Latar Belakang Dibuatnya Kode Internasional Pemasaran Produk Pengganti ASI

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Pada era 70 hingga 80an terjadi penurunan drastis angka menyusui dan kenaikan angka kematian bayi. Dua hal ini terjadi karena praktik-praktik promosi produk formula yang tidak etis.

Hal ini melatarbelakangi diciptakannya Kode Internasional Pemasaran Produk Pengganti ASI yang selanjutnya disebut ‘Kode Internasional’ untuk mengatur promosi produk formula seperti susu dan makanan pendamping ASI (MPASI).

Menurut Konselor Menyusui dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), Lianita Prawindarti, pada Oktober 1979 diadakan pertemuan 4 pihak yang diselenggarakan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) dan Unicef.

Empat pihak tersebut meliputi pemerintah berbagai negara, kelompok-kelompok peneliti, industri, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).

“Ada rekomendasi yang muncul pada pertemuan itu bahwa mempromosikan menyusui dan melindungi ibu hamil serta menyusui dari pengaruh yang bisa menghalangi proses menyusui adalah tanggung jawab bersama,” ujar Lianita dalam konferensi pers AIMI, ditulis Sabtu (22/5/2021).

Lianita menambahkan, praktik pemberian makan bayi dan anak (PMBA) yang buruk adalah akibat dari masalah yang dibuat oleh semua pihak. Rekomendasi berikutnya adalah harus ada Kode Internasional yang mengatur pemasaran formula bayi dan produk lainnya yang dianggap masuk dalam kategori produk pengganti ASI.

Tidak Boleh Ada Pemasaran Produk Pengganti ASI

Pertemuan empat pihak itu juga melahirkan rekomendasi bahwa sebetulnya tidak boleh ada pemasaran produk pengganti ASI seperti formula atau makanan bayi kecuali suatu negara sudah mengadopsi Kode Internasional-nya.

“Makanya Kode Internasional ini harus ada sebagai pondasi penting mengatur proses promosi dan pemasaran produk formula dan makanan pengganti ASI yang lain,” kata Lianita.

Proses lahirnya kode diadopsi pada 1981. Kode ini berlaku global di seluruh dunia tanpa kecuali. Semua kebijakan nasional termasuk di Indonesia yang ditetapkan dalam rangka melindungi menyusui harus merujuk pada Kode Internasional ini.

“Dan yang penting kita selalu berulang-ulang sampaikan adalah Kode Internasional adalah standar minimum yang direkomendasikan. Artinya, ketentuan dan regulasi nasional semestinya lebih ketat dan lengkap ketimbang yang ditetapkan Kode Internasional,” tutup Lianita.

Dikutip dari situs AIMI, Indonesia mengadopsi Kode Pemasaran PASI di dalam KEPMENKES yang mengatur pemasaran formula bayi umur 0-12 bulan. Namun demikian, tidak sedikit pelanggaran kode yg masih terjadi di fasilitas kesehatan. Pelanggaran-pelanggaran tersebut antara lain:

- memberikan bingkisan berupa sampel formula bayi dan/atau botol dot kepada pasien pasca persalinan,

- memberikan formula bayi tanpa indikasi medis dan tanpa memberikan informasi mengenai risiko pemberiannya

- membuka konter/booth khusus produk PASI dan botol dot merek tertentu

- memberikan sponsor untuk kegiatan yang diadakan oleh fasilitas kesehatan, atau yang diikuti oleh tenaga kesehatan, misal seminar kesehatan, lomba bayi sehat, seminar parenting, senam hamil, dan lain-lain,

- promosi langsung via telpon atau sms ke pasien pasca persalinan,

- adanya label atau dekorasi khas yang menggambarkan merek formula bayi/MPASI instan tertentu di taman bermain, buku Kesehatan Ibu dan Anak, timbangan, alat ukur tinggi badan, pulpen, jam, kalender, dan cinderamata lainnya.

Infografis 9 Panduan Imunisasi Anak Saat Pandemi COVID-19

Infografis 9 Panduan Imunisasi Anak Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis 9 Panduan Imunisasi Anak Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)

Simak Video Berikut Ini