Larangan Mudik, Doni Monardo: Butuh Kerelaan Ajak Perantau Tak Pulang Kampung

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Medan Upaya memutus mata rantai COVID-19 di Tanah Air tak cukup dilakukan oleh Pemerintah saja, melainkan dibutuhkan kerelaan dan kesadaran diri dari masyarakat.

“Dibutuhkan kerelaan masyarakat untuk mengajak perantau agar tidak (mudik) pulang ke kampung halaman,” kata Ketua Satgas COVID-19 Doni Monardo di sela-sela Rapat Koordinasi Penanganan COVID-19 bersama jajaran Pemerintah Provinsi Sumut di Aula Tengku Rizal Nurdin, Komplek Pendopo Rumah Dinas Gubernur Sumatera Utara, Medan, Selasa (20/4/2021).

“Kepulangan perantau ke kampung halaman akan menimbulkan persoalan, meningkatkan kasus COVID-19 di berbagai daerah. Apalagi kalau daerah tidak memiliki fasilitas Rumah Sakit yang memadai, maka dampaknya akan sangat fatal."

Belajar dari momentum libur nasional pada tahun 2020, terutama di Sumatera Utara, data Satgas Penanganan COVID-19 menunjukkan, angka kasus aktif naik secara signifikan pasca liburan.

Hal itu dikarenakan adanya mobilitas penduduk yang sangat berpeluang menjadi perantara, baik yang menularkan maupun tertular COVID-19. Akibatnya, tingkat ketersediaan tempat tidur rumah sakit mengalami peningkatan, beberapa di antaranya bahkan penuh.

“Sumatera Utara tahun lalu, peningkatan kasus itu terjadi setelah Idulfitri. Meningkatkan besar sekali," Doni Monardo menjelaskan.

"Sampai akhirnya puncaknya ada pada bulan September. Sehingga rumah sakitnya pun penuh, angka kasusnya juga sangat tinggi."

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

COVID-19 Masih Jadi Ancaman bagi Setiap Orang

Ketua Satgas COVID-19 Doni Monardo saat Rapat Koordinasi Penanganan COVID-19 bersama jajaran Pemerintah Provinsi Sumut di Aula Tengku Rizal Nurdin Komplek Pendopo Rumah Dinas Gubernur Sumut, Medan, Selasa (20/4/2021). (Dok BNPB)
Ketua Satgas COVID-19 Doni Monardo saat Rapat Koordinasi Penanganan COVID-19 bersama jajaran Pemerintah Provinsi Sumut di Aula Tengku Rizal Nurdin Komplek Pendopo Rumah Dinas Gubernur Sumut, Medan, Selasa (20/4/2021). (Dok BNPB)

Sebagai seorang penyintas, kata Doni Monardo saat Rapat Koordinasi Penanganan COVID-19 bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Barat juga menjelaskan, sejauh ini COVID-19 masih menjadi ancaman bagi setiap orang.

Apabila penanganannya terlambat, maka risiko terburuk adalah kematian. “Kalau terlambat dirawat di rumah sakit, maka risikonya adalah kematian,” kata Doni di Kota Painan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Kamis, 15 April 2021.

Selain itu, Doni kembali menegaskan, vaksinasi bukan jaminan seseorang tidak terpapar COVID-19. Vaksin berhubungan dengan daya tahan dan kekebalan tubuh seseorang. Sehingga dengan vaksinasi, seseorang mampu lebih tahan terhadap COVID-19.

“Vaksin tidak menjadi jaminan bahwa kasus COVID-19 akan berkurang. Tapi vaksin bisa membantu membuat orang menjadi lebih tahan terhadap COVID-19,” tegasnya melalui keterangan resmi yang diterima Health Liputan6.com.

Sebagaimana arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), pengendalian COVID-19, yakni menjalankan ‘gas dan rem’. Hal itu harus dilakukan bersama-sama mengingat pandemi belum berakhir.

“Gas dan rem. Kita harus bisa kontrol. Kita harus bisa mengendalikan emosi. COVID-19 belum berakhir, masih ada. Tidak ada negara di dunia ini yang terbebas dari COVID-19,” imbuh Doni, yang juga Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Infografis 3 Paket Ampuh Lawan Covid-19

Infografis 3 Paket Ampuh Lawan Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis 3 Paket Ampuh Lawan Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)

Simak Video Pilihan Berikut Ini: