'Lamak Bana', Mencicipi Satai Danguang-Danguang Khas Ranah Minang

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Limapuluh Kota - Aroma harum tercium ketika melintas di Danguang-Danguang, Kabupaten Limapuluh Kota Sumatera Barat. Wangi khas sate yang namanya sama dengan daerah itu memaksa pengendara menepi.

Ketupat berukuran sedang dan daging yang sudah ditusuk lidi lalu dibakar, kemudian disiram kuah panas berwarna kuning yang kental tersaji di meja, inilah satai danguang-danguang.

Gigitan pertama langsung terasa gurih kenyal, berpadu dengan kuah kental yang kaya akan rempah, menambah kelezatannya.

Hal yang membedakan satai ini dengan satai lainnya yakni, dagingnya diberi bumbu rempah yang pas di lidah dan remahan kelapa yang renyah gurih.

Awak Liputan6.com tak menyiakan kesempatan menikmati satai danguang-danguang langsung di daerah aslinya, yakni Danguang-Danguang.

Tak lupa, ketika menyantap satai ini dicampur dengan keripik singkong yang juga disediakan di tempat tersebut, lamak bana.

Di Pasar Danguang-Danguang, penjual satai cukup banyak. Kedai-kedai satai berjejer di sisi kiri jalan jika Anda datang dari arah Kota Payakumbuh.

Jangan kaget jika perut tiba-tiba keroncongan ketika melintas di daerah ini, karena aromanya akan tercium hingga ke jalanan.

Salah seorang warga setempat, Zidan mengatakan satai danguang-danguang ini sudah ada sejak dulu, bahkan saat ini di luar provinsi pun banyak yang menjualnya.

"Kalau saat libur Hari Raya Idul Fitri, kedai satai ini tak henti-hentinya didatangi pembeli karena banyak perantau yang pulang," ujarnya.

Ia mengatakan selain dijual di kedai, di kabupaten Limapuluh Kota dan sekitarnya juga banyak penjual satai danguang-danguang yang menjual berkeliling menggunakan sepeda motor.

Saksikan juga video pilihan berikut ini: