Larangan Pemakaian Solar Subsidi Tak Efektif

TRIBUNNEWS.COM, RENGAT - Pelarangan penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar bersubsidi sejak Jumat (1/3), ternyata tidak efektif. Sebab, para sopir truk pengangkut barang tambang, perkebunan dan kehutanan tetap mengantre di SPBU untuk memperoleh BBM subsidi.

Seperti di SPBU Pematangreba, Kabupaten Indragiri Hulu. Beberapa truk pengangkut Crude Palm Oil (CPO), tampak mengantre untuk memperoleh solar bersubsidi, meskipun saat itu stok solar bersubsidi sudah habis.

Padahal di jalur sebelahnya, stok solar non-subsidi masih tersedia dengan jumlah cukup banyak. Namun, para sopir tetap ingin mengisi solar bersubsidi dan mereka memilih meninggalkan truknya antre di SPBU. Para sopir baru kembali lagi setelah stok solar bersubsidi tersedia di SPBU.

Di sisi lain beberapa sopir truk ingin mengisi BBM dan sudah memarkirkan truknya di pompa solar nonsubsidi memilih membatalkan niatnya mengisi BBM. Penyebabnya, harga solar non subsidi Rp 11.400 per liter, sementara harga solar bersubsidi Rp 4.500 per liter.

Pengelola SPBU Pematangreba, Sriyanto mengungkapkan, dari delapan SPBU di Kabupaten Inhu, hanya SPBU Pematangreba sudah menyediakan solar non subsidi mulai 1 Maret 2013. Hingga kemarin siang, baru 65 liter solar non subsidi terjual dari stok 20 ribu liter.

"(Baru) 65 liter solar nonsubsidi terjual. Itu yang beli tiga mobil, masing-masing 1 plat merah milik Pemkab Inhu, satu mobil box cargo dan satu lagi mobil Triton, mungkin milik perusahaan," ungkapnya.
Sriyanto membenarkan harga solar non subsidi Rp 11.450 per liter.

Harga tersebut ditetapkan Pertamina dan biasanya dua kali dalam satu bulan akan berubah tergantung harga minyak dunia. "Kami dari SPBU saat ini hanya bisa menyarankan agar truk pertambangan, perkebunan dan kehutanan mengisi solar non subsidi. Tetapi kami tidak bisa memaksa, karena bukan kewenangan kami," ungkapnya.

Bahkan apabila telah disarankan, sopir truk tetap memilih mengisi solar bersubsidi, Sriyanto menegaskan, akan tetap akan melayani pembelian solar bersubsidi untuk truk tersebut. "Yang jelas kita sudah pasang spanduk dan tulisan besar-besar, di SPBU Pematangreba menyediakan solar non subsidi," ungkapnya.

Hanya saja, tuturnya, lebih dari sepekan terakhir ini, Pertamina mengurangi kuota solar bersubsidi. Jika sebelumnya SPBU Pematangreba memperoleh solar bersubsidi 40.000-60.000 liter per hari, saat ini paling banyak 36.000 liter per hari.

Pemilik SPBU Rengat, SPBU Belilas dan SPBU Peranap, Dodi Neveldi mengungkapkan, dalam waktu dekat, SPBU Belilas juga menyediakan solar non subsidi bagi angkutan pertambangan, perkebunan dan kehutanan.

"Karena di SPBU kita belum menyediakan solar non subsidi, hari ini (kemarin) truk pertambangan, perkebunan dan kehutanan akan mengisi solar bersubsidi masih kita layani. Tapi sampai siang ini solar bersubsidi belum masuk ke SPBU kita," ungkapnya.

Dodi menegaskan, SPBU hanya bisa menyarankan kepada truk pertambangan, perkebunan dan kehutanan mengisi solar non subsidi. Tetapi jika sopir tetap ngotot ingin membeli solar bersubsidi, mereka tidak bisa memaksa. "Kalau kita sifatnya menyarankan. Kalau penindakan itu kewenangan pemerintah dan pihak terkait," kata Dodi.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...