Larang Wisatawan Miskin ke Labuan Bajo, Apa Maksud Gubernur NTT?

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Laiskodat beberapa waktu lalu sempat mengeluarkan pernyataan fenomenal, yang melarang wisatawan tak berduit untuk berwisata di NTT, sebab wilayahnya dirancang untuk menjadi destinasi wisata kelas premium.

"Oleh karena itu wisatawan yang miskin jangan datang berwisata ke NTT. Karena memang sudah dirancang untuk wisatawan yang berduit," kata Viktor Laiskodat.

Menanggapi ucapan tersebut, Kepala Kantor Direktur Jenderal Perbendaharaan NTT Lidya Kurniawati Christyanti mengatakan, itu merupakan sebuah bahasa marketing guna memancing pemasukan dana memperbaiki kawasan wisata Labuan Bajo.

"Itu bahasa marketing. Pak Gubernur NTT kan statement-nya itu selalu menohok. Mungkin ini bahasanya beliau yang menyatakan bahwa banyak tempat wisata potensial loh di Nusa Tenggara Timur yang ternyata itu belum disentuh secara baik, belum dikelola secara baik," ungkapnya di Labuan Bajo, NTT, Jumat (15/11/2019).

"Sehingga untuk menunjang wisata yang potensial tapi sesuai dengan keinginan mereka, itu memang memerlukan biaya yang cukup tinggi," dia menambahkan.

Sebagai contoh, ia meneruskan, banyak wisatawan yang kesulitan datang ke tempat tersebut lantaran tidak semua penerbangan jarak jauh dapat langsung berlabuh ke Labuan Bajo.

Oleh karena itu, Lidya menyebutkan, maka pemerintah sangat memikirkan terlebih dahulu memperbaiki sarana prasarana hingga akses untuk menuju ke salah satu tempat yang dijadikan Bali Baru ini.

"Saya yakin (jika itu selesai dilakukan), nanti biayanya akan menjadi lebih rendah lagi dibanding sekarang," pungkas Lidya.

Target 1,5 Juta Turis Kunjungi Labuan Bajo Tak Tercapai Tahun Ini

Pemandangan Labuan Bajo dari atas Bukit Cinta (Liputan6.com/Ola Keda)

Badan Otoritas Pariwisata (BOP) memastikan target kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang ditetapkan pemerintah sebanyak 1,5 juta orang belum akan tercapai pada 2019.

Direktur Utama BOP Labuan Bajo Shana Fatina menyatakan, target itu belum akan terpenuhi lantaran bandar udara di tempat tersebut hingga kini belum berstatus internasional. 

"Mungkin udah pada denger semua, bahwa targetnya itu 500 ribu wisatawan mancanegara dan 1 juta wisatawan dalam negeri tahun 2019. Kalau ditanya apakah tercapai tahun ini, jelas tidak. Karena bandara sebagai critical success factor kami tuh belum benar-benar jadi internasional," ujarnya di Labuan Bajo, NTT, Jumat (15/11/2019).

Namun, ia mengungkapkan adanya peningkatan jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Labuan Bajo pada periode 2015-2017 hingga mencapai 207 persen. Pertumbuhan wisatawan lokal bahkan lebih tinggi, yakni mencapai 448 persen.

Secara perbandingan, Shana meneruskan, prosentase wisatawan Nusantara saat ini memang telah naik. "Kalau dulu 2015 itu 70 persen asing, 30 persen wisatawan Nusantara, kalau sekarang komposisinya 65:35. Jadi, sudah mulai naik," ucapnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, BOP ke depan ingin menjadikan Labuan Bajo sebagai pintu gerbang ecotourism di Nusa Tenggara Timur.

"Labuan Bajo itu didesain bukan dia untuk ke Pulau Komodo, tapi untuk ke NTT. Itu kenapa semua pembangunan dipusatkan di Labuan Bajo," kata dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: