Lahan Rusak, Wonosobo Batasi Penanaman Kentang  

TEMPO.CO, Yogyakarta - Bupati Wonosobo, Abdul Kholiq Arif, membatasi penanaman kentang oleh petani di kawasan Dataran Tinggi Dieng guna menahan laju kerusakan lahan. "Sebagian besar kawasan Dieng adalah kawasan hutan lindung. Pembatasan tanaman kentang untuk menghindari kerusakan lingkungan lebih parah," kata dia ketika dihubungi, Selasa, 25 Desember 2012.

Kholiq mengatakan, budi daya tanaman kentang membawa kerugian jauh lebih besar ketimbang dengan menanam jenis tanaman pertanian lainnya karena merusak lahan. Dataran Tinggi Dieng memiliki keterbatasan daya dukung lahan. Penanaman kentang secara besar-besaran akan memicu bencana alam, seperti longsor.

Menanam kentang pada masa sekarang, dia mengatakan, tidak menguntungkan karena harga jualnya tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan petani. Dia mencontohkan di Kecamatan Kejajar, yang rata-rata merupakan petani kentang dalam 10 tahun terakhir, perekonomiannya tidak membaik. "Penduduk miskin naik 1 persen per tahun sehingga petani butuh alternatif tanaman lain yang lebih menguntungkan," katanya.

Membatasi penanaman kentang, kata Kholiq, selama ini tidak banyak mendapat penolakan dari petani, karena mereka sudah mulai sadar untuk mempertahankan lahan dari ancaman kerusakan. Ia menyarankan petani beralih menanam tanaman yang ramah lingkungan, seperti carica dan bambu cendani. Memanen carica lebih menguntungkan karena tidak banyak daerah yang menanamnya.

Pelaksana tugas Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Wonosobo, Samsul Ma'arif, mengatakan menanam kentang secara terus-menerus menyebabkan pengendapan lumpur sehingga erosi sulit dicegah. Kerusakan tanah di kawasan Dieng saat ini tergolong parah.

Menurutnya, menanam kentang sekarang tidak menjanjikan bagi petani karena produksinya lambat laun semakin menurun. Dia mencontohkan pada era 1980-an, tanaman kentang mengalami masa kejayaan, karena bibit 1 kilogram kentang bisa menghasilkan panen 20 kilogram kentang. Sementara itu, dalam kondisi saat ini, menanam 1 kilogram bibit hanya menghasilkan 6-7 kilogram kentang.

Ketua Kelompok Tani Konservasi "Margo Rukun" Desa Tieng, Aries Fathoni, mengatakan petani di kawasan itu sangat tergantung pada tanaman kentang. Di Desa Tieng saat ini terdapat 40 persen petani yang menanam kentang. Petani biasa menanam kentang pada Maret-April-Mei. Mereka memanen tiga bulan setelah masa tanam. "Menanam kentang menjadi kebiasaan petani sehingga sulit mengajak mereka untuk beralih ke tanaman lain. Masa panen tergolong cepat sehingga petani gampang dapat penghasilan," katanya.

Ia mengatakan penanaman kentang secara besar-besaran selama puluhan tahun telah merusak lingkungan. Kentang membutuhkan pupuk kimia dengan jumlah takaran yang lebih banyak ketimbang pupuk kandang. Ia mencontohkan sebanyak 1 kuintal kentang setidaknya membutuhkan 50 kilogram pupuk kimia dan 30 kilogram pupuk kandang.

SHINTA MAHARANI

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.