Lawan Corona, Pemerintah Perlu Fokus Investasi Manusia

Lazuardhi Utama

VIVA – Jumlah kasus Virus Corona COVID-19 di Indonesia pada Rabu sore, 8 April 2020, mencapai 2.956 kasus, di mana jumlah yang meninggal dunia menjadi 240 orang dan 222 orang sembuh dari wabah tersebut.

Pemerintah memberikan kesempatan kepada seluruh pemerintah daerah (pemda) untuk mengajukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam meningkatkan aktivitas physical distancing atau menjaga jarak fisik. Sementara untuk rapid test sudah lebih 150 ribu alatnya didistribusikan ke seluruh Indonesia.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor, Didin S Damanhuri, menyoroti efektifitas penerapan PSBB oleh pemerintah. Ia berpendapat, pemerintah saat ini harusnya memprioritaskan penanganan dan perlindungan masyarakat dari penularan maupun wabah COVID-19.

Dengan diprioritaskannya dana untuk pencegahan COVID-19, maka yang harus dilakukan pemerintah menyediakan alat pelindung diri (APD) yang banyak untuk tenaga kesehatan, penyediaan kamar perawatan untuk pasien tertular Corona, memproduksi masker bedah yang cukup, baik untuk masyarakat maupun petugas medis.

"Begini, kalau kita bayangkan untuk Corona ini kita produksi masker dan APD secara massal. Nah, alat kesehatan ini diperuntukkan bagi dokter dan perawat. Lalu, rumah sakit juga disubsidi. Inilah yang menyelamatkan nyawa manusia sekaligus menyelamatkan sektor ekonomi lain sebenarnya," kata dia di Jakarta, Rabu, 8 April 2020.

Dengan demikian, Didin mengingatkan bahwa pendekatannya tidak dalam bentuk pemberian uang (operational cost) melainkan investasi sumber daya manusia (human capital investment).

"Dan, ini adalah sebuah penyelamatan orang-orang (SDM) unggul, bahkan dokter dan perawat sekalipun,” ungkapnya.

Ia juga menyebut pemulihan maupun pertumbuhan ekonomi di Indonesia sangat bergantung pada keberhasilan pemerintah menangani penyebaran COVID-19.

"Kalau pemerintah berhasil menghentikan wabah Virus Corona, artinya itu adalah recovery strategy juga untuk ekonomi nasional," jelas Didin.