"Lebih Baik Bunuh Saja Kami daripada Dideportasi ke Myanmar"

Merdeka.com - Merdeka.com - Yasmin hidup dalam ketidakpastikan. Tidak pasti dari mana asalnya.

Bocah tersebut lahir di kamp pengungsi di Bangladesh, dan dia tidak bisa kembali ke desa nenek moyangnya di Myanmar. Saat ini, sebuah kamar kumuh di ibu kota India, Delhi, menjadi tempat tinggalnya.

Seperti ratusan ribu orang Rohingya (etnis minoritas di Myanmar), orang tua Yasmin melarikan diri dari negaranya pada 2017, menghindari kampanye genosida yang dilancarkan militer Myanmar. Banyak orang Rohingya melarikan diri ke Bangladesh dan India, di mana mereka hidup sebagai pengungsi.

Lima tahun berjalan, Muslim Rohingya, yang menurut PBB merupakan populasi tanpa kewarganegaraan terbesar di dunia, dalam keadaan terbuang.

Ayah Yasmin, Rehman, dulunya seorang pengusaha di Myanmar. Ketika militer dengan keji menyerang warga, dia salah satu dari 700.000 orang Rohingya yang melarikan diri dalam eksodus massal. Setelah berjalan kaki selama berhari-hari, Rehman dan istrinya, Mahmuda sampai ke kamp pengungsi di Cox's Bazar, tenggara Bangladesh yang dekat dengan perbatasan Myanmar.

Di Cox's Bazar, pasangan itu hidup dalam kondisi yang menyedihkan. Kekurangan makanan merupakan hal biasa dan hidup mereka berhantung pada jatah bantuan atau sumbangan. Setahun setelah pasangan tersebut sampai di Bangladesh, Yasmin lahir.

Pemerintah Bangladesh mendorong Muslim Rohingya kembali ke Myanmar. Rubuan pengungsi dipindah ke pulau terpencil, Bhasan Char, yang disebut para pengungsi sebagai "pulau penjara".

Rehman merasa meninggalkan Bangladesh akan membantu anaknya memiliki masa depan yang lebih baik. Pada 2020, keluarga ini pindah ke India.

Estimasi organisasi pengungsi menyebutkan, antara 10.000 dan 40.000 pengungsi Rohingya berada di India. Banyak dari mereka tiba di negara itu sejak 2012.

Saat ini pemerintah India berencana mendeportasi para pengungsi Rohingya ke Myanmar. Pemerintah India menyebut mereka sebagai "orang asing ilegal" yang harus dideportasi atau dikirim ke pusat penahanan.

"Masa depan anak saya tampak suram," sesal Rehman, dikutip dari BBC, Kamis (25/8).

"Pemerintah India tidak menginginkan kami juga, tapi lebih baik mereka bunuh saya daripada mendeportasi kami ke Myanmar."

Tidak ada negara yang ingin menampung ratusan ribu Rohingya. Pekan lalu, Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina mengatakan kepada Komisioner Tinggi PBB bidang HAM, Michele Bachelet, para pengungsi di negaranya harus kembali ke Myanmar. Namun PBB mengatakan tidak aman bagi warga Rohingya kembali ke negaranya karena konflik yang terjadi saat ini.

"Saya di sini untuk menyelamatkan hidup saya"

sini untuk menyelamatkan hidup saya
sini untuk menyelamatkan hidup saya.jpg

Seperti Rehman, Kotiza Begum juga melarikan diri dari Myanmar pada Agustus 2017, berjalan kaki selama tiga hari tanpa makanan apapun.

Dia dan tiga anaknya tinggal di sebuah kamar di kamp Cox's Bazar. Kamar mereka hanya beratap terpal, yang tidak terlalu kokoh melindungi dari air hujan ketika musim monsoon.

Kengerian yang dia alami di kampung halamannya masih segar dalam ingatan.

"Militer memasuki rumah kami dan menyiksa kami. Ketika mereka mengeluarkan tembakan, kami lari. Anak-anak dibuang ke sungai. Mereka membunuh siapapun begitu saja di jalan," kisahnya.

Seperti pengungsi lainnya di kamp itu, Kotiza bergantung pada jatah makanan dari NGO dan amal, yang seringkali terbatas hanya untuk makanan pokok seperti kacang-kacangan dan beras.

"Saya tidak bisa memberikan mereka makanan yang mereka inginkan, saya tidak bisa memberikan mereka baju yang bagus, saya tidak bisa memberikan mereka fasilitas medis yang layak," ujarnya.

Kotiza terkadang menjual jatah makanannya untuk membeli pensil untuk anak-anaknya. Kotiza berharap anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak. Tapi sayangnya, kurikulum yang diajarkan di kamp berdasarkan kurikulum di Myanmar, bukan Bangladesh.

"Kalau mereka berpendidikan, mereka bisa punya hidup yang bahagia. Mereka bisa menghasilkan uang untuk diri sendiri dan hidup bahagia," kata Kotiza.

Ketika Rohingya di seluruh dunia memperingati tahun kelima sejak mereka melarikan diri dari genosida dan operasi kejam militer Myanmar, mereka masih berharap akan mendapat keadilan. Kasus yang diajukan terhadap militer Myanmar masih menunggu persidangan di Mahkamah Internasional.

Tapi lebih dari itu, mereka bermimpi bisa kembali pulang. Sampai semuanya aman untuk mewujudkan mimpi itu, para pengungsi seperti Rehman memohon pada dunia untuk memberikan lebih banyak bantuan dan belas kasih.

"Saya di sini bukan untuk mencuri, saya di sini untuk menyelamatkan hidup saya." [pan]