Lebih dari tiga ratus tulisan karya Soedjatmoko didigitalisasi

·Bacaan 3 menit

Keluarga, kolega, dan lembaga akademik yang punya hubungan intelektual dan emosional dengan Soedjatmoko pada Senin meluncurkan situs web yang menampung lebih dari tiga ratus tulisan karya cendekiawan itu yang lahir pada 1948 hingga 1989.

Situs dengan tajuk “Membaca Soedjatmoko” itu hadir dalam rangka memperingati 100 tahun kelahiran Soedjatmoko tepat pada 10 Januari. Situs tersebut digagas oleh ketiga putri Soedjatmoko, yakni Kamala Chandrakirana, Isna Marifa, dan Galuh Wandita.

“Senang bahwa hari ini 100 tahunnya Soedjatmoko, kita membuka ruang untuk dialog, terutama dengan generasi muda, untuk belajar kembali tentang pencarian Soedjatmoko,” kata Galuh saat acara peluncuran “Membaca Soedjatmoko” secara virtual pada Senin.

Ratusan tulisan Soedjatmoko atau dikenal dengan nama panggilan Bung Koko itu termasuk makalah dan pidato yang pernah ia sampaikan dalam berbagai pertemuan serta jurnal sekitar tahun 1948 hingga 1989.

Baca juga: "Salah Asuhan", karya sastrawan yang kelahirannya jadi Hari Sastra

Baca juga: Karya Djenar Maesa Ayu dan Ratih Kumala dipamerkan di London

Akses situs web tersebut terbuka secara gratis untuk publik. Berbagai karyanya tersedia dalam bentuk digital yang dikonversi dari bentuk aslinya yang selama ini disimpan di kediaman Soedjatmoko di Jakarta.

“Saat Soedjatmoko wafat pada tahun 1989, dia meninggalkan lebih dari tiga ratus tulisan. Tulisan-tulisan ini bukan jawaban atas pencarian-pencarian yang dia lakukan seumur hidupnya, bahkan bukan juga teori, tidak ada teori di dalam tulisannya,” kata Kamala.

Ia melanjutkan bahwa tulisan-tulisan Soedjatmoko sebetulnya mengangkat pertanyaan-pertanyaan mendasar hingga ajakan untuk berpikir bersama-sama di berbagai bidang pemikiran, mulai dari budaya, sastra, sosial, pembangunan ekonomi, sains, hingga agama.

“Sudut pandangnya sangat konsisten dari awal sampai akhir, yaitu tentang manusia dan kemanusiaan,” tuturnya.

Kamala mengatakan pihaknya juga ingin memperkenalkan kembali pemikiran-pemikiran Soedjatmoko kepada generasi muda, terutama untuk menemukan relevansi pada hari ini.

Menurut Kamala, ide mengenai pembuatan situs web “Membaca Soedjatmoko” muncul melalui percakapannya dengan Hilmar Farid dan Ignas Kleden. Pada saat itu, Ignas menyarankan agar karya-karya Soedjatmoko diterbitkan kembali secara utuh dalam bahasa asli yang digunakan saat ditulis.

“Saya mencoba membayangkan kira-kira 100 tahun ayah kami bagaimana kita bisa memperingatinya. Akhirnya saya ingat apa yang disampaikan oleh pak Ignas kepada saya. Dan saya pikir, versi kekiniannya adalah webiste,” kata Kamala.

Untuk melengkapi kehadiran situs web ini, Kamala beserta para kolega juga mengadakan rangkaian diskusi sepanjang tahun yang akan hadir setiap bulan, dimulai pada hari ini dengan diskusi yang diinisiasi LP3ES dengan tajuk “Soedjatmiko dan pemikirannya” dan diakhiri pada Desember dengan penerbitan majalah edisi khusus 100 Tahun Soedjatmoko oleh Majalah Prisma.

Selain itu, pihaknya juga akan menyelenggarakan lomba menulis esai dengan tema “Pemikiran-pemikiran Soedjatmoko dan skenario untuk Indonesia masa depan” yang diperuntukkan bagi pelajar SMA, Mahasiswa, dan umum.

Website kalau hanya dipasang saja belum tentu akan digunakan. Jadi saya pikir, kita juga perlu dari spirit Soedjatmoko itu, yaitu perbincangan,” ujar Kamala.

Publik dapat mengakses situs web melalui membacasoedjatmoko.com yang resmi dibuka mulai hari ini. Informasi lain mengenai pembaruan program dan kegiatan diskusi akan tersedia di media sosial Instagram membacasoedjatmoko.

Baca juga: Dirjen: Pemikiran Soedjatmoko soal pembangunan dinilai masih relevan

Baca juga: Balai Bahasa Jabar terjemahkan 30 karya sastra daerah pada 2021

Baca juga: Ari Dwipayana: Pandemi momentum untuk tetap kreatif

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel