Pasifik," ungkapnya.

Ke depan keberadaan laboratorium anti-doping akan sangat dibutuhkan. Selain itu dengan adanya laboratorium tersebut diharapkan akan mendatangkan devisa bagi negara Indonesia.

"Adanya Laboratorium itu nantinya akan membalikkan cerita yang tadinya kita mengirim dan devisa kita kasih ke negara lain, nanti kita yang akan didatangi. Harapannya begitu dan pasti akan banyak, minimal jangkauan Asia-Pasifik akan masuk ke Indonesia," ujarnya.

Oleh sebab itu, ia pun berharap pembangunan laboratorium anti-doping di RS Orthopedi Prof Dr R Soeharso itu segera terealisasi. Untuk itu, ia pun akan segera mengurus legalisasi terkait pembangunan laboratorium itu di Badan Anti-Doping Dunia (WADA).