Lagi ribut-ribut calon Kapolri, Brimob-Sabhara malah bentrok

MERDEKA.COM. Jabatan Kapolri kini tengah menjadi sorotan publik. Sebab, dalam waktu dekat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY ) akan mengganti Jenderal Pol Timur Pradopo dengan Kapolri yang baru.

Sejumlah nama pun bermunculan di media. Mereka digadang-gadang merupakan calon kuat yang akan menduduki singgasana orang nomor satu di korps Bhayangkara.

Ada jenderal bintang tiga ada pula jenderal bintang dua yang digadang-gadang menjadi calon kuat. Perbedaan pendapat pun muncul mengenai siapa calon yang paling potensial dipilih Presiden.

Versi Komisioner Kompolnas Edi Hasibuan, dari sekian banyak nama yang bermunculan hanya ada tiga jenderal yang memenuhi syarat, yakni Komjen Pol Sutarman , Komjen Pol Budi Gunawan dan Komjen Anang Iskandar . Sementara, versi Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane calon potensial yang akan dipilih Presiden adalah tiga jenderal yang pernah menjadi ajudan presiden.

Mereka antara lain; Kabareskrim Komjen Sutarman , mantan ajudan Presiden Abdurrahman Wahid, Kalemdikpol Komjen Budi Gunawan yang pernah jadi ajudan Presiden Megawati dan terakhir Kapolda Metro Jaya Irjen Putut Bayuseno, bekas ajudan Presiden SBY .

Namun, di tengah hangatnya pemberitaan soal calon Kapolri baru, nama korps Bhayangkara itu justru dicoreng oleh anggotanya sendiri. Bukan malah kompak menjaga keamanan, puluhan anggota Brimob justru terlibat bentrok dengan aparat Sabhara Polda Jawa Tengah, Kamis (25/7).

37 Anggota Brimob itu nekat menyerang Markas Sabhara di Mijen, Semarang, hanya karena salah paham. Brimob marah karena ada BlackBerry Messenger (BBM) dari seorang anggota Sabhara yang nadanya menghina.

"Ini cuma miskomunikasi sebenarnya. Berkaitan BBM ejekan menyatakan Brimob Srondol digertak mlayu (lari)," kata Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Dwi Piyatno yang turun langsung ke lokasi untuk membubarkan bentrokan.

Parahnya lagi, anggota Brimob dan Sabhara yang terlibat bentrok merupakan kawan satu angkatan saat masuk polisi. Akibat aksi anggota Brimob tersebut empat anggota Sabhara luka-luka. Meja dan kursi di kantor Sabhara pun rusak.

Wah-wah kalau satu 'almamater' saja bisa saling serang berarti pendidikan emosi dan tingkah laku mereka harus dikoreksi ulang. Sebab, jika seorang polisi masih emosional dan masih memiliki sentimen golongan atau kelompok bagaimana mereka bisa menjadi polisi yang baik, yang tentunya dapat melindungi seluruh kelompok dan golongan yang ada di Tanah Air.

Bagi para calon Kapolri, peristiwa ini tentu harus menjadi perhatian serius demi soliditas d

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.