Lebih asyik mana, bikin film anggaran besar atau produksi lama?

Alviansyah Pasaribu

Anggapan bahwa membuat film dengan dana bombastis pasti selalu menyenangkan tak seutuhnya benar.

Menurut sutradara Hanung Bramantyo, di balik kucuran dana yang besar, ada tuntutan dan tanggung jawab yang berat.

Sutradara "Bumi Manusia" yang menelan biaya miliaran itu mengatakan kepada ANTARA beberapa waktu lalu ada banyak tanggung jawab yang harus dipenuhi saat membuat film berdana besar.

Ada tenggat waktu yang harus dipenuhi, tuntutan untuk mendapatkan penonton sebanyak mungkin, permintaan untuk melibatkan aktor-aktris tertentu hingga memikirkan kepentingan sponsor yang ingin produknya muncul di dalam film.

"Semakin besar, semakin begitu. Semakin kecil, semakin kita memiliki waktu banyak untuk mengedit," tutur Hanung.

Baca juga: Melihat sinema dari perspektif sineas muda Aditya Ahmad

Baca juga: Jelang Hari Film, ini enam bintang muda paling bersinar

Ketika dikejar-kejar tenggat waktu penayangan, waktu untuk mengedit film menjadi terbatas.

"Tidak ada kesempatan untuk istirahat sebentar, melihat film kita dari jauh, berjarak dulu," kata dia.

Keleluasaan untuk mengedit film bisa didapatkan ketika menciptakan karya dengan anggaran rendah, terutama bila datang dari dompet sendiri.

Ia bisa menghabiskan waktu lebih banyak untuk mengeksplorasi hal-hal baru karena tidak dikejar tenggat waktu yang terlalu ketat.

"Film yang tidak mendapat tuntutan industri, buat saya lebih memberi kemerdekaan luas," ujar dia.

Film-film sejenis itu tak melulu harus tayang di bioskop, sebab ada banyak media yang kini tersedia, salah satunya YouTube, seperti film pendek "SIN" dari Hanung yang dibintangi Aurora Ribero dan Dewa Dayana.

Baca juga: Pencarian film terpopuler di Google pada bulan film nasional

Baca juga: Corona dan tantangan film Indonesia

Baca juga: Daftar film Indonesia yang sukses adaptasi karya sineas Korea Selatan