Legalnya Ganja dan Batasan-batasan yang Tetap Dimilikinya

Syahdan Nurdin, susahtidur2294-576
·Bacaan 4 menit

VIVA – “PBB sudah memutuskan ganja legal beberapa waktu lalu, tapi kembali lagi ke negara masing-masing bakal melegalkan atau enggak. Jangan berharap bisa nyimeng pol-polan di kontrakan dan aman dari grebekan pak pulisi, pak RT, atau ormas berpakaian seba putih.

Ganja legal, tapi nggak di Indonesia. Nggak sekalipun untuk keperluan medis!” *** “Kamu pernah nyimeng?” suara itu diucapkan perempuan yang berbaring di sebelah saya. Sekitar pukul dua pagi kala itu, di kamar kosnya yang beraroma sisa-sisa parfum dan asap rokok.

Tentu nggak perlu saya katakan apa yang kami lakukan berduaan di kamar itu, intinya mendadak pembicaraan mengarah ke urusan nyimeng. Ah, saya ingat asal usul pembahasannya.

Saya membahas Novel Partikelnya Dewi Lestari, yang merupakan buku keempat seri Supernova. Pada novel Partikel, pembahasannya adalah seputar tumbuh-tumbuhan yang bisa menjadi enteogen. Enteogen sendiri adalah substansi psikoaktif yang menimbulkan pengalaman spiritual bagi pemakainya.

Enteogen sebenarnya sama saja dengan ngefly, alias penggunaan zat-zat mengandung psikoaktif untuk urusan rekreasional.

Bedanya, enteogen lebih dipakai untuk urusan spiritual. Ingat adegan di film Black Panther di mana T’Chala minum ramuan ungu mirip kuku bima energi itu? Setelah dia dikubur, dia berhalusinasi ketemu roh bapaknya dan semua roh raja-raja Wakanda.

Nah, saya yakin sekali cairan yang dia minum adalah kuku bima energi rasa anggur merupakan enteogen. Nah, balik ke pertanyaan perempuan yang satu kamar dengan saya tadi itu, jawabannya adalah belum. Saya belum pernah nyimeng sama sekali, wong merokok saja saya langsung batuk-batuk nggak ketulungan.

Tetapi ternyata perempuan di samping saya itu penasaran rasanya nyimeng. Ya sudah, saya coba tanya-tanya ke beberapa teman yang saya duga sering nyimeng, dan ternyata mereka semua kehabisan stok. Oke, urusan nyimeng batal.

Di satu sisi saya kecewa karena nggak bisa lihat perempuan di samping saya itu ngefly dan entah bakal melakukan apa, tapi di sisi lain saya juga lega karena nggak harus berurusan dengan barang yang eksistensinya ilegal di negeri ini. Terlepas dari urusan nyimeng, sudah menjadi rahasia umum bahwa ganja memiliki banyak manfaat untuk kesehatan seperti mencegah glaukoma, meningkatkan kapasitas paru, mencegah kejang karena epilepsi, mematikan beberapa sel kanker, mengurangi nyeri kronis, mengatasi masalah kejiwaan, bahkan memperlambat perkembangan alzheimer.

Meski begitu, karena terlanjur masuk kategori daftar obat terlarang dan berbahaya, ganja lebih sering dipandang negatif daripada positif. Ada orang yang menggunakan ganja sebagai obat depresi, eh ditangkap. Masih jelas di memori saya tentang penangkapan Fidelis Arie Sudawarto oleh BNN karena menanam ganja.

Fidelis terpaksa menanam ganja karena istrinya menderita penyakit langka dan merasa ganja bisa menyembuhkan istrinya. Akan tetapi ketika istrinya berangsur-angsur membaik, Fidelis justru digrebek BNN. Ironis memang bagaimana ganja, sekalipun untuk urusan medis, bisa membawa seseorang ke penjara.

Akan tetapi beberapa waktu lalu dunia heboh karena ganja berhasil lepas dari daftar obat terlarang dan berbahaya. Melalui voting dari Komisi Obat Narkotika di PBB yang beranggotakan 53 negara, 27 negara setuju dengan saran dari WHO tentang penggunaan ganja untuk keperluan medis.

Berdasarkan hasil voting tersebut, PBB secara resmi memperbolehkan penggunaan ganja untuk keperluan medis. Weh, berarti sekarang bebas nyimeng sepuasnya dong? Kan PBB sudah membolehkan ganja untuk keperluan medis.

Jadi ya, nyimeng dengan alasan pura-pura depresi bisa lah ya. Jadinya nggak bakal khawatir digrebek Pak RT, Ormas berseragam putih, atau malah BNN sekalian. Soalnya kalo ketahuan lagi nyimeng di kontrakan, tinggal bilang aja lagi depresi. Itu juga kalo bisa jelasin dengan baik dan benar pas lagi tinggi-tingginya.

Namun sebelum euforia ganja legal itu melebihi batas, dan kalian-kalian para pemuja ganja nyetok berkilo-kilo, perlu diketahui bahwa yang diperbolehkan adalah keperluan medis. Artinya penggunaannya akan sangat diawasi, pun ketersediaannya nggak dijual bebas kayak beli rokok yang ada di mana-mana. PBB hanya melegalkan untuk keperluan medis, sementara untuk keperluan rekreasi masih dilarang.

Jadi ya menggunakan ganja untuk menghibur hati yang patah tetap tidak diperbolehkan karena itu masuk ke ranah rekreasi, alias senang-senang belaka. Jangan mendebat bahwa patah hati juga bagian dari keperluan medis karena ada luka menganga lebar di hati ya.

Plis jangan. Lagian, sekalipun PBB melegalkan penggunaan ganja—misal—juga untuk rekreasi, hal itu nggak sertamerta negara kita tercinta ini bakal mengamini hal itu juga.

PBB bilang legal, tapi kembali lagi ke negara masing-masing bakal melegalkan atau enggak. Jadi ya jangan harap Indonesia bakal kayak Belanda yang melegalkan ganja untuk urusan medis dan rekreasi.

Di Belanda, ganja bahkan dijual di coffee shop. Saya, sebagai orang yang kerja di coffee shop, bahkan nggak habis pikir pegimane ceritanye ganja dijual di coffee shop. Misal hal itu terjadi di Indonesia, pada suatu sore yang indah, ada mas-mas dengan rambut gimbal datang ke coffee shop tempat saya kerja.

Saya bakal nanya, “Ngopi, mas?” Terus blionya jawab, “Es Amerikano.” Diam sejenak sambil liatin saya, lantas blio senyum nakal. “Cimeng, cimeng.” Lantas si mas-mas gimbal bakal menikmati matahari terbenam dengan segelas es amerikano, cimeng, dan diselingi tawa-tawa lepas entah karena apa.

Tetapi sekali lagi, semua itu akan sulit terealisasi di Indonesia. Ganja, sekalipun baik untuk medis dan bisa membuat mereka yang sedang gundah merasa lebih baik, akan tetap berada dalam bayang-bayang.

Pemakainya akan dicap sebagai pendosa, dan yang menangkapi para pendosa itu akan diganjar dengan gelar pahlawan. Ah, memikirkan itu semua membuat saya mengingat perempuan itu lagi. Yang berbisik ingin merasakan sensasi ngefly bersama saya, setelah semalam suntuk melakukan hal-hal tak senonoh, tercela, dan penuh dosa di kamar penuh kenangan itu.