Larangan di Kashmir dorong beberapa orang di Pakistan bicarakan soal bergabung kembali dengan gerilyawan

Muzaffarabad, Pakistan (Reuters) - Tiga dasawarsa lalu, Ali Mohamad mengatakan ia melakukan perjalanan ke Kashmir yang dikuasai India untuk bergabung dengan satu kelompok kecil gerilyawan bersenjata. Sekarang ia bekerja di satu toko di wilayah Pakistan di Kashmir, tapi ia belum membuat pikiran untuk kembali ke konflik tersebut.

Setelah Pemerintah India menutup Kashmir pekan ini, Ali sekali lagi telah berfikir untuk kembali.

"Saya belum pergi, kami semua menyaksikan," katanya. Ia menambahkan bahwa ia percaya semua orang Kashmir akan mengangkat senjata ketika diperlukan.

"Saya berperang buat hak saya. Ketika seseorang menindas anda maka apa lagi yang bisa anda lakukan?" kata Ali (53, yang dilahirkan di Kashmir yang dikuasai India dan pindah ke wilayah Pakistan.

India, yang berusaha mengetatkan cengkeramannya atas wilayah itu, pekan lalu mencabut hak khusus buat Negara Bagian Jammu dan Kashmir. New Delhi telah memutus semua saluran komunikasi, melarang pertemuan umum lebih dari empat orang dan menahan ratusan pemimpin politik dan separatis.

Perubahan undang-undang dasar tersebut akan berarti semua non-warga akan bisa membeli harta, mendapat pekerjaan di pemerintah dan mendaftar di perguruan tinggi, sehingga membuat marah pesaingnya, Pakistan, yang mengklaim wilayah tersebut sebagai miliknya dan menuduh India berusaha mengubah demografik satu-satunya negara bagian yang mayoritas warganya Muslim.

Tindakan itu juga telah membuat marah banyak orang di kedua sisi Kashmir, yang memandang India sebagai memaksakan keinginannya atas wilayah tersebut tanpa memberi rakyat kesempatan untuk memutuskan nasib sendiri.

Ali tidak sendirian dalam mempertimbangkan apakah ia mungkin bergabung kembali dalam perjuangan bersenjata.

Pada 1990-an, Tanveer-ul-Islam adalah salah satu komandan utama Tehreek-Ul-Mujahidin, satu kelompok yang melawan kekuasaan India --yang dilarang sebagai organisasi teroris oleh New Delhi pada Februar.

Ali dan banyak gerilyawan lain mencela kekerasan beberapa dasawarsa lalu, tapi mengatakan sebagian veteran konflik Kashmir telah marah oleh keputusan India.

"Jika situasi berlanjut itu mungkin memaksa kami untuk mengangkat senjata lagi. Itu bukan cuma saya, ada banyak orang lain," katanya.

Jika pandangan Ali dan Tanceer mewakili satu fraksi rakyat di Kashmir, itu dapat menciptakan ancaman yang bertambah buruk mengenai serangan bersenjata buat India.

Yang pasti, mayoritas pengungsi dari Kashmir yang dikuasai India yang Reuters ajak bicara di Muzafarabad, Ibu Kota Kashmir yang dikuasai India, mengatakan mereka tidak mendukung perjuangan bersenjata. Dan sebagian mengatakan itu cuma berakhir dengan melukai warga biasa Kashmir. Malah, mereka ingin melihat tindakan yang lebih kuat terhadap India olhe Pakistan dan masyarakat internasional.

Konflik Bersejarah

India dan Pakistan, kedua negara bertetangga yang bersenjata nuklir, telah dua --dari tiga-- kali terlibat mengenai Kashmir dan terlibat dalam bentrokan udara pada Februari, setelah satu kelompok gerilyawan yang berpusat di Pakistan mengaku bertanggung-jawab atas satu serangan terhadap rombongan militer India.

India telah lama menuduh Pakistan mendanai dan menampung kelompok itu. Islamabad membantah tuduhan tersebut, dan mengatakan Pakistan hanya memberikan dukungan moral dan diplomatik buat kaum separatis tanpa kekerasan di wilayah India.

Di Kota Kecil Chakothi, tiga kilometer (dua mil) dari Jalur Pemantauan (LoC) --yang memisahkan Kashmir yang dikuasai Pakistan dan India, Zeeshan Sadiq mengatakan beberapa keluarga mulai membangun kembali tempat perlindungan bawah tanah.

Beberapa bom India menghantam daerah itu pada Februari.

"Banyak tetangga tersebut juga datang untuk tinggal di sini, sebab bunker mereka rusak," kata Sadiq. Ia merangkak di ruang beton yang diperkuat di bawah rumahnya.

"Sekarang semua orang di sini membangun kembali tempat perlindungan mereka."

Pekan lalu, Pakistan menuduh India menggunakan bom tandan --yang tidak sah, sehingga menewaskan dua warga sipil dan melukai 11 orang lagi. India telah membantah menggunakan senjata semacam itu. Baku-tembak antara kedua negara telah meningkat dalam dua tahun belakangan ini di LoC.

Pemadaman listrik telah membuat komunikasi di seluruh perbatasan jadi tidak mungkin, kata warga.

Istri seorang pedagang, Aijaz Ahmad Meer, dan dua putrinya sedang mengunjungi Srinagar, Ibu Kota Kashmir yang dikuasai India, ketika New Delhi memutus saluran telepon dan layanan Internet.

"Saya tidak mendengar kabar mereka selama lima hari," kata Ajaz.

"Saya berbicara dengan putri saya yang berusia tujuh tahun malam sebelum komunikasi terputus. Ia berkata, 'papa kami menghadapi masalah di sini' dan sejak itu saya tak mendengar kabar apa pun."