Lama Menantikan Momongan, Tuhan Menjawabnya dengan Cara Tak Terduga

·Bacaan 7 menit

Fimela.com, Jakarta Tulisan kiriman Sahabat Fimela.

***

Oleh: Puji Khristiana Dyah Nugrahaini

Umur pernikahan kami sudah menginjak 9 tahun. Tapi Tuhan belum juga memberi kesempatan untuk memiliki momongan. Berbagai pertanyaan basa-basi sering kami dapatkan. Mulai dari "kapan hamil?" "Kok masih pacaran aja?" "Memangnya nggak kesepian kalau nggak ada anak?" "Eh, si ini yang nikahnya duluan kalian saja udah punya 3 anak. Kapan kalian nyusul?" dan berbagai pertanyaan basa-basi lain yang terdengar sangat basi.

Aku tahu mungkin mereka menanyakannya dengan nada bercanda. Tapi meskipun bercanda, semua pertanyaan itu seperti terdengar sangat menyakitkan. Wanita mana yang tidak ingin hamil dan punya anak? Pasti semua menginginkan itu termasuk aku. Apalagi usia pernikahan kami tidak lagi muda. Kadang aku ingin berteriak. Tolong jangan bertanya sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa jawabannya.

Tapi aku bisa apa? Meski terdengar cukup menyakitkan, aku masih mencoba untuk menanggapinya sambil tersenyum dengan berkata, "Doakan saja. Semoga disegerakan."

Perjuangan dan Penantian

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/LEONARDO+DUTRA+LUZ
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/LEONARDO+DUTRA+LUZ

Selama 9 tahun menikah, tak pernah sedikit pun kami berniat menunda kehamilan. Malah suamiku ingin cepat-cepat punya anak karena usianya tidak lagi muda. Namun manusia hanya berencana, Tuhan juga yang akan menentukan. Anak adalah hak prerogatif tuhan yang tidak bisa dipaksakan. Kalau memang Tuhan belum berkehendak memberi kami momongan, tidak ada yang bisa kami lakukan kecuali bersabar, berusaha, dan berdoa.

Sudah banyak usaha yang kita lakukan. Mulai dari berkonsultasi dengan dokter spesialis, menjalani berbagai treatment kesuburan di rumah sakit, mengonsumsi berbagai suplemen herbal, hingga melakukan berbagai ritual yang kadang tidak masuk akal. Apapun kami lakukan agar kami bisa segera memiliki momongan.

Dari pemeriksaan dokter, tidak ditemukan hambatan apa pun baik padaku maupun pada suami terkait kesuburan. Kami berdua dinyatakan subur. Tapi kembali lagi. Anak adalah rezeki sekaligus amanah yang hanya Tuhan saja yang berhak menentukan.

Rasa minder dan tidak percaya diri membuatku lebih banyak mengurung diri di rumah. Malas menghadiri berbagai acara seperti nikahan, reuni teman-teman sekolah hingga acara syukuran aqiqah kelahiran bayi teman. Kalaupun terpaksa harus hadir, aku hanya menghadiri acara keluaarga saja. Itu pun harus mengumpulkan energi untuk tetap menguatkan diri jika ada pertanyaan tentang kapan punya anak.

Ketika acara berlangsung aku mencoba untuk kuat. Tapi sesampainya di rumah, tangisku langsung pecah. Suamikulah yang selama ini mencoba untuk menguatkan. Dia selalu bilang bahwa ini adalah ujian rumah tangga kita. Dengan terus bersama, ujian ini akan bisa dilewati dengan mudah.

Secara ekonomi, kami memang tidak kekurangan. Suamiku berprofesi sebagai pengacara dengan gaji puluhan juta per bulan. Aku sendiri menekuni bisnis MLM yang menjual barang suplemen herbal kesehatan dan kosmetik dengan posisi yang lumayan. Selama 9 tahun menikah, sudah banyak aset yang bisa kami kumpulkan. Mulai dari rumah, mobil, dan juga beberapa hektar tanah perkebunan.

Kami selalu menuruti nasihat ibu mertua untuk tak lupa sedekah. Siapa tahu dengan sedekah apa yang selama ini kita inginkan bisa terwujud.

