Lebanon Gelap Gulita Usai Generator Listrik Negara Kekurangan Bahan Bakar

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Beirut - Lebanon tanpa listrik pada akhir pekan ini, menjerumuskan negara tersebut dalam kegelapan di tengah krisis ekonomi yang parah.

Dilansir dari laman BBC, Minggu (10/10/21021), seorang pejabat pemerintah mengatakan pada Reuters bahwa dua pembangkit listrik terbesar di negara itu, Deir Ammar dan Zahrani, telah ditutup karena kekurangan bahan bakar.

Jaringan listrik benar-benar berhenti bekerja pada siang hari akhir pekan waktu setempat dan tidak mungkin beroperasi kembali dalam beberapa hari, kata mereka.

Selama 18 bulan terakhir, Lebanon telah mengalami krisis ekonomi dan kekurangan bahan bakar yang ekstrim.

Krisis tersebut menyebabkan setengah penduduk Lebanon hidup dalam kemiskinan, melumpuhkan mata uang, dan memicu demonstrasi besar-besaran menentang para politisi.

Kekurangan mata uang asing sementara membuat Lebanon sulit membayar pemasok energi luar negeri.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Tengah Bergelut dengan Dampak Ledakan Beirut

Akibat dari ledakan besar terlihat di Beirut, Lebanon, Selasa, 4 Agustus 2020 (AP Photo)
Akibat dari ledakan besar terlihat di Beirut, Lebanon, Selasa, 4 Agustus 2020 (AP Photo)

Banyak penduduk Lebanon sudah bergantung pada generator bertenaga diesel swasta untuk mendapatkan listrik. Namun, hal tersebut menjadi semakin mahal di tengah kurangnya bahan bakar, dan tidak mencakupnya jaringan listrik nasional.

Biasanya, Lebanon hanya mendapat 2 jam pemakaian listrik dalam sehari sebelum mati listrik terakhir ini.

Dalam sebuah pernyataan, perusahaan listrik Lebanon pun mengonfirmasi penutupan dua pembangkit listrik, yang sama-sama menyediakan 40% listrik negara itu.

Penutupan kedua pembangkit listrik menyebabkan pamadaman total jaringan listrik, dan tanpa kemungkinan untuk melanjutkan operasi sementara waktu.

Kantor berita Al Jazeera melaporkan aksi proters di kota utara Halba, di luar kantor perusahaan listrik negara, serta penduduk memblokir jalan dengan membakar ban di kota Tripoli.

Lebanon juga tengah bergulat dengan dampak ledakan Beirut pada Agustus 2020, yang menewaskan 219 orang dan melukai 7.000 lainnya.

Setelah ledakan terjadi, pemerintah mengundurkan diri, menyebabkan kelumpuhan politik. Najib Mikati menjadi perdana menteri pada September, lebih dari setahun setelah pemerintahan sebelumnya mundur.

Bulan lalu, kelompok militan Hizbullah membawa bahan bakar Iran ke Lebanon untuk meringankan kekurangan. Penentangnya mengatakan kelompok militan menggunakan pengiriman bahan bakar untuk memperluas pengaruhnya.

Reporter: Ielyfia Prasetio

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel