LeBron James dan tirani mayoritas yang memuakkan

Fitri Supratiwi
·Bacaan 6 menit

Sehari setelah komunitas NBA mengkritik keras perlakuan pilih kasih aparat keamanan terhadap para pendukung Presiden Donald Trump yang mayoritas kulit putih yang dengan bebas melewati polisi untuk menduduki gedung parlemen di Capitol Hill yang berbeda dengan saat polisi menangani peserta demonstrasi Black Lives Matter, bintang Los Angeles Lakers LeBron James meradang.

Dia menuding Trump biang kerok kerusuhan di Gedung Capitol di mana para anggota Kongres (gabungan anggota majelis rendah DPR dan anggota majelis tinggi Senat) menggelar sidang paripurna guna menetapkan hasil pemilu November tahun silam.

James beranda-andai, kalau saja demonstran yang rusuh di Gedung Putih itu adalah warga kulit hitam, maka perlakuan polisi sudah pasti akan lain.

Baca juga: LeBron James dan Naomi Osaka raih penghargaan Sportsperson of the Year

"Kita hidup di dua Amerika," kata James, tak lama setelah timnya kalah melawan San Antonio Spurs, Kamis malam waktu AS.

Dia melanjutkan, "Dan contoh utamanya adalah yang terjadi kemarin itu, dan seandainya Anda tak memahaminya atau tak mempedulikan itu setelah menyaksikan apa yang Anda lihat kemarin, maka Anda sungguh harus melangkah mundur, bukan hanya satu langkah, tetapi mungkin mundur empat atau lima atau bahkan sepuluh langkah dan tanyai diri sendiri bagaimanakah Anda ingin anak-anak Anak, anak cucu Anda atau kita memandang Amerika? Inginkah kita hidup di negara indah ini?"

James menuding Trump telah memicu penyerbuan Capitol ketika para wakil rakyat menggelar sidang sertifikasi untuk hasil suara Electoral College yang dimenangi Presiden terpilih Joe Biden. Rusuh di Capitol itu merenggut lima nyawa.

"Peristiwa yang terjadi kemarin itu berkorelasi langsung dengan tindakan, keyakinan, dan keinginan presiden yang saat ini tengah berkuasa," kata James seperti dikutip Reuters.

"Dia tidak peduli siapa pun kecuali dirinya sendiri. Dia tak peduli kepada negara ini. Dia tidak peduli kepada keluarganya," serang James.

Mengenakan kaus hitam bertuliskan "Do You Understand Now?" (Sudah Paham kan Sekarang?) menggunakan huruf balok, James mengaku menyaksikan cuplikan berita televisi para pendukung pro-Turmp dihadapi oleh polisi yang sebagian besar diam. James yang berkulit hitam membayangkan apa jadinya jika yang demo di Capitol itu adalah dia dan keluarganya.

"Jika yang menyerbu Capitol itu orang sejenis saya, apa yang akan terjadi? Dan saya rasa kita semua tahu," kata James. "Tak ada jika, dan, atau tapi, kita semua sudah tau apa yang bakal terjadi pada orang sebangsa saya bahkan jika ada yang cuma hendak mendekati Capitol, jangankan masuk gedung."

Rekannya sesama pemain Lakers, Anthony Davis, menyebut perilaku polisi dan Trump itu "standard ganda."

"Di sisi lain, gerombolan orang yang menyerbu masuk Capitol keluar dengan dikawal melewati pintu depan seolah tak terjadi apa-apa," kata Davis.

Baca juga: LeBron James 'bully' habis-habisan Donald Trump


Tirani mayoritas

Sehari sebelum itu, NBA murka terhadap perlakuan yang diberikan kepada para pendukung setia Presiden Donald Trump yang rusuh menyerbu masuk Gedung Capitol. Mereka juga menumpahkan kekecewaan terhadap jaksa negara bagian Wisconsin yang menyatakan tak akan memperkarakan polisi yang menembak warga kulit hitam tahun lalu.

Di Miami, Miami Heat dan Boston Celtics, mengeluarkan pernyataan bersama yang menyebutkan mereka harus bermain dengan berat hati.

Di Milwaukee, para pemain Bucks dan Detroit Pistons sengaja melakukan salah umpan untuk kemudian berlutut di lapangan. Di Phoenix, Suns dan Toronto Raptors berdiri melingkar sambil berangkulan menyanyikan lagu kebangsaan AS dan Kanada.

NBA kecewa berat. Mereka merasa dihina oleh Donald Trump. "Ini hari yang memalukan bagi negara kita," kata pelatih New Orleans Pelicans Stan Van Gundy.

Kemarahan LeBron James, NBA, dan banyak elemen masyarakat di AS terhadap perlakuan diskriminatif polisi dan pemerintah Trump dalam menangani demonstran Capitol menguakkan masalah besar yang tengah dihadapi negara yang menjadi rujukan demokrasi itu.

Dan masalah besar itu adalah tirani mayoritas. Tirani yang menganggap biasa melakukan apa pun sesukanya kepada minoritas. Mulai dari mengabaikan hak-hak minoritas, berlaku tidak toleran, sama sekali mengesampingkan kemajemukan, dan bahkan terang-terangan mempersekusi minoritas, sekalipun itu cuma verbal.

Dan Trump ikut melakukannya, menjadi pelaku persekusi kepada minoritas itu. Contohnya adalah saat dia mencerca empat perempuan muda anggota DPR yang acap mengkritik operasional pemerintahan AS.

