Langkah Perusahaan Sony Ciptakan Lingkungan Inklusi bagi Karyawan dengan Gangguan Pendengaran

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta Gangguan pendengaran adalah masalah yang berkembang di seluruh dunia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2050 akan ada sekitar 2,5 miliar orang di seluruh dunia yang diproyeksikan mengalami gangguan pendengaran pada tingkat tertentu.

Seiring meningkatnya kasus gangguan pendengaran, sejumlah perusahaan memastikan produknya dapat diakses oleh penyandang disabilitas. TikTok, misalnya menambahkan teks otomatis ke video di platformnya pada April 2021. Instagram mengikuti hal yang sama dengan menawarkan stiker teks untuk fitur Stories. Tindakan ini sangat terpuji, dan kalau bisa, harusnya semua perusahaan harus bisa membuat produk dan layanan mereka dapat diakses oleh mereka yang mengalami gangguan pendengaran.

Namun, perusahaan juga harus merancang sistem internal yang membuat karyawan mereka yang mengalami gangguan pendengaran merasa terbantu.

Hal itu menjadi perhatian Kepala Komunikasi Perusahaan/Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Sony, Cheryl Goodman.

Dilansir dari Forbes, pada 2017 silam, ia merupakan karyawan yang mengalami gangguan pendengaran. "Saya berjuang untuk mendengar apa yang dikatakan rekan kerja saya. Gangguan pendengaran ini merupakan masalah kesehatan yang mempersulit pekerjaan apa pun, apalagi saya sebagai pemimpin komunikasi korporat eksekutif di sebuah merek global," katanya.

Ia menambahkan bahwa tanpa ia sadari, gangguan pendengarannya terus berkembang dan telah sampai puncaknya karena otosklerosis.

"Saya telah kehilangan 80% pendengaran saya di kedua telinga. Saat saya mendapatkan alat bantu dengar dan menjalani beberapa operasi, kolega dan bos saya di Sony mendukung saya. Hari ini, saya ingin memastikan bahwa karyawan lain juga merasa didukung oleh perusahaan saat mereka mengalami gangguan pendengaran."

Kiat mendukung karyawan disabilitas

Berikut ini empat cara efektif menurutnya untuk memastikan bahwa karyawan yang mengalami gangguan pendengaran dapat didengarkan bagi pemberi kerja. Tentu saja, pemberi kerja dapat menerapkan dasar di balik kiat-kiat ini untuk mendukung karyawan dengan kebutuhan aksesibilitas lainnya juga.

1. Membuat Karyawan Merasa Nyaman Mengungkapkan Gangguan Pendengaran

Banyak orang tidak pernah mengungkapkan gangguan pendengaran kepada atasan karena stigma tentang kondisi tersebut dan takut akan akibatnya. Perusahaan dapat memerangi pola pikir ini dengan menjalankan kampanye pengungkapan diri sukarela yang mendorong karyawan dengan gangguan pendengaran (dan kondisi medis lainnya) untuk mengungkapkan diri.

Sony sekarang menjalankan kampanye setiap bulan Maret yang mengadvokasi karyawan untuk mengungkapkan masalah kesehatannya sendiri untuk mendapatkan akses ke peralatan dan sumber daya yang mereka butuhkan untuk mempermudah pekerjaan.

"Kami memiliki grup sumber daya karyawan yang berfokus pada akses yang memandu perusahaan dalam menyiapkan kampanye tahunan ini. Ini adalah sesuatu yang dapat dieksplorasi oleh organisasi lain juga, karena kelompok sumber daya karyawan adalah cara yang bagus untuk membangun kepercayaan dan membantu pekerja merasa didukung."

Saat membangun kampanye mawas diri ini, pengusaha harus memastikan bahwa mereka mengikuti semua undang-undang yang berlaku (misalnya, Undang-Undang Penyandang Disabilitas). Mereka juga harus membuat proses pengungkapan diri menjadi nyaman dan aman, serta mengkomunikasikan kepada karyawan bahwa organisasi sedang mengumpulkan informasi untuk menyediakan akomodasi yang diperlukan. Setelah pengulangan kampanye tersebut, pengusaha juga harus mengumpulkan umpan balik karyawan dan memasukkannya ke dalam kampanye mendatang.

