Laporan PBB: Taliban Afghanistan masih miliki hubungan dengan Al Qaeda

ISLAMABAD (AP) - Taliban di Afghanistan masih mempertahankan hubungan dekat dengan jaringan teror al-Qaeda, meskipun menandatangani perjanjian damai dengan Amerika Serikat di mana mereka berkomitmen untuk memerangi kelompok-kelompok militan, menurut sebuah laporan yang dirilis pada Selasa.

Para pemberontak segera mengecam laporan itu sebagai "tidak berdasar dan bias."

Kesepakatan AS-Taliban, yang ditandatangani di ibu kota Qatar, Doha, pada akhir Februari, dimaksudkan untuk memungkinkan pasukan Amerika Serikat secara bertahap meninggalkan Afghanistan setelah 19 tahun perang dan membuka jalan bagi negosiasi intra-Afghanistan yang akan membentuk masa depan politik negara itu.

Di bawah perjanjian itu, Taliban berjanji untuk memerangi kelompok-kelompok teror lainnya - termasuk al-Qaeda, yang pernah mereka tumpangi - dan mencegah gerilyawan itu menggunakan wilayah Afghanistan untuk melancarkan serangan ke Amerika.

Tetapi rincian komitmen anti-terorisme Taliban tidak pernah dipublikasikan. Zalmay Khalilzad, utusan perdamaian Washington dan arsitek perjanjian itu, mengatakan kerahasiaan itu diperlukan untuk melindungi operasi intelijen yang terlibat untuk menegakkannya.

Khalilzad mengatakan kepada wartawan di Washington pada Senin bahwa janji Taliban itu spesifik "dalam hal kehadiran mereka, dalam hal pelatihan, dalam hal rekrutmen, dan dalam hal penggalangan dana di wilayah yang saat ini mereka kuasai."

Dia bersikeras bahwa "kemajuan telah dibuat dan langkah-langkah masa depan kita dalam hal pengurangan kekuatan dan komitmen terkait" sekarang bergantung pada upaya Taliban memenuhi janji mereka.

Komite PBB yang berada di balik laporan itu mengatakan beberapa tokoh penting al-Qaeda tewas dalam beberapa bulan terakhir, tetapi sejumlah pemimpin terkemuka kelompok itu, yang pernah dipimpin oleh Osama bin Laden, tetap berada di Afghanistan. Laporan itu mengatakan mereka memelihara hubungan dengan jaringan Haqqani yang ditakuti, sekutu Taliban, dan masih memainkan peran penting dalam operasi Taliban.

Perang dan sejarah bersama terus mengikat kedua kelompok militan itu. Beberapa pemimpin penting al-Qaeda, seperti Ayman al-Zawahri yang menggantikan bin Laden sebagai pemimpin jaringan teror, memiliki keterlibatan di Afghanistan sejak perang tahun 1980-an melawan invasi Uni Soviet, ketika mujahidin Afghanistan, atau para petempur, juga dibiayai oleh AS untuk menggulingkan pasukan Moskow.

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengeluarkan pernyataan berbahasa Inggris yang mengecam laporan PBB itu. Taliban, katanya, "sesuai dengan perjanjian Doha, tidak akan mengizinkan siapa pun untuk menggunakan tanah Afghanistan guna berperang melawan pihak lain atau memiliki kamp pelatihan atau menggunakan tanah kami untuk membangun serangan terhadap pihak lain."

Kritikus kesepakatan AS-Taliban telah menyatakan keprihatinan atas ketidakjelasan kesepakatan itu dan memperingatkan hal itu membuat pemantauan kepatuhan para pemberontak menjadi sulit.

"Salah satu dari banyak masalah dengan kesepakatan yang sangat cacat ini adalah bahwa kewajiban Taliban terhadap anti-terorisme dijelaskan sangat samar," kata Michael Kugelman, wakil direktur program Asia di Wilson Center yang berbasis di Washington. Menurutnya kesepakatan itu bahkan tidak menyebut al-Qaeda.

"Paling tidak, Washington harus menuntut agar Taliban menghentikan semua komunikasi dengan tokoh senior Al-Qaeda," kata Kugelman.

Laporan PBB, bagaimanapun, mencatat kontribusi Taliban dalam memerangi afiliasi kelompok IS di Afghanistan. IS telah menjadi semakin agresif, melakukan serangan mengerikan di ibu kota, Kabul. Kelompok itu juga diyakini berada di balik serangan brutal terhadap rumah sakit bersalin bulan lalu yang menewaskan 24 orang, terutama ibu-ibu muda dan juga dua bayi yang baru lahir.

Dalam wawancara telepon Senin dengan wartawan, Khalilzad juga mengatakan bahwa Taliban telah menjadi bagian penting dalam pertempuran AS dan pasukan Afghanistan melawan IS.

"Daesh (IS) bekerja melawan perdamaian ... dan mereka bertanggung jawab ... atas beberapa serangan paling pengecut baru-baru ini," katanya, menggunakan nama Arab untuk IS.

Meski begitu, Kugelman memperingatkan agar tidak meremehkan hubungan Taliban dengan Al-Qaeda.

"Jika AS mengabaikan hubungan berlanjut Taliban dengan kelompok teror yang ingin dihilangkan oleh pasukan AS hampir 19 tahun yang lalu di Afghanistan, maka Anda memiliki beberapa pandangan yang sangat buruk," katanya.