Kepada keempat anggota DPR yang semuanya dari Partai Demokrat itu, Trump berkata bahwa mereka "semestinya kembali saja ke negara asalnya daripada mengajari rakyat Amerika Serikat bagaimana caranya memerintah."

Ironisnya keempat anggota DPR ini tidak sedang bersilat lidah dengan Trump, melainkan berdebat dengan pemimpin mereka sendiri di Partai Demokrat, Ketua DPR Nancy Pelosi.

Keempat anggota DPR itu adalah Alexandria Ocasio-Cortez dari daerah pemilihan New York, Ilhan Omar dari Minnesota, Rashida Tlaib dari Michigan dan Ayanna S. Pressley dari Massachusetts.

Persekusi verbal Trump itu menjadi lampu hijau kepada pendukung-pendukungnya yang mayoritas kulit putih AS itu melakukan hal yang sama, bahkan tidak cuma persekusi verbal.

Berbeda dengan pemimpin-pemimpin atau presiden-presiden sebelum dia yang akan berjuang keras menenangkan rakyatnya jika terjadi gejolak, Trump malah sering memanas-manasi kemarahan rakyat dan situasi genting dalam masyarakatnya.

Baca juga: LeBron James, Megan Rapinoe, atlet AS sambut kemenangan Biden


Sudah muak

Bukti teraktual dari hal itu adalah saat pecah gerakan Black Lives Mattter yang memperjuangkan kesetaraan ras dan keadilan sosial di AS. Bukannya bersimpati kepada gerakan persamaan hak dan kedudukan yang justru diamanatkan konstitusi Amerika dan filosofi bangsa Amerika, Trump malah menuding gerakan itu sebagai radikal kiri yang berusaha mengubah Amerika Serikat.

Dia seolah mengatakan minoritas tak pantas meminta lebih, sebaiknya turutilah apa maunya mayoritas. Dia cenderung menjelmakan dirinya dan pemerintahnnya sebagai perwujudan dari tirani mayoritas itu.

Bukti lain dari kecenderungan sikapnya itu adalah saat mengubah formasi hakim Mahkamah Agung menjadi didominasi hakim-hakim konservatif ketika masanya tidak elok dan tidak etis melakukan perubahan semacam itu, karena dilakukan beberapa hari sebelum pemilu.

Dia memaksa komposisi legislatif itu diubah menjadi enam hakim konservatif dan tiga hakim liberal agar mayoritas yang pertama yang harus diakomodasi, sebaliknya berusaha mengunci upaya-upaya memajukan kesetaraan seperti hak-hak wanita dan minoritas.

Begitu salah seorang hakim terbesar dalam sejarah peradilan AS, Ruth Bader Ginsburg, tutup usia, Trump langsung mengajukan calon pengganti Ginsburg yang dikenal sebagai pelindung hak-hak minoritas dan perempuan yang sepanjang menjadi hakim agung selalu berusaha memastikan AS tidak jatuh kepada neo-fasis oleh terlalu kanannya Amerika.

Trump pun mencalonkan hakim konservatif Amy Barrett yang ditengarai akan membuat merana kehidupan kaum minoritas dan perempuan karena perempuan hakim konservatif ini merepresentasikan kultur kemayoritasan yang akan menurutkan keinginan mayoritas yang mengecualikan minoritas.

Masalah-masalah fundamental yang ditinggalkan Trump seperti inilah yang membuat rakyat AS gelisah, khususnya minoritas seperti LeBron James dan bagian dari mayoritas yang masih meyakini AS tidak dibangun oleh perbedaan siapa yang paling banyak di atas siapa yang paling sedikit, seperti ditegaskan mantan presiden dan juga salah seorang bapak pendiri Amerika, Thomas Jefferson bahwa "kita tak mengenal pemerintahan oleh mayoritas. Kita hanya mengenal pemerintah oleh mayoritas yang berperan serta."

Trump tidak seperti itu. Dia justru ingin minoritas tunduk kepada apa pun kemauan mayoritas. Dia merasa dukungan suara mayoritas pada pemilu 2016 adalah mandat yang memerintahkan dia berkuasa semata demi menuruti janjinya kepada mayoritas, bukan untuk memerintah segenap rakyat dan bangsanya.

Tak heran sikapnya ini membuat orang-orang seperti LeBron James, pesepakbola putri Megan Rapinoe, mantan quarterback Colin Kaepernick, dan banyak lagi dari lintas spektrum masyarakat termasuk seniman dan atlet, sudah muak terhadap Trump.

Mereka muak terhadap pandangan, prilaku dan praktik kebijakan Trump yang mengeraskan kecenderungan tirani mayoritas sehingga meniadakan fakta bahwa negara mereka tak cuma dibangun, diperjuangkan, ditinggikan dan dimajukan oleh sebagian atau sebagai besar rakyatnya, tetapi juga seluruh rakyatnya, termasuk minoritas.

LeBron James tak ingin Amerika yang dikenalnya berubah menjadi negara demokrasi tanggung yang kerap terjebak pada pemahaman mayoritas belaka yang akhirnya membuat tatanan kehidupan bernegara menjadi tidak toleran di mana mayoritas menilai lumrah mengabaikan hak-hak kaum marjinal atau meniadakan kiprah minoritas bahkan mempersekusi kaum minoritas.

Baca juga: LeBron James jamin NBA tak sedih karena tak ditonton Donald Trump