Lebih 60 Persen Obat dan Kosmetika Masih Mengandung Alkohol

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Pemerintah Indonesia diminta menghentikan penggunaan alkohol, dan menggunakan senyawa lain yang halal menurut agama, pada semua produk obat-obatan dan kosmetika.

Ini ditegaskan Ketua Program Studi Farmasi Unisba Dr Embit Kartadarma, belum lama ini. Sebab, lebih dari 60 persen produk obat dan kosmetika di Indonesia ternyata masih mengandung alkohol.

Menurutnya, beberapa produk yang disinyalir masih menggunakan alkohol dalam proses produksinya antara lain obat kumur, injeksi, hair tonic, dan parfum. Ada juga penggunaan etanol untuk pelarut pada obat sirup.

"Masih seperti ini karena keilmuan kita banyak mengacu pada dunia barat yang non muslim. Kita bisa didobrak dengan mengganti senyawa lain yang halal, harus diubah dari sekarang. Karena, ini untuk melindungi muslim supaya tidak menggunakan atau mengonsumsi barang haram. Sesuatu yang halal setelah tercampur barang haram (alkohol) akan menjadi haram," papar Embit pada acara seminar Kefarmasian Islam III dengan tema 'Alkohol pada Produk Farmasi dalam Tinjauan Syariah dan Ilmiah" di Aula Unisba, Sabtu (5/1/2013).

Meski begitu, lanjutnya, dunia farmasi Indonesia sudah mulai mengurangi penggunaan alkohol, karena sudah tahu status zat alkohol yang digunakan.

Selain itu, saat ini semakin tinggi kesadaran masyarakat, khususnya pasien, untuk tidak menggunakan obat yang mengandung alkohol.

Embit mengakui, butuh waktu untuk bisa mewujudkan industri farmasi yang bebas alkohol. Juga, perlu ada kerja sama antara ulama (MUI) dan ahli farmasi.

"Ilmu halal haram dari MUI, dan kami untuk  keilmuan farmasinya. Sehingga, bisa menciptkan produk yang halal," ucapnya.

Kendalanya, kata Embit, ada pada industri. Apakah mereka mau beralih? Karena, selama ini mereka sudah merasa enak dengan obat lama yang menggunakan alkohol. Kalangan industri khawatir, obat baru akan menurunkan omset.

Dosen Farmasi Unisba Suwendar memaparkan, kadar alkohol sebagai komponen pelarut dalam sediaan farmasi oral atau untuk diminum, relatif rendah menimbulkan efek toksik. Namun, masalahnya adalah kehalalan produk, dan bukan kadarnya.

"Etanol yang digunakan untuk antiseptik, tidak diminum, hanya untuk kontak dengan permukaan tubuh, insya Allah tidak menimbulkan masalah. Namun, untuk yang diminum masih menimbulkan masalah. Karena, berapa pun kadar etanol yang diminum tetap haram," jelas Suwendar.

Menurutnya, solusi pengganti alkohol menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang bergelut di bidang farmasi. (*)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.