Beberapa kali aku mencoba membujuk suami untuk mengikuti program inseminasi atau bayi tabung. Keuangan kita cukup untuk mengikuti program hamil seperti itu. Tapi entah kenapa suamiku selalu menolak. Dia menunggu hingga usia pernikahan kami genap 10 tahun. Jika memang sampai 10 tahun usia pernikahan kami belum juga dikaruniai anak secara alami, dia bersedia memenuhi keinginanku untuk menempuh program hamil buatan inseminasi ataupun bayi tabung.

Kesabaranku terus diuji. Hingga akhirnya asisten rumah tanggaku memberi kabar bahwa ada tetangganya yang akan memberikan anak yang dikandungnya kepada siapapun yang ingin mengadopsi. Dengan syarat semua biaya periksa dan melahirkan ditanggung calon orang tua asuh.

Entah kenapa aku langsung tertarik dengan tawaran asisten rumah tanggaku. Setelah kami telusuri dengan mendanginya secara langsung, ternyata ibu Maya (bukan nama sebenarnya) tidak mengharapkan kehamilan ini. Anaknya sudah 4. Dua laki-laki dan dua perempuan. Suaminya kabur dengan wanita lain.

Awalnya dia ingin menggugurkan kandungannya saja. Menjadi orang tua tunggal dengan 4 orang anak yang masih kecil sangat berat. Dia tidak mau lagi menambah beban dengan lahirnya bayi yang ada di dalam kandungannya. Tapi karena ingat dosa, dia berniat memberikan bayi yang kelak dilahirkan bagi mereka yang mau.

Sebenarnya niat adopsi anak sudah pernah kami lakukan. Dengan mengambil anak dari yayasan panti asuhan milik pemerintah. Tapi ada satu syarat yang tidak bisa kami penuhi. Pihak yayasan meminta surat keterangan resmi dari rumah sakit bahwa kami memang sudah tidak mungkin memiliki anak.

Pihak rumah sakit tempat kami periksa selama ini tidak bisa memberikannya. Karena dari semua pemeriksaan yang kami jalani menyatakan kami masih subur dan bisa memiliki anak. Sehingga pihak yayasan tidak mau meloloskan permintaan kami menjadi salah satu orang tua asuh bagi anak-anak asuh mereka.

Mungkin melalui ibu Maya inilah jalan yang ditunjukkan tuhan agar kami bisa menjadi orang tua asuh. Setelah berbagai kesepakatan antara kami dan Bu Maya, akhirnya Bu Maya bersedia memberikan anak yang dikandungnya pada kami setelah dilahirkan nanti.

Selama Bu Maya menjalani kehamilan, kami selalu memenuhi kebutuhan kehamilannya. Dengan menyediakan berbagai makanan bergizi dan suplemen kehamilan terbaik. Tentu kami ingin anak yang kelak lahir sehat tanpa kurang suatu apapun. Kami juga memberikan biaya hidup bagi anak-anak Bu Maya dan meminta Bu Maya berhenti bekerja sementara. Kami ingin dia lebih fokus menjalani kehamilan tanpa disibukkan dengan bekerja untuk memenuhi kebutuhannya.

Setiap sebulan sekali aku menemani Bu Maya periksa kehamilan ke dokter. Kami mengajaknya ke rumah sakit dengan fasilitas terbaik. Tidak masalah berharga mahal. Yang penting kelak bayi itu lahir dengan baik tanpa kurang suatu apapun. Tepat di usia kehamilan 23 minggu, dokter mendeteksi kandungan Bu Maya mengalami placenta previa. Dimana ari-ari atau placenta menutupi jalan lahir sehingga tidak mungkin untuk melahirkan dengan persalinan normal. Terpaksa harus melalui oprasi secar.

Dari usia 23 minggu hingga waktunya melahirkan, Bu Maya sering mengalami pendarahan. Dokter menyarankan untuk bed rest agar tidak sering terjadi pendarahan. Dengan senang hati aku membawa Bu Maya dan keempat anaknya ke rumah kami. Agar Bu Maya bisa istirahat total. Segala keperluan hidup keempat anaknya kami yang menanggung. Untunglah suamiku paham dan tidak keberatan jika rumah kami penuh dengan penghuni untuk sementara waktu.

