LaNyalla: PSHT punya peran strategis jaga kualitas SDM Indonesia

·Bacaan 2 menit

Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti menilai Perguruan Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) mempunyai peran penting dan strategis menjaga kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia.

"Salah satu kualitas SDM adalah kesehatan, baik jasmani dan rohani, fisik dan mental. Di sinilah peran penting dari perguruan silat. Karena silat tidak hanya melatih fisik, tetapi juga mental. Tidak hanya menyehatkan raga, tetapi juga menyehatkan mental dan spiritual," kata LaNyalla, secara virtual dalam Sarasehan dan Buka Puasa Bersama PSHT di Madiun, Jatim, Sabtu.

Menurutnya, kualitas SDM ini berkaitan dengan era bonus demografi yang akan dimasuki Indonesia di Tahun 2045, saat Indonesia berusia satu abad.

Bonus demografi, kata dia, ditandai melimpahnya populasi penduduk usia produktif, yaitu banyaknya populasi penduduk dengan usia antara 15 hingga 60 tahun.

"Bonus demografi seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi adalah berkah atau peluang, tetapi di satu sisi bisa jadi musibah atau ancaman," ujar senator asal Jawa Timur itu.

Dijelaskan LaNyalla, melimpahnya penduduk usia produktif bisa menjadi peluang, karena dapat menggenjot pertumbuhan perekonomian negara.

Sebaliknya, menurut dia, jika besarnya usia produktif tidak dibarengi tersedianya lapangan pekerjaan, hal itu justru berpotensi meningkatkan jumlah pengangguran dan banyak permasalahan sosial lainnya, salah satunya meningkatnya angka kemiskinan.

"Bonus demografi dapat menjadi berkah apabila kualitas SDM di Indonesia memiliki standar yang mumpuni, sehingga akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi negara," ujar dia.

Sebaliknya, bencana demografi akan terjadi jika jumlah penduduk yang berada pada usia produktif ini tidak memiliki kualitas SDM yang baik, sehingga menghasilkan pengangguran massal dan menjadi beban negara.

"Di situlah peran perguruan silat, seperti PSHT, seharusnya mampu membentuk SDM yang berkualitas dari segi kesehatan jiwa dan raga," katanya.

Oleh karena itu, di momen satu abad, LaNyalla berharap PSHT tetap eksis, mengingat sejarah panjang lahirnya PSHT yang dikenal memiliki semangat juang dan dedikasi untuk kebesaran organisasi.

LaNyalla berharap PSHT dapat menjadi salah satu elemen yang mendorong Indonesia kembali ke jati diri aslinya, Pancasila. Sebab, hanya Pancasila yang mampu membawa bangsa menuju masa depan yang semakin kompleks.

"Pancasila adalah DNA dan watak asli bangsa. Pancasila merupakan wadah yang utuh bagi bangsa ini. Makanya saya berharap PSHT senantiasa memperjuangkan Pancasila sebagai jati diri bangsa," kata LaNyalla.

Hadir dalam acara itu Ketua Dewan Pusat PSHT H Issoebiantoro, Ketua Umum Pengurus Pusat PSHT R Moerdjoko HW, Sekretaris Umum Pengurus Pusat PSHT Tono Suharyanto, para pengurus PSHT di semua tingkatan dan perwakilan luar negeri, para pendekar serta warga PSHT.

Sementara itu, PSHT tercatat berdiri pada Tahun 1922, tetapi sejarah cikal bakal PSHT sebenarnya telah lahir sejak Tahun 1903 ketika Ki Ageng Ngabehi Surodiwiryo meletakkan dasar gaya pencak silat Setia Hati di Kampung Tambak Gringsing, Surabaya.

Pencak silat itu diteruskan muridnya, Ki Hajar Harjo Utomo, yang pada Tahun 1922 di Madiun, mendirikan perguruan Pentjak Sport Club atau PSC, yang kemudian diganti menjadi Pemuda Sport Club, yang singkatannya juga PSC.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel