Ledakan di Yaman Terjadi Saat Para Menteri Baru Tiba di Bandara

Aries Setiawan, BBC Indonesia
·Bacaan 3 menit

Sedikitnya 22 orang tewas dan lebih dari 50 lainnya luka-luka dalam sebuah serangan di Bandara Kota Aden di Yaman, sebagaimana dipaparkan sejumlah pejabat pemerintah.

Ada setidaknya satu ledakan sesaat setelah pesawat yang mengangkut perdana menteri dan para anggota kabinet pemerintahan baru Yaman tiba dari Arab Saudi.

Di antara para korban terdapat sejumlah pejabat dan pekerja kemanusiaan. Namun, perdana menteri dan para anggota kabinet dalam keadaan "baik".

Menteri Informasi Yaman menuding kelompok pemberontak Houthi melakukan "aksi teroris pengecut".

https://twitter.com/ERYANIM/status/1344246809116475392

Yaman porak-poranda akibat konflik yang berkecamuk sejak 2015, tatkala koalisi negara-negara Arab pimpinan Arab Saudi melancarkan operasi militer untuk mengalahkan kelompok Houthi serta mengembalikan kekuasaan Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi.

Konflik itu dilaporkan menyebabkan lebih dari 110.000 orang tewas; memicu bencana kemanusiaan terburuk di dunia yang mengakibatkan jutaan orang terancam kelaparan; serta membuat negara itu semakin rentan pada pandemi Covid-19.

Rekaman video pada insiden hari Rabu (30/12) memperlihatkan ledakan besar ketika para penumpang meninggalkan pesawat yang menerbangkan kabinet baru ke Kota Aden.

Kerumunan massa yang berkumpul di dekat landasan untuk menyambut para menteri, seketika kabur diiringi kepulan asap tebal di terminal bandara. Suara tembakan senjata api terdengar beberapa saat kemudian.

Seorang koresponden kantor berita AFP melaporkan, dirinya mendengar setidaknya dua ledakan. Hal sama didengar Menteri Kerja Sama Internasional, Najeeb al-Awj.

Penyebabnya belum dapat dipastikan, namun seorang sumber pihak keamanan mengatakan kepada kantor berita Reuters, sebanyak tiga mortir telah menghantam terminal bandara.

Sementara itu, stasiun televisi Saudi, Al-Hadath, menyiarkan sebuah video yang menunjukkan sebuah misil menghantam landasan pacu dan meledak.

Pada Agustus 2019, sebanyak 36 orang tewas akibat serangan rudal yang diluncurkan kelompok Houthi ke parade militer di Aden.

yaman
Kerumunan massa berkumpul di dekat landasan untuk menyambut para menteri.

Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mengatakan seorang anggota staf mereka tewas dalam serangan pada Rabu (30/12), tiga orang cedera, dan dua lainnya belum ditemukan.

"Staf kami sedang transit melalui bandara bersama warga sipil lainnya. Ini adalah hari tragis buat kami dan rakyat #Yaman," sebut ICRC dalam cuitan.

Laman berita Yaman, Al-Masdar Online, melaporkan Wakil Menteri Tenaga Kerja, Yasmin al-Awadhi, tewas. Adapun Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga, Moneer al-Wajeeh, dan Wakil Menteri Transportasi, Nasser Sharif, mengalami luka-luka.

Perdana Menteri Maeen Abdulmalik Saeed dan kabinetnya langsung dibawa ke tempat yang aman setelah serangan terjadi.

Saeed mencuit: "Kami dan anggota pemerintahan berada di ibu kota sementara Aden dan semua orang dalam keadaan baik.

"Aksi teroris pengecut yang menargetkan Bandara Aden adalah bagian dari perang yang dilancarkan terhadap negara Yaman dan rakyatnya yang hebat," tambahnya, tanpa menuding kelompok Houthi secara langsung.

"[Kejadian] ini hanya akan menguatkan tekad kami untuk menjalankan tugas-tugas kami."

yaman
Sebuah video menunjukkan kepulan asap di terminal bandara, pada 30 Desember 2020.

Utusan Khusus PBB, Martin Griffiths, mengecam serangan tersebut.

"Saya berharap kabinet mendapat kekuatan dalam menghadapi tugas-tugas yang berat di masa mendatang. Aksi kekerasan yang tidak bisa diterima ini adalah pengingat tragis akan pentingnya membawa Yaman secara mendesak kembali ke jalur menuju perdamaian," ujarnya dalam pernyataan resmi.

Belakangan, setelah ledakan di Bandara Yaman, ada letusan lain dekat Istana Kepresidenan Maashiq, tempat perdana menteri berlindung. Al Arabiya TV yang didanai Arab Saudi melaporkan sebuah drone pengebom telah ditembak jatuh.

Kabinet baru pimpinan Perdana Menteri Maeen Abdulmalik Saeed dibentuk sebagai upaya untuk memulihkan ketegangan berkepanjangan antara pasukan pemerintah sokongan Saudi dan kelompok milisi yang setia pada kubu separatis Dewan Transisi Selatan (STC) sokongan Uni Emirat Arab.

Semula kedua pihak merupakan sekutu dalam perang sipil melawan gerakan Houthi, yang mengendalikan ibu kota Sanaa dan sebagian besar bagian barat laut Yaman.

Namun, perebutan kekuasaan selama dua tahun terakhir telah memicu serangkaian pertikaian internal.

Pada Agustus 2019, STC merebut kendali Kota Aden dan menolak mengizinkan kabinet kembali ke kediaman sementara sampai Arab Saudi memperantarai kesepakatan pembagian kekuasaan pada November 2019.

Kesepakatan itu tidak pernah diterapkan dan sempat terjadi bentrokan pada April 2020, ketika STC mendeklarasikan kekuasaan di Yaman selatan.

Kelompok separatis mencabut deklarasi mereka tiga bulan kemudian dan sepakat menghidupkan lagi kesepakatan pembagian kekuasaan setelah mendapat komitmen bahwa akan ada perwakilan setara bagi pihak utara dan selatan di dalam kabinet berisi 24 menteri.

Kedua pihak juga sepakat pembagian kekuatan di Kota Aden.