Laporan Baru Mueller Soal WikiLeaks dan Eks Penasihat Trump

Ezra Sihite, DW Indonesia
·Bacaan 2 menit

Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) pada hari Senin (02/11) merilis bab baru dari laporan yang sebelumnya disunting, atas penyelidikan jaksa khusus Robert Mueller terhadap dugaan campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden AS tahun 2016.

Bab yang diterbitkan tepat sebelum malam pemilihan presiden AS 2020 itu menjelaskan mengapa kantor jaksa khusus tidak menuntut WikiLeaks dan pendirinya Julian Assange atau mantan penasihat dan sekutu lama Presiden AS Donald Trump, Roger Stone.

Menurut dokumen yang dibagikan oleh reporter Buzzfeed Jason Leopold dan pusat penelitian nirlaba Electronic Privacy Information Center (EPIC), kantor Mueller tidak menuntut WikiLeaks, Assange atau Roger dengan "konspirasi gangguan komputer karena tidak cukup bukti untuk mengamankan sebuah dugaan.

Tim jaksa khusus mengatakan bahwa komunikasi antara WikiLeaks dan petugas GRU, agen mata-mata utama Rusia, terjadi melalui obrolan terenkripsi.

"Kurangnya visibilitas ke dalam konten komunikasi ini akan menghalangi kemampuan kantor jaksa khusus untuk membuktikan bahwa WikiLeaks mengetahui dan bermaksud untuk bergabung dengan usaha kriminal yang terdiri dari para peretas GRU," menurut bab laporan yang baru dirilis.

Kantor Mueller tidak dapat menuntut Stone untuk "beberapa alasan hukum yang sama."

Timnya tidak bisa "membuktikan secara pasti terkait apakah Stone mengetahui atau percaya bahwa gangguan komputer sedang berlangsung pada saat dia seolah-olah mendorong atau mengoordinasikan publikasi email Podesta," kata laporan itu.

Penyelidikan yang tidak cukup bukti

Tim Mueller lebih lanjut menambahkan bahwa tuntutan apa pun akan mengalami masalah konstitusional jika para pihak yang dituntut mengklaim perlindungan di bawah Amandemen Pertama, yang menjamin kebebasan pers.

Pengungkapan terbaru adalah bagian dari tuntutan hukum pusat penelitian nirlaba EPIC dan Leopold di bawah undang-undang Kebebasan Informasi AS (FOIA). Melalui sebuah pernyataan, EPIC mengumumkan bahwa pengungkapan itu dianggap perlu setelah hakim AS memutuskan pencabutan laporan Jaksa Agung AS William Barr untuk kepentingan diri sendiri.

Sementara penyelidikan Mueller telah menemukan banyak hubungan antara pemerintah Rusia dan kampanye Trump dalam laporannya yang pertama kali diterbitkan pada April 2019, namun tidak cukup membuktikan bahwa tim Trump menjalin konspirasi dengan Rusia untuk memengaruhi pemilihan presiden 2016.

Trump menyebut penyelidikan itu sebagai "perburuan sihir" (penyelidikan bermotivasi politik) oleh saingannya, Partai Demokrat. (ha/pkp)