Lega Setelah Kembali ke Islam

REPUBLIKA.CO.ID-Winardi (46 tahun) awalnya tidak tahu kalau agama yang diajarkan oleh kedua orang tuanya Alm Mustofa dan Uyi (78 tahun), bukanlah islam yang sebenarnya. Warga Jl Raden Dewi 5 RT 4 RW 02, Pasir Koja, Kota Bandung, Jawa Barat itu mulai menyadari kalau agama yang dianutnya berbeda dengan tetangga yang lain pada saat dia duduk di bangku kelas 6 SD atau ketika usianya 12 tahun.

Meskipun merasa memiliki ajaran yang beda dengan teman-temannya, selama bertahun-tahun Winardi hanya bisa menyimpannya dalam hati dan mengikuti semua ritual yang diajarkan oleh kedua orang tuanya. Bertahun-tahun setiap shalat Jumat Winardi harus pergi ke masjid yang terletak di Jalan Cikutra yang cukup jauh dari rumahnya. Itu adalah masjid khusus Ahmadiyah, sebuah sekte yang didirikan Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku dirinya nabi, lebih dari seratus tahun lampau di India.

Winardi semakin terikat dengan agamanya setelah memiliki utang ke Koperasi Ahmadiyah sebesar Rp 2 juta. Namun, hati nurani Winardi terus berteriak untuk memeluk agama yang sama dengan tetangga dan juga teman-temannya yang lain.

Dia baru mempunyai keberanian setelah Peraturan Gubernur (Pergub) Jawa Barat Nomor 12/2011 terbit awal Maret lalu yang berisi tentang pelarangan kegiatan Ahmadiyah. Pergub itu ditemuinya terpampang dalam selebaran di depan masjid. Aparat pemerintah Kota Bandung juga gencar mengajak mereka untuk kembali ke Islam.

Gayung pun bersambut. Ternyata, keinginan Winardi untuk masuk Islam juga sejalan dengan keinginan adik-adiknya. Mereka selama ini memendam keinginan yang sama untuk meninggalkan agama turunan orang tuanya berbeda dengan lingkungannya, walau masih mencatut kata Islam.

Akhirnya, satu keluarga Winardi pun yaitu terdiri dari lima orang dewasa dan tiga anak-anak, tobat masuk islam kembali di Masjid Al Ukhuwah, Senin (21/3).

Orang dewasa di keluarga Winardi yang ikut berikrar masuk Islam adalah Sumarna (40), Ade (35), Elis (29), dan Sumarni (42). Mereka secara bersama-sama mengucapkan dua kalimah syahadat disaksikan oleh Wali Kota Bandung Dada Rosada dan Ketua DPRD Kota Bandung Erwan Setiawan.

''Saya menganut ajaran Ahmadiyah sejak SD kelas 6 karena orang tua saya memeluk ajaran ini. Saya hanya ngikut aja, kami kira ajaran Ahmadiyah sama seperti yang lain,'' kata Winardi usai mengicapkan ikrar syahadat.

Winardi bercerita, salah satu penguat dirinya keluar dari Ahmadiyah karena selama ini pimpinan Ahmadiyah melarang dirinya ikut shalat berjamaah dengan pemeluk agama Islam yang lain. Itu membuatnya merasa berbeda dengan para tetangga yang menganut Islam. Walaupun selama ini tetanga tidak pernah mengucilkan keluarga mereka.

''Ajaran Ahmadiyah sebenarnya tidak banyak yang saya pahami karena saya menganut ajaran ini dari orang tua. Jadi, tanpa ada paksaan saya ingin memeluk agama islam yang benar,'' kata Winardi. Sementara istri Winardi, Elis, mengaku selama ini dirinya terdaftar sebagai penganut Ahmadiyah karena suaminya memeluk ajaran itu.

Adik Winardi bernama Sumarni kini lega setelah masuk Islam. Sumarni mengaku ingin membersihkan namanya yang terdaftar di kelurahan sebagai penganut Ahmadiyah. Padahal, selama ini dirinya tidak aktif di Ahmadiyah. Dia juga khawatir apa yang terjadi pada pemeluk Ahmadiyah di daerah lain terjadi pada keluarganya.

''Saya sebenarnya memang tidak menjalankan ibadah seperti Ahmadiyah. Saya Islam, tapi nama saya masih ada di daftar penganut Ahmadiyah. Saya berikrar masuk Islam kembali sekarang agar nama saya dibersihkan dari daftar itu,'' kata Sumarni. Kini, hanya satu yang masih mengganjalnya. Ibu Sumarni yang masih sakit tak bisa ikut ikrar syahadat walaupun juga ingin ikut masuk Islam.

Selama ini Sumarni mearsa kasihan kepada anak-anaknya karena sering kali bingung dengan ajaran Islam yang diterima di sekolahnya. Selama ini pun Sumarni menyarankan agar anak-anaknya menjalankan ibadah sesuai dengan pelajaran agama yang diterima di sekolah.

Menurut Ketua Dewan Syuro Front Umat Islam (FUI) Hilman Firdaus, banyak jemaat Ahmadiyah yang sudah kembali ke Islam walau tak semuanya mau dipublikasikan. Total jemaat Ahmadiyah di wilayah Bandung Raya yang sudah memeluk agama Islam dan dilaporkan ke FUI sekitar 70 orang. ''Tadinya akan dibuat gebyar di satu tempat. Cuma saya tidak setuju karena ingin acara ini tersebar di berbagai daerah di Jawa Barat,'' kata Hilman.

Dari hasil investigasi FUI, kata Hilman, ada beberapa alasan pemeluk Ahmadiyah memeluk ajaran tersebut. Di antaranya karena mengikuti orang tua, melihat Ahmadiyah sama dengan organisasi Islam yang lain, terbawa arus lingkungan, menduduki tanah Ahmadiyah, ada hubungan bisnis dengan Ahmadiyah, dan dapat bantuan dari Ahmadiyah.

Wali Kota Bandung Dada Rosada, masuknya kembali keluarga Winardi memeluk agama islam yang benar merupakan hasil dari pendekatan secara kekeluargaan yang dilakukan oleh stafnya. Pemkot Bandung pun membantu keluarga Winardi dengan membebaskan utang mereka ke Koperasi Ahmadiyah sebesar Rp 2 juta ditambah bantuan Rp 1 juta dari Badan Amil dan Zakat Jawa Barat. ''Mengajak pemeluk Ahmadiyah kembali ke jalan yang benar, akan terus kami lakukan secara bertahap,'' kata Dada.

Meskipun Winardi berani keluar dari Ahmadiyah setelah adanya Pergub, namun Ketua Forum Ulama Indonesia Athian Ali menilai Pergub itu belum mampu mencegah konflik antara umat Islam dengan Ahmadiyah. ''Sampai sekarang masih seperti itu, tetap saja masih terjadi konflik'' ujar Athian, , Kamis (24/3).

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengakui Pergub itu tak sempurna. Namun setidaknya ratusan pengikut Ahmadiyah sudah kembali ke Islam setelah Pergub terbut. ''Efek dari Pergub itu saya akui ada satu-dua yang negatif. Tapi kalau jamaah Ahmadiyah yang kembali ke Islam sudah ada sekitar 500 orang. Meski jumlah ini perlu didata lebih lanjut,'' Heryawan.

 

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.