Lebih dari 1.000 Orang Tewas karena Panas Ekstrem di Eropa

Merdeka.com - Merdeka.com - Panas ekstrem melanda sejumlah negara Eropa dalam beberapa pekan terakhir. Panas ini juga menyebabkan kebakaran di Prancis dan Spanyol serta memperburuk kekeringan di Portugal.

Akibat cuaca ekstrem ini, sebanyak 1.100 orang meninggal di Eropa selatan, dikutip dari CNN, Selasa (19/7).

Pada Senin, Institut Kesehatan Carlos III Spanyol memperkirakan total lebih dari 510 kematian akibat gelombang panas di negara tersebut, berdasarkan data statistik.

Ratusan orang juga meninggal di Portugal, di mana suhu yang meningkat memperburuk kekeringan. Pada Sabtu, Kementerian Kesehatan Portugal mengatakan 659 orang yang sebagian besar lansia meninggal dunia pada tujuh hari sebelumnya. Sepasang suami istri lansia meninggal pada Senin setelah kendaraan mereka terbalik saat menyelamatkan diri dari kebakaran hutan di Portugal utara.

Kebakaran juga melanda ribuan hektar lahan di daerah Gironde, Prancis barat daya dan 1.700 pasukan pemadam kebakaran dikerahkan.

Badan Meteorologi Prancis menyampaikan, daerah Cazaux di Prancis mencatat suhu mencapai 42,4 derajat Celcius pada Senin, suhu terpanas yang pernah tercatat sejak badan tersebut pertama kali dibuka lebih dari 100 tahun lalu pada 1921.

Kota-kota besar di Prancis seperti Nantes dan Brest juga mencatat suhu terpanas. Suhu di ibu kota Paris diperkirakan mencapai 39 derajat Celcius pada Selasa.

Kebakaran hutan juga melanda wilayah Castile, Leon, dan Galicia di Spanyol pada Minggu. Kebakaran ini menyebabkan perusahaan jawatan kereta api menghentikan layanannya antara Madrid dan Galicia.

Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez menyampaikan lebih dari 70.000 hektar lahan rusak karena kebakaran tahun ini.

Sementara itu di Santon Downham, Inggris, suhu mencapai 38,1 derajat Celcius pada Senin, hari ketiga terpanas. Suhu pada Selasa diperkirakan bisa mencapai 40 derajat. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel