Lawan Misinformasi, Twitter Gelar Tes untuk Pengguna di Australia, AS, dan Korsel

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Twitter membuat suatu eksperimen baru terkait pemberantasan hoaks di platform mereka. Twitter mengizinkan penggunanya di Australia, Amerika Serikat, dan Korea Selatan (Korsel) untuk melaporkan atau menandai informasi yang berpotensi menyesatkan masyarakat.

Tindakan yang dilakukan mulai hari ini, Rabu (18/8/2021), merupakan bagian untuk memantau misinformasi dalam platform mereka.

Selama kurun waktu sebulan, Twitter akan mengumpulkan data-data serta menilai pelaporan yang diajukan dari pengguna. Pilihan untuk melaporkan akan muncul setelah mengklik tombol lapor pada sebuah tweet.

“Kami mungkin tidak mengambil tindakan dan tidak dapat merespons setiap laporan pada eksperimen ini. Tapi masukan Anda akan membantu kami mengidentifikasikan tren sehingga meningkatkan kecepatan dan skala kerja misinformasi,” kata akun keamanan Twitter, dikutip dari ZDnet.com.

Dengan melakukan analisis laporan pengguna, Twitter juga dapat lebih memahami asal usul misinformasi.

Twitter akan mengaktifkan kembali petunjuk pada timeline pengguna terkait informasi vaksin Covid-19 secara spesifik pada empat belas negara, salah satunya Australia. Petunjuk tersebut memberikan informasi terkait keamanan vaksin, efektivitas, rencana distribusi, dan ketersediaan vaksin.

Tentu, sistem baru ini akan menghadapi beberapa kesulitan. Melansir TheGuardian.com, Twitter mengatakan, konsep dari “misinformasi” dan “konten menyesatkan” dapat diinterpretasikan secara luas. Fungsi pelaporan dari pengguna juga dapat disalahgunakan untuk menjatuhkan konten tertentu.

Selama pandemi berlangsung, Twitter juga telah berkontribusi untuk memerangi misinformasi. Dengan kontribusi tersebut, Twitter mengembangkan kebijakan terkait informasi menyesatkan dan menghapus akun seorang politikus asal Amerika Serikat, Marjorie Taylor Greene, karena menyebarkan konten menyesatkan.

Twitter mengatakan, telah mengambil tindakan pada 3,5 juta akun secara global karena melanggar aturan. Sebanyak 3.400 akun di antaranya terkait informasi tentang Covid-19 yang sesat.

(MG/ Amadea Claritta)

Sumber:

https://www.theguardian.com/australia-news/2021/aug/18/twitter-to-allow-australian-users-to-flag-potential-misinformation-during-month-long-trial

https://www.zdnet.com/article/twitter-to-allow-users-in-us-south-korea-and-australia-to-report-misleading-tweets/

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi patner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel