Langgar Aturan COVID-19, PM Jepang Yoshihide Suga Sangat Menyesal

Renne R.A Kawilarang, BBC Indonesia
·Bacaan 2 menit

Perdana Menteri Jepang, Yoshihide Suga, menyatakan menyesal karena melanggar aturan yang dibuat oleh pemerintahannya sendiri yang ditujukan untuk menekan pandemi Covid-19.

Pada hari Senin (14/12), Suga menghadiri jamuan makan malam di satu restoran di Tokyo bersama tujuh orang, yang berusia di atas 70 tahun. Situasi ini membuat mereka rawan terkena virus corona.

PM Suga mengatakan dirinya menerapkan protokol kesehatan secara ketat, namun tetap saja ia menyesalkan keputusan untuk hadir di jamuan makan malam tersebut.

"Saya menghadiri pesta hanya untuk mengucapkan salam dengan para tamu," kata Suga dalam acara berita Nippon TV.

"Namun saya berada di sana selama kurang lebih 40 menit dan mengobrol dengan mereka. Saya sangat menyesal," katanya.

Dalam kesempatan terpisah, kepada para wartawan, PM Suga mengatakan, "Masyarakat mungkin telah salah paham [dengan tindakan saya] ... karenanya saya sungguh menyesal."

Suga sebelumnya mendesak warga untuk tidak hadir di pesta-pesta maupun jamuan makan di saat angka kasus terus menanjak naik.

Meski begitu, ia sendiri hadir di beberapa acara ini dalam beberapa waktu terakhir, yang membuatnya dikecam di media sosial. Kecaman juga datang baik dari partai oposisi maupun anggota koalisi.

Yoshihide Suga
Yoshihide Suga mengakui pemerintah telah gagal memenuhi target menurunkan angka kasus virus corona.

"Ketika mereka meminta kita untuk menahan diri, mereka justru makan steak mewah," kata Jun Azumi, anggota parlemen dari partai oposisi kepada para wartawan, seperti dikutip kantor berita Reuters.

"Dukungan dari publik bisa ambruk," imbuhnya.

Aktor berusia 76 tahun, Ruotaro Sugi, termasuk di antara tamu yang hadir di acara jamuan makan malam PM Suga.

Kepada para wartawan di luar restoran, Sugi mengatakan acara yang ia hadiri adalah "pesta akhir tahun" dan mereka mengobrol soal baseball.

Juru bicara pemerintah, Katsunobu Kato, mengatakan pemerintah sangat memperhatikan kritik yang ditujukan kepada PM Suga. Ia juga mengakui bahwa kegiatan PM Suga "sudah memicu kesalahpahaman di masyarakat".

Infeksi masih tinggi dan pemerintah pimpinan Perdana Menteri Suga sudah menerima kenyataan bahwa mereka gagal memenuhi tenggat waktu mengurangi kasus positif virus corona dalam tiga pekan.

Data yang dirilis Johns Hopkins University hari Kamis (17/12) memperlihatkan jumlah kasus di Jepang mencapai setidaknya 187.751 dengan angka kematian 2.623 orang.

Pekan ini PM Suga membatalkan program subsidi yang ditujukan untuk mendukung sektor pariwisata dalam negeri dan juga mendukung usaha kecil.

Namun program ini dianggap mendorong warga melakukan perjalanan yang dalam prosesnya membantu menyebarkan virus corona.

Suga membekukan program subsidi selama liburan akhir tahun.