Lahan Gambut di Agam Sumatera Barat Kembali Membara

Dedy Priatmojo, Andri Mardiansyah (Padang)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam, Sumatera Barat kembali mengkonfirmasi peristiwa kebakaran lahan sawit di Kecamatan Tanjung Mutiara. Terdata, hingga siang ini sudah 6,5 hektare lahan sawit milik warga setempat terbakar.

Petugas gabungan, kini berupaya memadamkan api dan mengantisipasi kobaran api tidak meluas.

"Cuaca cerah disertai angin. Mengakibatkan lahan gambut kembali terbakar di Tanjung Mutiara tepatnya di Jorong Aia Maruok, Nagari Persiapan Durian Kapeh Darrusalam," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Agam Syafrizal, Senin 22 Februari 2021.

Menurut Syafrizal lahan yang terbakar kali ini milik warga bernama Dasiri Musnal dan Jarot. Titik api mulai terpantau pada Minggu sore kemarin. Mengingat lahan gambut dan mudah terbakar, api dengan cepat merambat.

Kobaran api saat ini cukup besar. Tim dilapangan sedang berupaya memadamkan titik-titik api. Tim yang terlibat antara lain, BPBD Kabupaten Agam, Polsek Tanjung Mutiara dan Pemilik Lahan.

"Untuk kondisi api, mulai besar pada pukul 12.30 WIB tadi. Kini sedang diupayakan pemadaman," ujar Syafrizal.

Sebelumnya, 20 hektare lahan sawit milik warga di Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, Sumatera Barat juga terbakar. Minimnya sumber air menjadi kendala utama proses pemadaman lahan.

BPBD menyebutkan, penyebab kebakaran lantaran adanya aktivitas pembakaran sisa rambahan oleh pemilik lahan. Ditambah lagi kondisi cuaca cukup panas dan disertai angin sejak awal bulan Februari 2021, mengakibatkan api dengan cepat merambat.

Meski peralatan cukup memadai, namun sumber air terbatas sehingga upaya pemadaman cukup menyulitkan.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Unit Observasi Global Atmosopheric Watch (GAW) Stasiun Pemantau Atmosfir Global Kototabang memastikan jika konsentrasi PM10 atau kualitas udara di Sumatera Barat saat ini dalam kondisi normal atau baik meski, terdeteksi adanya titik panas di Tujuh Kabupaten dan kota.

Peristiwa kebakaran 20 hektare lahan di Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam selama sepekan terakhir, juga belum mempengaruhi kualitas udara.

"Titik panas yang terdeteksi di Sumbar dengan tingkat kepercayaan sedang antara 30 hingga 79 persen pada bulan ini tersebar di Tujuh Kabupaten dan Kota. Kabupaten Pasaman Barat, memiliki jumlah titik panas tertinggi yakni 19 titik di susul Kabupaten Pesisir Selatan dengan 11 titik panas. Itu data, diambil dari data harian titik panas yang direkam dari satelit MODIS (Tera, Aqua dan, SNPP)," kata Kepala BMKG Stasiun GAW Koto Tabang, Wan Dayantolis.

Dijelaskan Wan Dayantolis, konsentrasi rata-rata PM10 pada lima hari terakhir yang terpantau dan terekam di stasiun GAW Bukit Koto Tabang menggunakan instrumen BAM 1020 untuk monitoring PM10, berada pada konsentrasi dibawah 25 mikrogam/m3.

Itu artinya, menandakan kualitas udara saat ini di Sumatra Barat masih dalam keadaan baik. Pola pergerakan arah angin sejak awal Februari hingga Tiga hari terakhir, bergerak dari arah Barat laut ke Tenggara.

"Nah, melihat pergerakan pola angin dan konsentrasi PM10 itu, jumlah hotspot yang terekam hingga kini, belum memberikan pengaruh signifikan terhadap kualitas udara,"ujar Wan Dayantolis.