Laksamana Sukardi Mengaku Tak Tahu Proyek CIS-RISI

Jakarta (ANTARA) - Mantan Menteri BUMN, Laksamana Sukardi, mengaku dirinya tidak mengetahui adanya proyek pengadaan Outsourcing Roll Out-Customer Information System-Rencana Induk sistem Informasi (CIS-RISI) PT PLN tahun anggaran 2004-2008.

"Kami tidak tahu karena memang rencananya adalah efisiensi dan itu memang harus ada efisiensi karena memang karena tagihan-tagihan banyak yang bocor ya kan," kata Laksamana Sukardi selepas menjalani pemeriksaan sebagai saksi di Gedung KPK, Jakarta, Selasa.

Menurut Laksamana, untuk setiap detil proyek Kementerian menyerahkan sepenuhnya kepada BUMN terkait.

"Masalah detil proyek itu dan prosesnya diserahkan ke anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perseroan," kata dia.

Laksamana juga mengatakan, Kementerian memang mengetahui penganggaran Perseroan secara umum, namun tidak turut campur dalam proyek-proyek yang ada serta berkewenangan hanya di ranah kebijakan saja.

"Kalau semua proyek masuk ke Kementerian tidak sanggup kita, dan buat apa ada komisaris ada direksi," ujar dia.

Laksamana Sukardi pada Selasa diperiksa oleh KPK terkait dengan penyidikan kasus dugaan korupsi pengadaan Outsourcing Roll Out-Customer Information System-Rencana Induk sistem Informasi (CIS-RISI) PT PLN tahun anggaran 2004-2008.

KPK menetapkan Gani sebagai tersangka pada Maret 2012 karena diduga ikut menerima keuntungan hasil korupsi proyek CIS-RISI yang merugikan negara hingga Rp46,18 miliar.

Gani disangka melanggar Pasal 2 Ayat 1 atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 tahun 2001 juncto pasal 55 Ayat 1 KUHP.

Pada putusan mantan dirut PLN Eddie Widiono disebutkan bahwa Eddie terbukti melakukan tindak pidana korupsi secara sendiri atau pun bersama-sama dengan mantan General Manager PLN Disjaya Tangerang Margo Santoso, Fahmi Mochtar, serta Direktur Utama PT Netway Utama Gani Abdul Gani.

Eddie melakukan penunjukan langsung terhadap PT Netway Utama sebagai pelaksana proyek CIS-RISI tersebut.

Proyek CIS-RISI yang sudah berjalan di PT PLN Disjaya dan Tangerang sejak 1994 ini dibukakan kembali pada sekitar 2000, caranya dengan menggandeng Gani, salah satu dosen Politeknik Institut Teknologi Bandung (ITB), yang juga menjabat Dirut PT Netway Utama.

Eddie meminta Gani membuat proposal serta melakukan presentasi terlebih dahulu di PT PLN Disjaya dan Tangerang yang pelaksanaannya direncanakan selama lima tahun dengan asumsi biaya sebesar Rp905,6 miliar.

Selanjutnya pada Januari 2004, General Manager PT PLN Disjaya Fahmi Mochtar membuat surat penunjukan PT Netway Utama sebagai pelaksana pekerjaan jasa "Outsourcing Roll Out" CIS-RISI di seluruh area pelayanan dan kantor distribusi PT PLN Disjaya dan Tangerang dengan nilai pekerjaan Rp137,1 miliar.

Pada saat yang sama tim penyusunan kontrak dibentuk Fahmi sehingga keluarlah perjanjian kerja sama pengadaan dengan nilai proyek setelah dipotong pajak 2004-2006 seluruhnya berjumlah Rp92,2 miliar padahal pembebanan biaya pengadaan sebenarnya hanya Rp46,1 miliar dan selisihnya sebesar Rp46,1 miliar memperkaya Gani Abdul Gani atau PT Netway Utama.(rr)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.