Last Christmas: Isu Aktual Bersanding Dengan Pesan Klasik Natal, Hasilnya?

Liputan6.com, Jakarta Selamat tinggal Halloween, selamat datang Natal. Per 1 November lalu, lagu Natal mulai menggema dari "Last Christmas" hingga "All I Want For Christmas is You."

Tembang "Last Christmas" yang legendaris ditulis dan diproduksi mendiang George Michael. Dipopulerkan duo musisi Inggris Wham! pada Desember 1984, "Last Christmas" bertengger ke posisi ke-25 di tangga lagu Billboard Hot 100 dan membuka 5 besar di Billboard Holiday 100.

Bahkan di tangga lagu resmi Inggris, lagu ini berada di posisi runner-up. Berkali-kali di-cover musisi lain, "Last Christmas" tahun ini diusung ke layar lebar.

Tak main-main, skenario Last Christmas ditangani Emma Thompson yang meraih Piala Oscar Skenario Adaptasi Terbaik lewat film Sense and Sensebility.

Dari Yugoslavia ke London

Henry Golding dan Emilia Clarke dalam Last Christmas. (Foto: Dok. IMDb/ Universal Pictures)

Cerita Last Christmas bermula ketika pasangan Ivan (Boris Isakovic) dan Petra (Emma Thompson) pindah dari Yugoslavia ke London. Ivan-Petra membawa kedua putri mereka, yakni Kate (Emilia Clarke) dan Marta (Lydia Leonard). Pindah negara membuat kejiwaan Petra terguncang. Tak tahan dengan kondisi ini, Ivan memilih pisah ranjang. Ia banting setir dari pengacara menjadi pengemudi taksi.

Marta sukses berkarier di sebuah firma. Dua kali naik jabatan, tak serta merta membuatnya bahagia. Ada sesuatu yang mengganjal di benaknya. Sementara hidup Kate berantakan. Minggat dari rumah, Kate jadi tunawisma. Ia menumpang inap di rumah sejumlah sahabat dan jadi pelayan toko milik Santa (Michelle Yeoh). Kate mengalami krisis identitas.

Suatu siang, ia berpapasan dengan Tom (Henry Golding) di depan toko. Bagi Kate, Tom pria aneh. Hobi menari di jalanan dan melihat ke atas. Kate sebal ketika Tom sering menghilang tanpa kabar. Suatu malam, Tom mengajak Kate berkunjung ke apartemennya. Di sanalah, Kate untuk kali pertama merasa nyaman dan menjadi diri sendiri.

 

Kebahagiaan Universal

Salah satu adegan film Last Christmas. (Foto: Dok. IMDb/ Universal Pictures)

Di tangan Emma, kita bisa berharap naskah Last Christmas tergarap rapi. Tak hanya bicara cinta, Emma ceriwis membahas sejumlah isu aktual lewat sentilan jenaka. Isu keragaman dan imigran disajikan lewat adegan di dalam bus. Penerimaan untuk mereka yang memilih jadi (maaf) LGBT disajikan lewat drama orangtua dan anak.

Isu-isu ini dikawinkan dengan esensi Natal yang klasik yakni berbagi kasih. Last Christmas menolak untuk terperangkap dalam kemasan komedi romantis yang berakhir bahagia. Emma memilih kebahagiaan yang bersifat universal. Kebahagiaan untuk semua. Kita melihat rentetan konflik yang serupa benang kusut terurai. Satu per satu masalah rampung lewat komunikasi, pernyataan latar belakang, permintaan maaf, dan berbagi yang jadi sinonim Natal.

Karena ini karya Paul Feig, ada banyak selera humor dari yang slapstick hingga kacaunya situasi. Sinematografer John Schwartzman memanfaatkan sudut-sudut kota menjadi sumber hawa romantis. Dari gang tersempit London hingga taman yang dikunjungi orang-orang bermasalah.

Ada Yang Patut Disayangkan...

Michelle Yeoh memperkuat film Last Christmas. (Foto: Dok. IMDb/ Universal Pictures)

Last Christmas terasa sederhana dari cara bertutur, penyelesaian konflik, hingga chemistry para pemain. Menyenangkan melihat interaksi Emilia dan Henry dari saling ledek, jaga gengsi, hingga jatuh cinta. Emma sendiri memberi ruang bagi para tokoh untuk berproses. Kate di tangan Emilia bertumbuh dari cewek selebor menjadi lebih peka.

Santa yang judes memperlihatkan sisi baik saat menemukan cinta. Petra punya alasan mengapa depresi. Pun Marta punya motif khusus mengapa menyimpan rahasia. Sayangnya, ada beberapa masalah yang penyelesaiannya terasa instan. Misalnya, masalah Marta yang cepat selesai tanpa menggali pertentangan batin lebih dalam.

Bisa jadi, karena Marta hanya pemeran pendukung dan Kate yang kompleks butuh ruang lebih lebar agar bisa selesai dengan dirinya sendiri. Hal lain yang mengganggu, lagu "Last Christmas" yang terlalu sering diputar. Dampaknya signifikan. Saat diputar di adegan puncak, daya magisnya tak sedahsyat yang kami harapkan.

Hati Terasa Hangat

Henry Golding dan Emilia Clarke di toko milik Santa. (Foto: Dok. IMDb/ Universal Pictures)

Di atas kekurangan dan kelebihannya, Last Christmas jadi salah satu film Natal termanis untuk beberapa tahun ke depan. Pertalian emosi Emilia dan Henry adalah magnet yang sulit ditepis. Bergulir dengan kecepatan sedang, lalu membolak-balik hati penonton. Untuk sesaat kami tak mau menerima kenyataan terkait kisah cinta keduanya.

Namun setelah membaca ulang lirik lagu "Last Christmas," memahami kembali esensi Natal, dan melihat bagaimana sang tokoh utama mekar, kami tahu ending film ini adalah keputusan paling masuk akal yang dibuat Emma, Bryony, maupun Paul Feig.

Tak ada antagonis di film ini. Pun tak ada yang 100 persen protagonis. Layaknya di kehidupan nyata, setiap manusia memiliki sisi gelap, motif, dan keinginan untuk berubah. Ini pula yang membuat Last Christmas dengan mudah terkoneksi ke penonton. Usai menonton Last Christmas, hati terasa hangat. Ada air mata yang mengendap.

Ada pertanyaan yang ujug-ujug muncul di relung. Bunyinya, apakah kita sudah cukup memberi kepada orang lain? Atau setidaknya, apakah kita sudah jadi manfaat bagi keluarga? Kebaikan sekecil apa pun tetaplah kebaikan. Memberi manfaat sekecil apa pun, tetaplah manfaat.

 

Pemain: Emilia Clarke, Henry Golding, Michelle Yeoh, Emma Thompson, Boris Isakovic, Lydia Leonard, Maxim Baldry

Produser: Jessie Henderson, David Livingstone, Emma Thompson, Paul Feig

Sutradara: Paul Feig

Penulis: Emma Thompson, Bryony Kimmings

Produksi: Universal Pictures

Durasi: 1 jam, 43 menit