Lakukan Langkah Ini Ketika Balita Demam Sebelum Beri Obat

Merdeka.com - Merdeka.com - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengajak para orang tua untuk menjadikan obat sebagai metode penyembuhan pilihan terakhir saat anaknya bergejala sakit. IDAI mengingatkan orangtua tak terburu buru memberikan obat ketika anak demam.

"Prinsipnya, obat itu jalan terakhir, yang penting istirahat. Demam itu situasi kondusif, tidak perlu buru-buru, bisa dengan kompres hangat atau rendam air hangat, tapi lihat kondisi umum anak juga," kata Ketua Umum IDAI Piprim Basarah Yanuarso di Jakarta, Jumat (11/11).

Dia mengatakan, bayi usia satu bulan yang mengalami demam menandakan ada sakit serius dan perlu dicari penyebabnya. Tapi jika di atas tiga bulan, badan hangat bisa pakai metode lain.

"Kalau anak demam tinggi bisa diberikan obat tablet yang dipecah, disesuaikan dengan berat badannya. Kalau demam tinggi bisa diberikan obat sesuai resep dokter," kata dia, dikutip Antara.

Pernyataan itu disampaikan Piprim terkait dengan kebijakan pemerintah yang melarang penggunaan obat sirop di tengah proses penyelidikan kasus gangguan ginjal akut di Indonesia.

Pemberian Obat Hanya Alternatif

Secara terpisah, Wakil Ketua PP Ikatan Apoteker Indonesia sekaligus Guru Besar Farmakologi dan Farmasi Klinik Universitas Padjajaran Prof Keri Lestari memberikan alternatif obat aman yang bisa dikonsumsi selama pemberlakuan larangan obat sirop.

"Pilihannya sekarang cari aman ke puyer," kata Keri.

Jika anak tidak suka atau tidak terbiasa mengonsumsi puyer, karena rasanya pahit dan sering dimuntahkan, ia menyarankan orangtua membuat sirup dadakan dengan pemanis tambahan seperti madu.

"Di sendok, dikasih air, dikasih madu. Sehingga anak merasa minum madu," ujar dia.

Dia juga meminta orangtua agar dapat mempertimbangkan memilih dokter anak yang bijak menimbang risiko dan manfaat dalam pemberian obat.

Sebelumnya, Peneliti Keamanan dan Ketahanan Kesehatan Global Dicky Budiman mengatakan terdapat sejumlah pelajaran penting yang perlu diambil dari kasus gangguan ginjal akut. Dari sisi kebijakan pemerintah, yang perlu diperhatikan antara lain akuntabilitas kerja, transparansi data, dan manajemen data.

"Pelajaran yang kita ambil dari kasus gangguan ginjal akut ini adalah pentingnya good government," ujar Dicky.

Hal lain yang menjadi pelajaran adalah kepemimpinan, manajemen risiko dan komunikasi risiko. "Tiga hal itu hampir berlaku di semua negara. Tanpa ada penguatan, sebagus apa pun regulasi, tidak akan diterapkan," kata dia.

[gil]