Lahirnya Provinsi Gorontalo, Bumi Serambi Madinah 19 Tahun Lalu

Liputan6.com, Jakarta - DPR mengesahkan Rancangan Undang-Undang tentang Pembentukan Provinsi Gorontalo pada 5 Desember 2000. Peristiwa yang terjadi 19 tahun lalu itu sekaligus menjadi hari lahir Provinsi yang dijuluki 'Bumi Serambi Madinah'.

RUU itu kemudian diundangkan menjadi Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Gorontalo pada 22 Desember 2000. Gorontalo menjadi provinsi ke-32 di Indonesia.

Dikutip dari Wikipedia, Provinsi Gorontalo terletak pada Semenanjung Gorontalo (Gorontalo Peninsula) di Pulau Sulawesi, tepatnya di bagian barat Provinsi Sulawesi Utara.

Luas wilayah provinsi ini 12.435,00 km² dengan jumlah penduduk sebanyak 1.166.142 jiwa (2018) dan laju pertumbuhan penduduk sebesar 0.91%.

Di sisi lain, masyarakat Gorontalo juga memiliki budaya 'moleleyangi' atau dalam bahasa Indonesia disebut 'merantau'. Etnis Gorontalo paling banyak tersebar di Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan Timur. Ditengarai, penyebaran diaspora Gorontalo telah mencapai 5 kali lipat dari total penduduknya sekarang yang tersebar di seluruh dunia.

Menurut satu hikayat, daerah yang dikenal dengan istilah 'Semenanjung Gorontalo' berasal dari sebuah pulau kecil. Lama-kelamaan, air laut di sekitar pulau itu surut hingga muncul tiga gunung, yang salah satunya adalah Gunung Tilongkabila.

Adapun sebuah lembah di sebelah selatan Gunung Tilongkabila tersebut dicatat dalam sejarah sebagai wilayah yang bernama Hulontalangi yang kemudian dikenal sebagai daerah Hulontalo atau Gorontalo yang juga merupakan cikal bakal wilayah Kota Gorontalo.

Gorontalo sendiri berasal dari kata Hulontalo dari kata dasar Hulontalangi, sebuah nama salah satu Kerajaan di Gorontalo. Hulontalangi sendiri memiliki makna lembah mulia. Hulontalangi juga dimaknai sebagai daratan yang tergenang.

Selain itu, terdapat beberapa catatan sejarah mengenai asal muasal nama Gorontalo, di antaranya berasal dari kata Huidu Totolu  yang bermakna tiga gunung. Kemudian kata Pogulatalo yang bermakna tempat menunggu. Kata Pogulatalo lambat laun berubah dalam ucapan masyarakat menjadi Hulatalo.

Selain itu, Gorontalo juga berasal dari kata Hulontalo. Namun, karena kesulitan dalam pengucapannya maka para penjajah Belanda menyebut Hulontalo menjadi Gorontalo.

 

Julukan Gorontalo

Banjir tahunan yang sering terjadi antara 5 hingga 6 tahun sekali bukan karena hutannya sudah gundul, sebagian warga mempercayai hal mistis jadi penyebabnya. (Lipuan6.com/ Arfandi Ibrahim)

Sama seperti daerah lainnya, Gorontalo juga memiliki banyak julukan. Antara lain, Bumi Serambi Madinah, Provinsi Karawo, The Hidden Paradise, Gerbang Utara Indonesia, Lumbung Jagung Nusantara, Bumi Para Sastrawan, dan Tanah Para Sultan.

Dikutip dari berbagai sumber, sebutan Bumi Serambi Madinah tak lepas dari populasi masyarakatnya yang mayoritas beragama Islam. Bahkan Gorontalo memiliki semboyan yang berbunyi, "Aadati hula-hula to Sara', Sara' hula-hula to Kuru'ani (Adat bersendikan Syara', Syara' bersendikan Al-Quran)".

Selain itu, Gorontalo juga dikenal dengan empat falsafah lainnya, antara lain: Mohuyula (Bahu membahu atau Bergotong royong); Mopotuwawu Kalibi, Kauli, wawu Pi'ili (Menyatukan Hati, Perkataan, dan Perbuatan); Batanga Pomaya, Nyawa Podungalo, Harata Potombulu (Jasad membela tanah air, Jiwa dipertaruhkan, Harta bagi kemaslahatan orang banyak); dan Lo Iya Lo Ta Uwa, Ta Uwa Loloiya, Bo'odila Polusia Hilawo (Pemimpin itu penuh dengan Kewibawaan, Maka tidaklah dirinya Sewenang-wenang).

 

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: