Legenda panahan Indonesia, Leane Suniar wafat

·Bacaan 2 menit

Masyarakat olahraga prestasi Tanah Air kehilangan salah seorang legenda panahan Indonesia, Dr.Leane Suniar Manurung MSc., SpGK, yang meninggal dunia pada pukul 21:30 WIB 22 November 2021 akibat penyakit kanker usus besar yang dideritanya sejak 2019.

Menurut keterangan tertulis yang dilansir KONI Pusat, Senin, berbagai upaya pengobatan termasuk kemoterapi sudah dilalui Leane, namun penyakit yang diderita legenda kelahiran 4 Februari 1948 ini tidak kunjung sembuh.

Atas wafatnya Leane, Ketua Umum (Ketum) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat Letjen TNI Purn Marciano Norman menyampaikan duka cita mendalam.

Baca juga: Pahlawan bulu tangkis Indonesia Verawaty Fadjrin berpulang

“Saya beserta keluarga besar KONI Pusat, turut berduka cita atas wafatnya Ibu Dr.Leane Suniar Manurung, dan saya juga menyampaikan terima kasih serta apresiasi atas dedikasi Almarhumah untuk olahraga Panahan Indonesia.” ujar Ketum KONI Pusat.

“Semoga Almarhumah mendapat tempat yang mulia di sisi Tuhan yang Maha Pengasih, keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan keikhlasan. Selamat jalan Patriot Olahraga Indonesia. Perjuanganmu mengharumkan nama bangsa dan negara melalui olahraga di kancah internasional akan kami lanjutkan,” sambung Ketum KONI Pusat.

Sewaktu masih menjadi atlet, Leane sempat mewakili Indonesia pada Olimpiade Montreal 1976. Kala itu Leane meraih peringkat sembilan di pesta olahraga multievent itu dengan skor 2352. Skor ini menyamai rekor dunia pada masanya. Adapun di Tanah Air, Leane puluhan kali memecahkan rekor nasional.

Setelah pensiun, Leane sempat menjadi dosen Ilmu Gizi pada Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI). Selain itu, pada 2018, ia sempat mengemban amanah sebagai Direktur Medical & Doping Control Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee (INASGOC).

Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi) sempat memberikan penghargaan pada 17 Desember 2018 kepada Leane.

Baca juga: Jatim pertahankan juara umum panahan dengan koleksi tujuh emas

Sementara itu, Ketum Indonesian Olympian Association (IOA) Yayuk Basuki mengenang Almarhumah sebagai Srikandi Panahan Indonesia. Leane merupakan perempuan kedua Indonesia yang tampil di Olimpiade setelah Tjoeij Lin Alienilin pada 1972 (peringkat 37).

Yayuk pun menyampaikan rasa duka dengan wafatnya Leane.

“Semalam beliau wafat setelah tubuhnya tidak bisa menerima kemoterapi lagi,” kata Yayuk.

Yayuk yang juga Wakil Ketum KONI Pusat menilai bahwa negara berhutang budi kepadanya, tak hanya pada prestasinya semasa menjadi atlet namun juga setelah menjadi dokter ahli gizi.

Jenazah Leane disemayamkan di Rumah Duka Sentosa RSPAD Kamar K & L di Lantai 2. Menurut rencana jenasah akan diberangkatkan ke pemakaman keluarga di Sumatera Utara pada 25 November 2021.

Baca juga: Riau Ega masih ingin tampil di Olimpiade Paris 2024

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel