Lambat Tangani Pandemi, Ekonomi Indonesia Kalah Telak dari China dan Vietnam

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia Terkontraksi minus 2,07 persen di sepanjang 2020. Angka negatif ini timbul akibat wabah pandemi Covid-19 berkepanjangan sejak Maret 2020.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan, perolehan tersebut jika dibandingkan dengan negara lain memang relatif tidak terlalu dalam. Namun menurutnya, Indonesia masih terlalu lama dalam melakukan pemulihan ekonomi.

"Tetapi, meskipun kita tidak turun sedalam negara lain, pemulihan ekonomi Indonesia di tingkat sebelum krisis ini agak lambat," kata Suharso pada konferensi pers di Kantor Pusat Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa (9/2/2021).

Dia lantas membandingkannya dengan China yang bergerak cepat. Negeri Tirai Bambu langsung melakukan operasi cepat tanggap dengan menetapkan lockdown 76 hari, dan membangun rumah sakit khusus dalam waktu 10 hari.

"Kalau kita belajar succes story dari negara lain kenapa mereka bisa pulih sebelum pandemi, China terutama dengan quick response-nya. Lalu dampak ekonominya tahun 2020 bisa naik 2,3 persen," paparnya.

Kemudian ia mengutip capaian Vietnam yang melakukan pengendalian, pembatasan sosial, hingga memulai kerjasama dengan Uni Eropa di sektor perdagangan. Sehingga pertumbuhan ekonominya di setahun penuh 2020 tetap tumbuh 2,9 persen.

Demikian juga dengan Taiwan, yang menetapkan protokol pengendalian di perbatasan negara dan karantina sementara sejak 31 Desember 2019. Lalu pada Januari-Maret 2020 memanfaatkan big data untuk distribusi masker dan penetapan denda bagi yang melanggar protokol, sehingga Juni sudah mulai menetapkan pelonggaran sosial.

"Sehingga ekonominya tumbuh 3 persen di sepanjang tahun 2020, meskipun PDB-nya di Q2 tergerus minus 0,6 persen dan ekspor minus 3,5 persen," jelas Suharso.

Menurut dia, vaksin Covid-19 turut menjadi perubah keadaan (game changer). Dalam hal ini, China memanfaatkan insentif lahan dan subsidi untuk pengembangan vaksin, jadi negara produsen vaksin terbesar.

"Sementara di Taiwan 60 persen populasi harus mendapat vaksin di 2021 sebelum relaksasi pembatasan sosial lebih jauh. Dan Vietnam tetap menerapkan protokol pengendalian Covid-19 dengan tegas sambil menunggu kesediaan vaksin," tuturnya.

Indonesia Butuh Rp 5.912 Triliun Kejar Pertumbuhan Ekonomi 5,5 Persen

Pemandangan deretan gedung dan permukiman di Jakarta, Rabu (1/10/2020). Meski membaik, namun pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020 masih tetap minus. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Pemandangan deretan gedung dan permukiman di Jakarta, Rabu (1/10/2020). Meski membaik, namun pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020 masih tetap minus. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan, Indonesia membutuhkan realisasi investasi antara Rp 5.817,3-5.912,1 triliun agar pertumbuhan ekonomi pada 2021 bisa mencapai 5,5 persen.

Sebagai catatan, realisasi investasi pada 2020 hanya mencapai Rp 4.897,78 triliun karena pertumbuhan ekonomi terkontraksi. Jumlah tersebut minus 4,95 persen dari realisasi investasi pada 2019.

Oleh karenanya, Suharso menyampaikan, dibutuhkan tambahan investasi sebesar Rp 919,52-1.014,32 triliun dari pendapatan di 2020 agar ekonomi dapat tumbuh di kisaran 4,5-5,5 persen.

"Dibutuhkan pendanaan sekitar Rp 5.817,3-5.912,1 triliun. Investasi pemerintah menyumbang sekitar 5,0-1,7 persen dari total kebutuhan investasi, sehingga diperlukan investasi dari non-pemerintah," ujar dia dalam konferensi pers di Kantor Pusat Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa (9/2/2021).

Menurut dia, Indonesia tak bisa terlalu mengharapkan investasi pemerintah yang secara share porsinya tak banyak. Begitu pula dengan investasi perusahaan BUMN, dengan porsi 4,9-8,1 persen.

Di sisi lain, porsi investasi pihak swasta memiliki share antara 84,7 hingga 90,1 persen.

Jika menilik pada perhitungan sebelumnya, Suharso menyatakan, prediksi Bappenas acapkali mendekati dengan realisasi sesungguhnya.

Dia mencontohkan angka pertumbuhan ekonomi 2020 Indonesia yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 2,07 persen, yang tak jauh dari perkiraan yang dikeluarkan Kementerian PPN/Bappenas dalam pemutakhiran Rencana Kerja Pemerintah (RKP) pada November 2020.

"Untuk pertama kali sejak krisis (ekonomi 1998) Indonesia mengalami kontraksi dengan pertumbuhan ekonomi minus 2,07 persen. Angka ini sangat dekat sekali dengan proyeksi Bappenas. Proyeksi Bappenas adalah minus 2,0 persen," ujarnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: