Langit gelap: Pertemuan PBB ungkap dunia dalam suasana yang benar-benar buruk

PBB (AP) - Planet ini bertambah panas. Pulau-pulau kecil menghilang. Perang nuklir India-Pakistan dapat menjadi "pertumpahan darah". Pemerintah tidak bekerjasama sebagaimana mereka biasanya. Polarisasi mencabik kita hingga berkeping-keping. Migrasi. Kemiskinan, Korupsi, Ketidak-setaraan. Pelanggaran kedaulatan. Ketidak-berdayaan. Keputus-asaan.

"Masalah pada jaman kita luar biasa," kata Ibraham Mohamed Solih, Presiden Maladewa, negara pulau kecil di Samudra Hindia yang terancam oleh kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim, dalam Sidang Majelis Umum PBB beberapa hari lalu.

"Ada pagi itu, ketika kalian tiba di tempat kerja dan setiap kelihatan dongkol. Itu lah rasanya di PBB satu pekan belakangan ini selama pertemuan tahunan para pemimpin dunia. Pidato demi pidato suram oleh para pemimpin dari segala sudut planet ini menunjuk kepada kesimpulan yang lebih suram: Umat manusia jelas memerlukan hari spa."

PBB didirikan dalam kondisi optimistis setelah kehancuran Perang Dunia II, dengan pendapat bahwa satu badan kerja sama semua negara dapat membangun masa depan yang lebih cerah dengan belajar untuk menyesuaikan diri.

Namun harapan itu tetap menjadi dasar, tenor sesungguhnya hari-hari ini tampaknya berada di posisi yang lebih rendah: Berusaha meringankan Argeddon iklim, dan mencegah sebanyak 193 upaya oleh negara anggotanya yang rajin untuk merendahkan dan kadangkala saling menghancurkan.

Jadi, kata-kata seperti "ancaman yang ada" ialah sebanyak bagian landskap pidato para pemimpin dalam satu pekan belakangan ini saat rujukan biasa ke "badan Agustus ini".

"Kita hidup pada erta ketika kekuatan dan jumlah krisis yang melanda terus meningkat," kata Igor Dodon, Presiden Moldova. "Kita sudah menghadapi cukup perang. Kami tak ingin perang baru," kata Presiden Irak Barham Salih, yang tentu saja mengetahui. Dan dari Roch Marc Christian Kabore, Presiden Burkina Faso, keluar pernyataan, "Berita internasional telah ditandai oleh ketegangan."

Sebagian pidato itu murni. Jika kalian adalah satu bangsa di dunia dan kalian ingin sesuatu --uang, tentara, tindakan, pengertian-- kalian haru meletakkan masalah sehingga kalian bisa mengusulkan penyelesaian atau, setidaknya, membujuk teman-teman kalian bahwa satu penyelesaian diperlukan.

Jadi para pemimpin dan diplomat membawa banyak masalah ke PBB saat ini, dengan harapan bisa menyebar pengaruh ke tingkat global --dan yang jarang, jika kalian anggota masyarakat yang lebih kecil.

Perubahan iklim adalah bagian inti dari itu. Satu keputusan PBB untuk benar-benar menempatkan topik tersebut di depan dan tengah yang menghasilkan pertemuan puncak iklim pemuda dan acara sepanjang hari sebelum pidato para pemimpin dimulai. Banyak bangsa menjawab seruan untuk mengumandangkan potensi ancaman yang cukup untuk menarik perhatian secara kolektif.

"Tantangan planet ini dan rakyat bertabrakkan dengan konsekuensi yang berjangkauan," kata Menteri Luar Negeri Belize Wilfred Elrington.

Namun, sekalipun mengingatkan konteks itu, itu terasa seakan-akan lebih banyak keputus-asaan daripada biasanya sedang melanda dunia. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Selasa meluncurkan dalam pembukaan proses, yang melukiskan gambaran suram mikromomen dalam sejarah manusia.

"Kita hidup di dunia yang tidak gelisah," kata Guterres.

