Lawan Hoaks di Masa Pandemi COVID-19 dengan Literasi Digital

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Hoaks atau informasi tidak benar seputar pandemi, penanganan COVID-19, mitos-mitos kesehatan, serta tentang vaksinasi masih banyak beredar. Tak sedikit pula orang yang mempercayai hoaks tersebut, meski sumbernya tidak jelas.

Tenaga Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika Donny Budi Utoyo mengatakan, rata-rata ada 4 hingga 5 hoaks baru terkait COVID-19 beredar setiap hari sejak Februari 2021 hingga sekarang. Dia menyampaikan, hoaks terkait vaksinasi sendiri mencapai 150 dan tersebar pada 900 titik.

"Hoaks yang terkait vaksinasi sekarang ada 150. Itu terhitung sejak Oktober 2020, sebarannya jauh lebih dahsyat lagi, tersebar pada 900 titik,” terangnya dalam Dialog Produktif bertema “Hoaks Dilawan, Jangan Biarkan” yang diselenggarakan KPCPEN, dan ditayangkan di FMB9ID_IKP, Selasa (30/3).

Hal itu juga dibenarkan Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) Septiaji Eko Nugroho. “Hoaks memang dikemas dengan memikat melalui judul-judul yang sensasional. Masalahnya isu COVID-19 ini diikuti semua kalangan. Berbeda dengan isu politik dan pemilu 2019, tidak semua masyarakat mengikutinya,” terangnya.

Donny menyebut permasalahan hoaks tidak bisa hanya diatasi oleh satu pihak saja, melainkan harus komprehensif dari hulu ke hilir. Salah satunya dengan literasi digital.

“Penanganan hoaks harus komprehensif dari hulu ke hilir. Dalam konteks informasi ada istilah literasi digital, ini yang perlu didorong. Sementara pasal-pasal itu ada di bagian bawah (hilir), itu pun upaya terakhir jika memang di hulu kita sudah berusaha semaksimal mungkin, yang perlu diutamakan adalah kerja-kerja kolaboratif para pemangku kepentingan,” terangnya.

Program Literasi Digital

Menurut keterangan Donny, Kemkominfo sedang menjalankan program literasi digital salah satunya melalui program Siberkreasi. “Sepanjang 2021 kita menargetkan 12,5 juta orang untuk mendapatkan pemahaman literasi digital, salah satunya melawan hoaks,” tuturnya.

Septiaji menjelaskan, perlu waktu untuk membangun pemahaman masyarakat yang kuat, “Literasi digital ini memang proses yang panjang, hasil dari literasi digital mungkin bisa dirasakan 5 – 10 tahun ke depan,” terangnya.

Donny, menekankan strategi komunikasi untuk mencegah hoaks di kalangan masyarakat harus didukung semua kalangan.

“Memang betul pemerintah harus turun tangan, tokoh masyarakat dan tokoh agama juga harus turut membantu. Tapi kita semua yang punya gadget adalah prajuritprajurit perang untuk melawan hoaks. Sehingga daripada kita mengutuk gelap lebih baik kita menyalakan lilin. Maksudnya kalau kita ragu itu hoaks, jangan kita sebarkan.”

Infografis

Infografis 3 Manfaat Tidur Cukup Cegah Risiko Penularan Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis 3 Manfaat Tidur Cukup Cegah Risiko Penularan Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)

Simak Juga Video Berikut Ini