Lawatan PM Israel ke Arab Saudi Picu Spekulasi

Renne R.A Kawilarang, DW Indonesia
·Bacaan 3 menit

PM Israel Benjamin Netanyahu diisukan berkunjung ke Arab Saudi. Israel ingin memanfaatkan momentum diplomasi menyusul dugaan, administrasi baru AS bakal kembali ke Perjanjian Nuklir Iran dan merecoki catatan HAM Saudi.

Adalah koresponden diplomatik Israel, Barak Ravid, yang pertamakali menyebar kabar heboh tersebut. Dia melaporkan, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Direktur Dinas Rahasia Mossad, Yosef Meir Cohen, menumpangi pesawat milik seorang pengusaha bernama Udi Angel, pada Minggu (22/11) malam.

Ravid melacak jet pribadi itu terbang pada pukul 20:00 waktu setempat menuju NEOM, kota futuristik yang dibangun Arab Saudi di pesisir Laut Merah. Di sana delegasi dari Yerusalem sudah ditunggu oleh, antara lain, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo. Lima jam berselang, pesawat yang ditumpangi Netanyahu kembali mendarat di Israel.

Laporan Ravid yang diunggah di Walla News itu sontak memicu desas-desus perihal normalisasi hubungan diplomasi antara Israel dan Arab Saudi. Jika benar, Arab Saudi bakal menjadi negara Arab keenam yang resmi berhubungan diplomasi dengan negeri Yahudi tersebut.

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi sendiri menepis kebenaran desas-desus seputar pertemuan di NEOM.

“Saya bertemu Pompeo di bandara dan pergi bersamanya menuju pertemuan. Saya lalu mengantarnya kembali ke bandara. Hanya pejabat Saudi dan Amerika saja yang hadir selama pertemuan,” kata Menlu Faisal bin Farhan al-Saud.

Tapi sebaliknya, Yoav Gallant, anggota kabinet keamanan Israel, mengatakan kepada stasiun radio militer, “bahwa pertemuan itu terjadi dan diungkap ke publik, meski saat ini hanya separuh resmi, adalah hal yang sangat penting,” kata dia menurut laporan kantor berita AP.

Di tempat lain, Menteri Pertahanan dan Perdana Menteri alternatif, Benny Gantz, mengeluhkan dirinya tidak mendapat informasi perihal perjalanan tersebut. Dia menuduh Netanyahu bertanggungjawab atas “kebocoran tidak bertanggungjawab tentang penerbangan rahasia ke Arab Saudi,” yang bisa melukai Israel, kata dia seperti dilansir The Jerusalem Post.

Isyarat kepada Biden?

Manuver diplomasi Netanyahu dilancarkan ketika AS dilanda kevakuman kekuasaan menyusul proses transisi pemerintahan yang tersendat pasca pemilu kepresidenan.

Di babak terakhir masa jabatannya, Trump mengirimkan Menlu Mike Pompeo berkeliling Timur Tengah untuk melobi kerajaan Saudi agar mengikuti langkah jiran di Teluk dan menormalisasi hubungan dengan Israel, begitu laporan Reuters mengutip lingkaran diplomasi di Washington.

Upaya AS dan Israel mempercepat normalisasi hubungan dengan Arab Saudi diyakini merupakan antisipasi terhadap perubahan kebijakan di Gedung Putih terhadap Timur Tengah dan Iran.

Dalam sebuah pidato, Minggu (22/11), PM Netanyahu mengingatkan agar AS tidak kembali ke Perjanjian Nuklir Iran seperti yang sudah digariskan Presiden Donald Trump.

Presiden terpilih AS, Joe Biden, sejatinya merupakan sahabat Israel dan telah berteman dengan Benjamin Netanyahu sejak bertahun-tahun. Namun dia turut membidani Perjanjian Nuklir 2015 bersama bekas Presiden Barack Obama. Sebabnya Biden diyakini akan kembali memulihkan dukungan AS terhadap perjanjian tersebut.

Eytan Gilboa, Guru Besar Politik di Universitas Bar-Ilan di Tel Aviv, meyakini pertautan baru antara Israel dan negeri Arab dibangun untuk menghadapi Iran. Sebab itu pula menurutnya administrasi baru AS tidak akan terlalu mendukung normalisasi hubungan Arab Saudi dan Israel.

“Pemerintah Iran akan mengatakan Anda tidak bisa mendapat kedua hal: Anda tidak bisa bernegosiasi dengan kami, dan saat yang sama memperluas koalisi untuk melawan kami,” kata Gilboa.

Menurutnya, pejabat-pejabat Israel mengkhawatirkan, kelompok kiri progresif di Partai Demokrat AS akan mempengaruhi pemerintahan Biden. “Sayap progresif dan radikal di Partai Demokrat” pada dasarnya berpandangan “anti-Israel,” dan mereka sedang naik daun, kata dia.

Sebab itu administrasi Biden diyakini akan menuntut reformasi di pemerintahan Arab Saudi jika ingin mendapat restu Washington terkait normalisasi hubungan dengan Israel. Relasi antara Riyadh dan Gedung Putih juga akan terganjal kasus pembunuhan terhadap jurnalis Jamal Khashoggi yang belum jelas hingga kini.

Ketika ditanya pada Sabtu (21/11), apakah Riyadh akan mengubah kebijakannya terkait Israel, Menlu Saudi Faisal bin Farhan mengatakan pihak kerajaan “sudah sejak lama” menginginkan normalisasi, tapi dengan kondisi bahwa Israel dan Palestina sebelumnya menyepakati “perjanjian damai secara penuh dan permanen.”

rzn/vlz (rtr, ap, afp, jpost, haaretz)