"Sangat banyak orang khawatri terinjak-injak, gagal dan ditinggalkan," katanya. "Mesin mengambil-alih pekerjaan mereka. Penyelundup membawa pergi martabat mereka. Penghasut rakyat membawa pergi hak asasi mereka. Gembong perang merenggut nyawa mereka. Bahan bakar fosil merampas masa depan mereka."

Namun, apakah ini semua berbeda dari sebelumnya? Telah ada banyak momen selama 74-tahun sejarah PBB ketika kita berada di tebing jurang politik, spekulasi politik yang berbahaya, orang yang terusir dari tempat tinggal, wabah, kemungkinan perang nuklir. Kekacauan selalu berjaya, benar?

Tidak persis seperti itu. Agenda para pembicara pada Sabtu terpusat pada negara pulau dari seluruh dunia yang, sebagaimana banyak dari mereka katakan, berada di garis depan perubahan iklim. Buat mereka, itu bukan semata-mata pencairan gletser atau kematian banyak spesies; itu adalah badai yang kuat yang dapat menyapu mereka dan menaikkan air samudra yang dapat secara perlahan mengubah mereka menjadi hantu bawah air.

Jadi itu semangatnya? Mereka merasakannya sangat akut.

"Hanya ada satu tanah air bersama dan satu ras manusia. Tak ada Planet B atau planet pilihan yang layak untuk ditinggali," kata Gaston Browne, Perdana Menteri Antigua dan Barbuda, satu negara pulau di Karibia.

Tapi negara lain yang berpidato dalam Sidang Majelis Umum PBB nyaris tidak optimistis mengenai di mana kita sebagai satu peradaban. Dua yang terbesar --China dan Rusia-- cuma sama tumpulnya dalam penilaian landskap global yang mereka saksikan di depan mereka.

"Dunia hari ini bukan tempat yang damai," kata Menteri Luar Negeri China Wang Yi.

"Jumlah konflik di planet ini belum berkurang dan permusuhan tidak melemah," kata timpalannya dari Rusia, Sergey Lavrov. "Makin berat untuk menangani ini dan banyak tantangan lain dari tahun ke tahun. Perpecahan masyarakat internasional terus meningkat."

Demikian lah tradisi dengan PBB, para pemimpin memang membawa penyelesaian untuk diusulkan, dari tematik (mengurangi "defisit kepercayaan") sampai sangat khusus (perubahan Dewan Keamanan untuk meningkatkan perwakilan permanen Afrika). Barangkali yang paling umum adalah seruan baru buat dirangkulnya secara penuh multilateralisme, yang banyak negara --terutama negara kecil dengan keuletan global yang lebih sedikit-- pandang sebagai satu-satunya penyelamatan mereka.

Itu sangat benar pada era tempat makin banyak pemimpin kalangan atas --contoh utama yang meliputi Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson-- berputar ke arah pendekatan yang lebih sepihak kepada dunia.

"Tahun 2020 dapat dikenang dalam sejarah sebagai titik perubahan, atau pada saat multilateralisme kehilangan jalannya," kata Presiden Rwanda Paul Kagame.

PBB seringkali dikritik karena banyak bicara dan tidak berbuat banyak. Tapi ketika sampai pada pembicaraan yang fasih, terutama mengenai masa depan, lembaga tersebut selalu menjadi salah satu pemain yang kuat di bidang itu.

Jadi, tentu saja ada pertama optimistis yang bersinar di antara kotoran --mengenai kemampuan PBB untuk membentuk masa depan yang lebih cerah, mengenai potensi buat sublimasi konflik dalam proyek dan kesepakatan serta penyelesaian dan pemelihara perdamaian.

"Saya tidak percaya lagi pada pesimisme. Itu terlalu mudah," kata Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Kata-kata bagus, dan dari situlah gagasan bermula. Namun, datanglah satu pekan kesedihan dari sebagian orang yang paling cerdas, memiliki informasi paling banyak, paling kuat di Bumi, kalian tentu heran, "Jika PBB bukan tempat buat optimisme mengenai masa depan bersama yang makmur, barangkali sudah tiba waktunya untuk benar-benar khawatir."