Laporan: Rusia Rekrut Tentara Afghanistan yang Dilatih AS untuk Perang di Ukraina

Merdeka.com - Merdeka.com - Rusia diketahui sedang merekrut pasukan komando Afghanistan yang dilatih oleh pasukan Amerika Serikat (AS) untuk diterjunkan di Ukraina.

Berdasarkan laporan tiga mantan jenderal Afghanistan, kantor berita AP News mengatakan, pasukan-pasukan komando itu akan direkrut menjadi legiun asing Rusia. Rusia juga akan memberikan pasukan-pasukan itu upah sebesar USD 1.500 atau Rp 23.4 juta per bulan dan tempat tinggal bagi mereka beserta keluarga.

Perekrutan yang dilakukan Rusia adalah tawaran menggiurkan bagi anggota pasukan komando itu, sebab kehidupan pasukan-pasukan itu beserta keluarga mereka akan terancam jika mereka kembali ke Afghanistan yang sekarang dikuasai Taliban.

"Mereka (pasukan komando) tidak ingin berperang – tetapi mereka tidak punya pilihan," ujar salah satu jenderal, Abdul Raof Arghandiwal, dikutip dari AP News, Selasa (1/11).

"Mereka bertanya kepada saya, ‘Beri saya solusi? Apa yang harus kita lakukan? Jika kami kembali ke Afghanistan, Taliban akan membunuh kami," lanjutnya.

Abdul menjelaskan pasukan-pasukan komando itu direkrut Rusia melalui kelompok tentara bayaran Wagner Group.

Jenderal lain, Hibatullah Alizai menjelaskan perekrutan yang dilakukan Rusia turut dibantu oleh komandan-komandan pasukan komando Afghanistan yang tinggal di Rusia.

Sebelumnya Navy Seal AS dan Baret Hijau angkatan darat AS yang melatih pasukan komando Afghanistan telah berkali-kali memberi tahu mengenai ancaman perekrutan yang dilakukan Rusia. Mereka yakin pasukan komando Afghanistan yang kabur dari Taliban dapat membantu musuh-musuh AS.

Mereka meyakini informasi-informasi rahasia terkait taktik tempur AS dapat disebarkan anggota pasukan itu kepada Iran atau Rusia.

"Kami tidak mengeluarkan orang-orang ini (dari Afghanistan) seperti yang kami janjikan. Saya tidak ingin melihat mereka di medan perang mana pun, terus terang, tetapi tentu saja tidak melawan Ukraina," jelas pensiunan perwira CIA yang bertugas di Afghanistan, Michael Mulroy.

Meski terdapat temuan-temuan rekrutmen yang dilakukan, namun Rusia enggan memberikan komentar mengenai rekrutmen itu. Bahkan pendiri Wagner Group, Yevgeny Prigozhin menyatakan perekrutan mantan pasukan komando Afghanistan tidak masuk akal.

Hingga kini belum diketahui berapa banyak mantan pasukan komando Afghanistan yang meninggalkan negara mereka semenjak diambil alih Taliban.

Kantor berita AP menjelaskan sekitar 400 anggota pasukan komando sedang mempertimbangkan penawaran Rusia. Alasan karena ditinggalkan negara pun menjadi alasan utama kenapa anggota pasukan itu ingin direkrut Rusia.

“Kami pikir mereka mungkin membuat program khusus untuk kami, tetapi tidak ada yang memikirkan kami. Mereka baru saja meninggalkan kita semua di tangan Taliban,” jelas seorang anggota pasukan khusus.

Anggota itu menjelaskan Rusia menawarkan visa untuk dirinya beserta seluruh keluarganya yang masih berada di Afghanistan.

Seorang veteran perang AS menjelaskan, anggota pasukan komando Afghanistan sering menjadi sasaran penyiksaan oleh pemerintahan Taliban.

Bahkan organisasi Human Rights Watch mengungkap lebih dari 100 mantan anggota militer Afghanistan, anggota badan intelijen, dan polisi hilang tiba-tiba semenjak Taliban mengambil alih pemerintahan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mengeluarkan laporan pertengahan Oktober lalu yang mencatat 160 pembunuhan di luar hukum dan 178 penangkapan mantan anggota pemerintah dan militer Afghanistan.

Sebab itu tawaran Rusia sangat menggiurkan bagi mantan pasukan komando Afghanistan.

“Saudara laki-laki saya tidak punya pilihan lain selain menerima tawaran itu. Ini bukan keputusan mudah baginya,” jelas seorang saudara laki-laki anggota pasukan komando.

Alizai juga menjelaskan Rusia memusatkan perekrutan di Kota Tehran dan Mashhad, kota-kota yang dekat dengan perbatasan Afghanistan.

Jenderal lainnya, Abdul Jabar Wafa mengungkap jika dia tidak mengetahui pasti berapa banyak anggota pasukan komando yang menerima tawaran Rusia.

Sebelumnya sebanyak 20.000 hingga 30.000 anggota pasukan khusus Afghanistan dilatih oleh pasukan AS. Dari puluhan ribu pasukan komando, hanya beberapa yang berhasil pindah ke AS semenjak Taliban mengambil alih.

“Mereka (pasukan komando) adalah orang-orang yang berjuang sampai menit terakhir. Dan mereka tidak pernah pernah berbicara dengan Taliban. Mereka tidak pernah bernegosiasi. Meninggalkan mereka adalah kesalahan terbesar,” jelas Alizai.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]