Lebaran Tak Signifikan Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Liputan6.com, Jakarta - Jelang Lebaran di tengah pandemi Corona covid-19, beberapa pusat perbelanjaan kembali beroperasi dan langsung dibanjiri oleh pengunjung. Ramainya mal atau pusat perbelanjaan ini umum terjadi setiap tahun dalam situasi normal.

Pengamat ekonomi Piter Abdulah memperkirakan, angka pertumbuhan ekonomi akan sedikit terdongkrak jelang Lebaran 2020. Pasalnya, masyarakat masih cukup antusias untuk berbelanja meski dalam masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

"Kalau dilihat bagimana masyarakat masih begitu semangat untuk merayakan Lebaran, pasar-pasar kembali ramai, saya perkirakan ada sedikit kenaikan pada hari-hari menjelang Lebaran," ujarnya kepada Liputan.com, dikutip Minggu (24/5/2020).

Namun demikian, lanjut Piter, kenaikan ini masih jauh di bawah kondisi normal. Menurut pengamatannya, konsumsi masyarakat menjelang Lebaran kali ini hanya terbatas pada produk makanan dan sedikit sandang. Sehingga meskipun ada peningkatan, hanya akan terjadi sementara.

"Jadi kalau kita bandingkan kuartal ke kuartal, saya perkirakan masih akan melambat, Q to Q, atau kuartal 2 dibandingkan kuartal 1 pertumbuhan ekonomi akan berada di kisaran minus 1 sampai dengan minus 2 persen. Sementara secara YoY, triwulan 2 tahun ini dibandingkan triwulan 2 tahun 2019, akan mengalami kontraksi minus 3 sampai dengan 5 persen" sambungnya.

Pertumbuhan Ekonomi Melambat

Pemandangan gedung-gedung bertingkat di Ibukota Jakarta, Sabtu (14/1). Hal tersebut tercermin dari perbaikan harga komoditas di pasar global. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Hal serupa juga diungkapkan oleh peneliti di Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, yang menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi masih akan mengalami perlambatan.

Selain itu, daya beli masyarakat juga masih mengalami kemerosotan dan belum pulih akibat krisis terakhir imbas pandemi covid-19.

"Lebaran ini pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mengalami penurunan yang tajam. Sangat mungkin minus di kuartal kedua," jelas Bhima kepada Liputan6.com.

"Daya beli masyarakat merosot tajam karena PHK massal, pekerja dirumahkan tanpa digaji dan pembayaran THR tidak full," sambungnya.