Lagi, Keluarga Korban Laporkan Dugaan Pembunuhan pada Tragedi Kanjuruhan

Merdeka.com - Merdeka.com - Keluarga korban kembali melayangkan laporan dengan dugaan pasal pembunuhan terkait peristiwa Tragedi Kanjuruhan Malang. Kali ini, tiga laporan dibuat keluarga empat korban meninggal dunia dalam peristiwa Sabtu (1/10).

"Hari ini kita laporan. Kita kuasa dari 4 korban yang lapor ke Polres Malang," tegas Djoko Tri Tjahjana, Ketua Tim Advokasi Aremania Menggugat di Mapolres Malang, Senin (14/11).

Pelapor merupakan keluarga korban, di antaranya suami korban, kakak kandung korban, anak sekaligus kakak dari korban.

"Jadi empat korban yang kita ajukan laporan," tegasnya.

Kapolda dan Kapolres Jadi Terlapor

Pelapor dan Tim Pengacara datang sekitar pukul 11.00 WIB dan menjalani proses pemeriksaan di Ruang Satreskrim Polres Malang. Sekitar pukul 15.00 WIB, mereka keluar dari ruang pemeriksaan.

"Hari ini masih dalam proses, belum selesai. Besok akan dilanjutkan kembali. Ini kan masih dalam proses tentunya harapan kami diterima. Karena ini masih proses berjalan dan kita sepakati untuk besok dilanjutkan. Ya kita ikuti mekanisme itu," jelasnya.

Korban melaporkan Pasal 340 dan 338 atas peristiwa Tragedi Kanjuruhan. Pihak-pihak terlapor termasuk Kapolda dan Kapolres yang pada saat itu menjabat.

"Tentunya harapan kami yang paling pokok adalah pihak-pihak yang melakukan penembakan di Stadion Kanjuruhan itu, yang menembakkan gas air mata dapat diadili sebagaimana mestinya. Poinnya di sana, masalah mengembang kemudian harus pihak-pihak siapa yang terlibat dalam persoalan ini, kita juga masukkan Pasal 55 dan 56," urainya.

Pasal 55 dan 56, dijelaskan Djoko terkait dengan pihak yang turut serta dan berkontribusi sehingga peristiwa yang merenggut 135 jiwa itu terjadi.

Para Pelapor telah melengkapi beberapa dokumen di antaranya surat kematian dan sebagainya. Pemeriksaan lanjutan lebih bersifat administratif, sehingga diharapkan tidak berlangsung lama.

Djoko juga mengungkapkan bahwa masih ada masyarakat lain yang akan melaporkan kasus Tragedi Kanjuruhan. Namun yang melapor saat ini adalah mereka yang sudah dalam kondisi siap, terutama persoalan kesiapan secara psikis.

"Korban-korban lain masih ada, kita yang siap. Pelapor juga punya kesempatan waktu. Sekarang kita sesuaikan itu, karena kemarin kita mau laporan itu menunggu 40 hari, dari pihak pelapor mintanya seperti itu ya kita turuti," terangnya.

Sementara salah satu pelapor, Eka Wulandari mengaku siap mengikuti prosedur hukum yang harus ditempuh sebagaimana ketentuan. "Maunya sih cepat, tapi karena semua proses kan harus mengikuti prosedur yang harus dijalani," ungkap istri korban almarhum Iwan Junaedi itu.

Laporan Sebelumnya

Sebelumnya Devi Athok Yulfitri (43), keluarga korban Tragedi Kanjuruhan asal Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, telah menempuh jalur hukum yang sama. Devi Athok membuat laporan ke Kepolisian Resor (Polres) Malang tentang dugaan pembunuhan, Rabu (9/11).

Laporan dibuat terkait dugaan tindak pidana pembunuhan dan pembunuhan berencana sesuai Pasal 338 dan 340 Jo 55 dan 56 KUHP tentang Pembunuhan dan Pembunuhan Berencana dalam peristiwa di Stadion Kanjuruhan.

Tim menyerahkan sejumlah bukti kepada pihak kepolisian, di antaranya surat kematian dan foto-foto dua putri Devi Athok. Selain itu, mereka juga telah menyiapkan empat orang saksi terkait pelaporan tersebut.

Sebagai pihak terlapor dalam laporan tersebut adalah Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), PT Liga Indonesia Baru (LIB), PT Arema Aremania Bersatu Berprestasi Indonesia (AABBI), serta oknum aparat penembak gas air mata dalam peristiwa 1 Oktober 2022 itu.

Devi Athok sendiri kehilangan dua putrinya, NBR (16) dan NDA (13), pada Tragedi Kanjuruhan. Jenazah keduanya juga telah menjalani ekshumasi untuk kepentingan autopsi pada Sabtu (5/11). Ekshumasi dilakukan di Pemakaman Umum Dusun Patuk, Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. [yan]