Tepat di tanggal yang telah ditentukan dokter untuk oprasi secar, kami membawa Bu Maya ke rumah sakit dengan perawatan kelas VIP. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu calon putri angkatku. Kenapa aku katakan calon putri angkat? Karena tepat di usia 16 minggu kehamilan, dari hasil pemeriksaan USG terdeteksi jenis kelamin bayi adalah perempuan.

Apakah akhirnya kami mendapat bayi itu? Ternyata tidak sesuai harapan. Bayi perempuan itu lahir dengan berat 3,5 kilogram dan panjang 48 cm. Cantik sekali. Berkulit putih bersih. Setelah Bu Maya sadar dari efek anestesi dan diizinkan melihat bayinya, ternyata dia memutuskan untuk merawat bayi itu sendiri. Batal memberikannya kepada kami. Dengan alasan bayi perempuan itu lahir dengan wajah yang sangat cantik.

Tuhan Memberi Jawaban Terindah

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/belchonock
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/belchonock

Hampir aku tidak terima dengan keputusannya. Setelah semua hal terbaik telah kami berikan, dengan sepihak dia membatalkan memberikan bayi itu begitu saja kepada kami. Aku benar-benar tidak terima. Tapi beruntung suami memberiku pengertian untuk mengikhlaskan semuanya. Biarkan tuhan yang membalas dengan caranya sendiri. Meski sangat kecewa, suamiku tetap melunasi semua biaya rumah sakit untuk persalinan secar lengkap dengan perawatan kelas VIP yang tidak murah.

Semenjak kejadian itu, aku lebih sering murung. Malas keluar rumah. Jadi sering telat makan dan jarang memperhatikan kesehatan. Badanku bertambah kurus. Aku benar-benar kecewa. Tidak ada yang lebih menyakitkan selain dikhianati oleh keinginan sendiri yang terlalu tinggi.

Sebulan setelah kejadian itu aku sering sakit-sakitan. Maagku sering kambuh. Hampir tiap hari aku muntah karena efek asam lambung yang tinggi. Bahkan suamiku jadi sering izin tidak masuk kantor karena harus menjagaku.

Melihat wajahku semakin pucat, asisten rumah tanggaku sempat berceletuk. "Ibu mirip orang hamil muda. Coba dicek ke dokter, bu. Siapa tahu ibu memang lagi hamil."

Awalnya aku mengabaikan saja usulan asisten rumah tangga itu. Tapi tidak dengan suamiku. Dia seperti melihat harapan dengan celotehan itu. Diam-diam dia membelikan tespack di apotek depan rumah. Memintaku untuk melakukan tes kehamilan pribadi.

Awalnya aku menolak. Karena sudah ratusan kali selalu melihat garis satu dalam benda kecil itu. Aku tidak ingin kecewa untuk kesekian kalinya dengan kembali melihat garis satu. Tapi karena suami terus memaksa, baiklah. Dengan agak malas aku melakukan tes kehamilan pribadi.

Dan ternyata firasat suami benar. Hampir saja aku teriak saat melihat hasilnya. Dua garis merah jelas terlihat dalam tespack itu. Berarti aku benar-benar hamil. Tidak ada lagi kalimat yang terucap. Kami berdua hanya bisa menangis sambil berpelukan. Berita bahagia yang sudah dinanti selama 9 tahun kini telah datang.

Benar kata suami. Apapun usaha dan pengorbanan yang telah kita lakukan tidak pernah ada yang sia-sia. Semua telah dicatat oleh Tuhan dan akan dikabulkan di waktu yang paling tepat. Inilah hikmah yang bisa kuambil kenapa Tuhan tidak memberikan bayi Bu Maya padaku. Karena Tuhan akan memberikan bayi itu dalam rahimku sendiri.

Ketika kisah ini diceritakan, kehamilanku sudah masuk usia 8 bulan. Segala sesuatu telah kami persiapkan untuk menyambut kelahiran putri pertama kami. Semua keluarga turut bahagia. Termasuk kedua orang tua kami yang telah lama menantikan kehadiran cucu mereka.

#ElevateWomen