2. Beri Karyawan Akses ke Alat dan Sumber Daya yang Diperlukan

Begitu karyawan mengungkapkan sendiri gangguan pendengaran mereka, perusahaan harus memberi mereka alat dan sumber daya yang mereka butuhkan. Seperti dikutip dari MedlinePlus, alat dan sumber daya ini akan membantu karyawan terhindar dari rasa terisolasi secara sosial serta agar mereka tetap mandiri dengan rasa aman.

Pengusaha dapat mensurvei karyawan yang terkena dampak atau menjadwalkan pertemuan satu lawan satu untuk mempelajari kebutuhan mereka dan mendapatkan saran mereka. Dengan informasi ini, pemberi kerja dapat menentukan alat dan sumber daya mana yang paling sesuai untuk mengakomodasi karyawan mereka.

Beberapa contoh alat termasuk alat bantu dengar dan telepon dengan teks. Berbagai aplikasi dan alat online juga tersedia untuk membantu mereka yang mengalami gangguan pendengaran. Salah satu alat yang membantu saya dengan gangguan pendengaran saya adalah SonicCloud (SonicCloud dan Sony telah menjalin kemitraan jangka panjang), saran Cheryl.

3. Menyediakan Pilihan Asuransi Kesehatan yang Mencakup Alat Bantu Dengar

Meskipun alat yang terpenting adalah alat bantu dengar, tetapi banyak rencana asuransi kesehatan medis tidak mencakup alat bantu dengar. Sedangkan alat tersebut terbilang sangat mahal, apalagi menurut Cheryl sebelum Undang-Undang alat bantu dengar Generic disahkan.

Cheryl mengatakan ia harus membayar $7.000 (sekitar 100 juta rupiah). Jadi ia menyarankan untuk menilik asuransi yang mencakup alat bantu dengar. Kalaupun karena keterbatasan sediaan atau anggaran, perusahaan harus memberitahu karyawan yang mengalami gangguan pendengaran bahwa mungkin saja membebankan biaya alat bantu dengar. Misalnya karena di AS ada akun FSA dan HSA untuk membayar berapa persen dari harga asli alat bantu dengar.

4. Memulai Program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan yang Mengatasi Gangguan Pendengaran dan Mempertimbangkan Upaya Advokasi Lainnya

Misalnya, perusahaan dapat menyelaraskan dengan organisasi nonprofit gangguan pendengaran atau, jika sejalan dengan etos perusahaan mereka, mendaftar ke konferensi yang berfokus pada aksesibilitas, seperti Konferensi Teknologi Bantuan CSUN (Sony menghadiri konferensi ini).

Banyak perusahaan (seperti Sony) melakukan upaya ini secara global. Dalam kasus Sony, komitmen baru-baru ini menyebabkan kita menjadi salah satu dari 500 anggota perusahaan dari jaringan disabilitas global yang telah berkomitmen untuk menempatkan inklusi disabilitas dalam agenda kepemimpinan bisnis mereka. Tindakan dan pengakuan seperti ini dapat membantu menetapkan standar untuk bisnis lain. Bayangkan suatu hari di mana aksesibilitas adalah sesuatu yang diprioritaskan oleh setiap perusahaan.

Kemudian perusahaan dapat terlibat dengan upaya advokasi lainnya. Misalnya, Demokrat House saat ini mencoba untuk memperluas manfaat Medicare untuk memasukkan cakupan penglihatan, pendengaran dan gigi. Perusahaan dapat menyuarakan dukungan mereka untuk undang-undang ini dan undang-undang lain yang diusulkan di masa depan yang menyentuh akses dan inklusi kesehatan.

Dengan mengambil langkah-langkah di atas, perusahaan dapat memastikan bahwa karyawan mereka yang mengalami gangguan pendengaran didengar, diakui, dan dihargai. Hal ini tidak hanya meningkatkan keterlibatan dan produktivitas, tetapi tindakan ini juga dapat membantu perusahaan menarik pelamar dengan beragam perspektif yang dapat mengoptimalkan produk dan layanan untuk semua orang. Perusahaan dengan tenaga kerja yang beragam akan menciptakan produk yang dapat diakses oleh semua orang dan akan tetap berada di depan kebutuhan pelanggan dalam melakukannya.

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)

Simak Video Berikut Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel