Ledakan Bom di Makassar Bisa Ganggu Pemulihan Ekonomi?

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan, peristiwa bom makassar tidak berdampak besar pada pemulihan ekonomi. Diketahui, sebuah bom meledak di Gereja Katedral Makassar pada Minggu (28/3/2021) pagi ini.

“Tapi memang dampaknya saya lihat masih relatif kecil sekali, karena situasi sekarang itu proses pemulihan itu belum banyak investasi besar yang masuk, jadi runningnya masih dititik negatif ke nol, jadi dampaknya masih kecil sekali,” kata Tauhid kepada Liputan6.com, Minggu (28/3/2021).

Namun, tetap saja peristiwa bom Makassar akan memunculkan persepsi yang cukup mengganggu bagi Sulawesi Selatan. Menurut Tauhid, jika penanganan peristiwa bom itu tidak bisa selesai dengan baik maka akan menimbulkan persepsi negatif kepada Pemda.

“Jadi menurut saya ini pengaruhnya hanya di tingkat lokal, beda kalau misalnya terjadi di Ibu Kota ataupun di kota-kota strategis di Jawa, nah itu yang pengaruhnya besar. Karena ini hanya terjadi di Sulawesi Selatan jadi saya kira dampaknya hanya lokal saja,” jelasnya.

Sementara untuk sisi investasi mungkin pengaruhnya tidak langsung, nanti dampaknya bisa dilihat setelah kasus bom Makassar ini ditangani dengan baik oleh Pemerintah dan Kepolisian. Jika tertangani dengan baik maka pengaruhnya kecil.

Sebaliknya, jika kejadian serupa terjadi lagi di daerah tersebut maka hal itu akan menjadi masalah yang cukup berpengaruh terhadap ekonomi.

“Karena kalau sekali terjadi belum terlihat dampaknya, kalau terjadi dua kali berarti kita kecolongan dua kali, berarti Pemerintah tidak mampu menghadapi persoalan mengenai hal itu. Dengan demikian belum kelihatan dampaknya dalam hitungan angka-angka,” katanya.

Tauhid menyebut saat ini keadaan perekonomian di tengah pandemi covid-19 tahun 2021 dalam keadaan yang kondusif. Tentunya peristiwa bom Makassar itu mengejutkan banyak pihak, ternyata Indonesia masih menyisakan bibit masalah terorisme yang belum terselesaikan.

Ledakan di Gereja Katedral Makassar Berasal dari Bom Rakitan Berdaya Tinggi

Polisi berjaga di luar gereja setelah ledakan di Makassar (28/3/2021). Ledakan diduga bom terjadi di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan pada Minggu (28/3/2021). (AFP/Indra Abriyanto)
Polisi berjaga di luar gereja setelah ledakan di Makassar (28/3/2021). Ledakan diduga bom terjadi di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan pada Minggu (28/3/2021). (AFP/Indra Abriyanto)

Sebelumnya, Aparat kepolisian memastikan bom yang digunakan pelaku peledakan bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, memiliki daya ledak tinggi (high explosive).

"Iya betul, pelaku gunakan bom berdaya high explosive," kata Kapolda Sulsel Irjen Pol Merdisyam di lokasi kejadian, Minggu (28/3/2021).

Ia menerangkan kejadian bom bunuh diri tersebut berlangsung sangat cepat. Kejadian tepat berlangsung pada saat para jemaah gereja sedang melakukan kegiatan rangkaian misa palma atau ibadah jelang paskah.

Pelaku yang mengendarai kendaraan roda dua jenis matic berwarna hitam itu tiba-tiba datang dan hendak masuk kawasan Gereja Katedral Makassar. Pelaku hendak memarkir kendaraannya.

"Tapi petugas gereja mencoba menghalangi dan tiba-tiba kendaraan pelaku meledak. Pelaku tewas di tempat dan sejumah warga termasuk petugas gereja turut mengalami luka-luka akibat hantaman ledakan," terang Merdisyam.

Para korban dalam kejadian tersebut, kemudian dilarikan ke beberapa rumah sakit yang ada di Kota Makassar. Ada yang dirawat di RS Pelamonia, Bhayangkara dan RS Stella Maris.

"Korban semua 9 orang yang luka akibat ledakan," Merdisyam menandaskan.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: