Latihan Militer AS-Israel Ditunda, Diduga Takut dengan Iran

REPUBLIKA.CO.ID, JERUSALEM - Latihan militer gabungan, yang akan digelar pada musim semi tahun ini, antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dibatalkan. Alasan penundaan tersebut karena untuk menghindari ketegangan dengan Iran. Demikian diungkapkan sumber dari kedua negara, Ahad (15/1).

Media di Israel melaporkan ditundanya latihan militer ini karena keterbatasan anggaran. Tetapi beberapa pakar berspekulasi langkah ini dilakukan karena takut menciptakan gesekan lebih lanjut dengan Iran.

Pejabat AS membantah ketegangan dengan Iran menjadi penyebab ditundanya latihan militer itu. Juru bicara Angkatan Laut Pentagon, Kapten John Kirby mengatakan tidak jarang latihan rutin harus ditunda. "Ada berbagai faktor bermain dalam kasus ini, tetapi secara umum, para pemimpin dari kedua belah pihak percaya bahwa partisipasi optimal oleh semua unit dicapai akhir tahun ini," kata Kirby.

Sumber Israel yang tidak disebut namanya juga membantah spekulasi itu. "Untuk sejumlah alasan terutama logistik, tetapi bukan alasan tegang dengan Iran," kata sumber tersebut. Sementara pejabat Israel lainnya mengatakan, AS ragu atas sanksi terhadap Bank Sentral Iran dan sektor minyak, karena takut terjadi lonjakan harga minyak.

Sebelumnya, pada 5 Januari kemarin, Israel mengumumkan bahwa militer Israel sedang bersiap-siap untuk menggelar latihan militer dengan pasukan AS. Menurut DEBKAfile yang dikutip di laman IRIB, gesekan antara Israel dan AS mencuat ke permukaan pekan lalu setelah Tel Aviv marah atas kecaman Washington terhadap pembunuhan ilmuwan nuklir Iran, Mostafa Ahmadi Roshan.

Menurut laman IRIB, sebuah sumber militer mengatakan kepada DEBKAfile bahwa Gedung Putih membuat pengumuman mendesak untuk menggarisbawahi pemisahan total pemerintahan Obama dari persiapan untuk menyerang Iran. Washington juga menekankan posisinya bahwa jika serangan terjadi, Israel sendiri akan bertanggung jawab.

Sebelum ditunda, AS telah mulai membangun kehadiran militernya dengan penyebaran hampir 15 ribu tentara di Kuwait dan mempertahankan dua kapal induk di Timur Tengah, yaitu USS Carl Vinson dan USS John Stennis serta regu penyerang. Kapal induk ketiga, USS Abraham Lincoln juga dalam perjalanan ke Teluk Persia.

Menurut laporan itu, membuktikan bahwa AS dan Israel tidak harmonis dalam masalah Iran, karena AS sendiri masih membutuhkan waktu untuk membujuk negara lain guna mendukung sanksi-sanksi melawan Bank Sentral Iran dan sektor minyak.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.